Optimasi Identitas Ecoregional Untuk Pembangunan Ekowisata Berkelanjutan

Sebuah Resume Webinar Nasional Ekowisata
18 Januari 2022


Ekowisata telah menjadi isu seksi yang banyak diperbincangkan saat ini. Eforia ekowisatapun muncul di berbagai kalangan, namun kompleksitas isu konservasi dalam pembangunan ekowisata semakin rumit dengan hadirnya ancaman terhadap kelestarian sumberdaya alam dan budaya daerah. Atas hal tersebut, paduan konsep identitas dan ecoregional menjadi penting untuk pembangunan ekowisata. Konsep identitas penting untuk menumbuhkan rasa memiliki terhadap lingkungan, sedangkan konsep ecoregional penting untuk memahami interaksi antar kelompok manusia dengan lingkungan daerahnya. Ekowisata sangat berpotensi untuk melestarikan keanekaragaman hayati, sebagai penciptaan lapangan pekerjaan bagi masyarakat adat dan masyarakat lokal serta mempromosikan budaya lokal dan produk daerah. Perspektif yang berbeda-beda tentang definisi, makna dan tujuan ekowisata perlu persamaan pemahaman dari para pemangku kepentingan.

Ekowisata merupakan alat dan bisnis konservasi masa depan. Sebagai industri yang memayungi semua bisnis, ekowisata berkontribusi untuk pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), dimana hasil akhir yang diharapkan adalah untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat yang sejalan dengan prinsip-prinsip pelestarian Sumberdaya Alam dan Budaya Daerah.

Webinar Nasional Ekowisata dengan tema “Optimasi Identitas Ecoregional Untuk Pembangunan Ekowisata Berkelanjutan” diselenggarakan pada tanggal 18 Januari 2022 oleh Program Studi Kehutanan yang dibuka oleh Dekan Sekolah Tinggi Ilmu Kehutanan (STIK) Pante Kulu, Banda Aceh Dr. Cut Maila Hanum, S.Hut, MP. Webinar ini dipandu oleh Yasser Premana, S.Hut, MP sebagai moderator, dan menghadirkan beberapa nara sumber sebagai pembicara, yaitu:

Dr. Aswita, S.Hut, MP (Akademisi Bid. Ekowisata dan Jasa Lingkungan, STIK Pante Kulu, Banda Aceh), menyampaikan materi dengan tema: Perancangan dan Pemanfaatan Identititas Ecoregional untuk Pembangunan Ekowisata. Identitas Ecoregional merupakan ciri khas ekologi daerah yang menjadi jati diri sekelompok masyarakat dalam satu batasan wilayah yang memiliki karakteristik ekologi yang relevan antara bentang alam, budaya dan etnis. Aswita menyampaikan bahwa identitas ecoregional perlu segera digaungkan untuk menjaga kelestarian sumberdaya alam dan budaya daerah dalam pembangunan ekowisata.

Bulman Satar, S.Sos (Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh), menyampaikan materi dengan tema: Pengembangan Destinasi Agrowisata Kebun Raya Rempah Aceh. Bulman menyampaikan bahwa Program Pengembangan Destinasi Agrowisata Kebun Raya Rempah Aceh adalah turunan dari program strategis nasional Jalur Rempah Nusantara Pemerintah Pusat melalui 6 lintas kementrian terkait. Destinasi Agrowisata Kebun Raya Rempah Aceh adalah program pionir dan sangat berpeluang menjadi program strategis nasional, pertama karena alasan bahwa konsep program ini tidak atau belum dikembangkan oleh daerah lain di Indonesia yang dikelola secara berkelanjutan. Sehingga layak menjadi representasi masa lalu, masa kini, dan masa depan kejayaan rempah nusantara.

Ir. Fikar W. Eda, M.Sn (Sastrawan dan Seniman Nasional), menyampaikan materi dengan tema: Wisata Berbasis Adat Budaya dan Kelstarian Lingkungan; Desember Kopi Gayo sebuah Opsi untuk mencipatkan ruang ekspresi sebagai bentuk dukungan dan mendorong pembangunan pariwisata dataran tinggi Gayo yang berbasis adat, budaya, sejarah/prasejarah dan kelestarian lingkungan. Menggerakkan komunitas dan warga mengelola sumber daya alam lingkungan sebagai bagian dan pembangunan bidang kepariwisataan. Kopi sebagai ikon dataran tinggi gayo, Fikar juga menegaskan bahwa “Kopi sebagai sumber kreativitas tanpa batas”.

Dr. Ir. Gunardi Djoko Winarno, M.Si (Akademisi dan Praktisi Ekowisata, Universtas Lampung) menyampaikan materi dengan tema: Eco Wildlife Tourism. Pengembangan ekowisata yang dilakukan oleh Gunardi melalui pendekatan konservasi gajah berbasis kajian yang kuat. Gajah memiliki daya tarik tersendiri dalam upaya pelestarian habitat dan species gajah yang menjadi modal pengembangan ekowisata. Pengembangan ekowisata dapat disesuaikan dengan perilaku dan ekologi gajah. Pengembangan ekowisata dapat disesuaikan dengan perilaku dan ekologi gajah. Distribusi obyek ekowisata di dalam home range gajah tersebar luas 

A. Hanan, SP, MM (Kadis LHK Aceh), menyampaikan materi dengan tema: Pengelolaan Hutan Aceh Fungsi konservasi, fungsi lindung maupun funsi produksi secara imbang dan lestari. Aceh memiliki luas hutan sekitar 3,5 jt ha, Pengelolaan Hutan Aceh bertujuan untuk memperoleh manfaat yang optimal dan serbaguna secara lestari yang tentunya ini menjadi modal yang kuat untuk pembangunan ekowisata di Aceh. Berbagai upaya telah dilakukan untuk mejaga kelestarian hutan Aceh, diantaranya Mempertahankan Kawasan Hutan dan tutupannya telah tertuang dalam RPJM Aceh tahun 2017 – 2022, yang diimplementasikan melalui Program Aceh Green, secara operasional telah disusun Rencana Pertumbuhan Hijau atau Green Grouwth Plan, Menjaga Kawasan hutan dan tutupan tersebut juga telah dilaksanakan melalui kebijakan konkret dengan pemberlakuan Moratorium Logging melalui Ingub No. 5 Tahun 2007 dan masih diberlakukan sampai saat ini. Untuk mendukung Ingub dimaksud, Pemerintah Aceh juga telah merekrut Tenaga Pengamanan Hutan (Pamhut) sebanyak 2.000 personil, sejak tahun 2007 dan terus berkurang 1.702 personil di tahun 2022.

Dedy Asriady, S.Hut, MP (Kepala Balai TN. Gunung Rinjani, NTB) menyampaikan materi dengan tema “Ekowisata Gunung Rinjani”. Gunung Rinjani merupakan 1o destinasi wisata dunia dan pendakian Gunung Rinjani merupakan destinasi pendakian kelas dunia. Rinjani memiliki luas 41.330 ha, menjadi “rumah” bagi 19 spesies mamalia, 8 spesies reptil, 8 spesies amfibi, 160 spesies burung, 25 spesies kupu-kupu, 447 spesies pohon, 59 spesies paku-pakuan, 117 spesies jamur, 80 spesies anggrek, 28 spesies liana, 6 spesies rotan dan 153 spesies tanaman obat. Rinjani juga menjadi Kawasan Strategis Pariwisata Nasional, Destinasi Pariwisata Prioritas UNESCO Global Geopark Cagar Biosfer Rinjani Lombok. 

Webinar ini juga dihadiri oleh peserta dari berbagai kalangan di seluruh Indonesia dari elemen Akademisi, Pemerintah, Private Sector, Media, Praktisi dan Pemerhati Wisata serta Masyarakat Umum. Beberapa tanggapan, pertanyaan dan masukan dari peserta Webinar antara lain disampaikan oleh: 1. Nikolas Kosigin (Dirut PT.Trifena Indonesia bergerak dibidang Pariwisata dan Penerbangan Carter) menyampaikan bahwa Aceh memiliki potensi ekowisata yang sangat besar untuk dikembangkan, salah satunya distinasi wisata pulau simelue sebagai pulau terluar Sumatera di Propinsi Aceh yang kaya akan Sumberdaya Alam dan Budaya yang bisa dikembangkan sebagai destinasi ekowisata internasional. 2. Sabaryani (Sekjen DPD Repdem Aceh) menyampaikan bahwa inisiatif besar untuk Pengembangan Ekowisata Simelue harus mendapatkan dukungan oleh semua pihak dan pelaksanaannya perlu melibatkan semua pihak terkait. 3. Rosmalia (Akademisi STI Kehutanan) menanyakan tentang bagaimana upaya pengelolaan hutan Aceh yang lestari agar dapat menjadi modal yang kuat bagi pengembangan ekowisata yang dapat dikelola secara berkelanjutan. Pada akhirnya harapan yang diinginkan dari pelaksanaan Webinar Nasional Ekowisata ini adalah terbangunnya kesepahaman para pihak tentang ekowisata, dan pentingnya optimasi identitas ecoregional dalam menyelamatkan sumberdaya alam dan budaya daerah untuk pembangunan ekowisata berkelanjutan. 



Naskah: Dr. Aswita, S. Hut, MP  | Koordinator Seminar Nasional Ekowisata


Ilustrasi: st.depositphotos

Monitor Konflik Satwa Liar Aceh Lewat Google My Maps

Interaksi negatif yang terjadi antara manusia dengan satwa liar terus meningkat akibat fragmentasi dan deforestasi; terputusnya koridor habitat.

Penanganan yang tidak komfrehensif telah mengakibatkan banyak satwa yang mengalami kematian dalam konflik dengan manusia.

Tim yang terdiri dari pegiat lingkungan, sekaligus kartografer Aceh baru-baru ini menginisiasi sebuah peta digital lewat Google My Maps.

Pemetaan wilayah konflik satwa liar Aceh kini menjadi sangat penting dalam memperkuat basis penyelesaian masalah konflik satwa di Aceh.

Silahkan klik Maps.



Kartografer:

| Agung Dwinurcahya | Lukmanul Hakim | Khairul Amri | Muhammad Fadhil | Alfarazi Kamal | Aljikri Yanto |

Ilustrasi: Vecteezy

Tumbuhan Liar dan Solusi Pangan

1980. Empat puluh dua tahun silam; saya berjalan bersama ibu di sebuah alur sungai kecil, memetik pakis dan tomat liar di sana. 168 kilometer dari ibu kota provinsi Banda Aceh, sebelum kebutuhan pangan dunia meningkat berkali lipat yang mengarah pada meluasnya ekspansi pertanian. Jauh sebelum super food menjadi marketing isu. Sebelum hutan dihancurkan.

Bertahun-tahun setelah itu, kita dikacaukan oleh sekolah bahwa pola transisi dari hutan ke pertanian, ke jasa dan seterusnya ke industri menjadi arah dari perkembangan ekonomi dan masyarakat. Sebuah pandangan keliru yang kini disesali oleh para ahli.

Catatan ini mencoba mengemukakan bahwa kompleksitas bentang alam tidak boleh terlalu disederhanakan seolah-olah kita terus memaksa orang untuk terus menggantungkan pangan pada hutan, melainkan memberi kesadaran agar orang-orang menyadari bahwa hutan selalu berperan penting bagi kehidupan, terutama terkait pangan dengan ketersediaan ekosistem yang stabil untuk mendukung produksi pertanian yang alami dan sehat.

Istilah super food kini ramai dibincangkan sebagai makanan sehat, unggul dan menjadi kelompok makanan yang sangat baik bagi kesehatan, beberapa jenis bahkan terbukti dapat mengurangi risiko munculnya penyakit berbahaya.

Super food sebenarnya adalah istilah marketing yang digunakan oleh masyarakat urban untuk pangan liar; sebuah upaya marketing baru yang bisa membuat makanan ini sangat mahal - yang nanti justru akan mendorong masyarakat lokal berhenti mengkonsumsinya demi untuk menjualnya ke kota. Butuh kehati-hatian dalam isu ini.

Tumbuhan liar tumbuh secara alami di bentang alam tanpa ditanam oleh manusia; ia tumbuh dengan baik di hutan, sungai dan rawa. Tetapi banyak juga yang tumbuh liar di pematangan sawah, seperti jenis Centella asiatica - sebelum herbisida diperkenalkan.

Trend ini tentu tidak perlu dipersoalkan, tetapi penting bagi kita untuk memiliki pengetahuan tentang tumbuhan mana yang bisa dikonsumsi dan bagaimana pengolahannya. Beberapa bisa dikonsumsi langsung, tetapi yang lainnya harus dimasak terlebih dahulu. 

Sebenarnya sangat banyak jenis pangan liar; diantaranya adalah pakis, ketumpang air, rebung, kacang-kacangan dan beragam buah-buahan liar. Keragaman jenis ini tidak bisa dipertahankan keberlangsungannya jika kita terus menerus memperkenalkan pertanian yang monokultur dan intensif. 

Selalu terdapat hubungan erat antara tutupan hutan dan konsumsi makanan. Jika dibandingkan dengan mereka yang tinggal di daerah pemukiman yang tidak lagi memiliki tutupan hutan, anak-anak yang tinggal bersinggungan langsung dengan bentang alam yang berhutan selalu lebih banyak mengkonsumsi buah-buahan liar dan sayuran lokal yang juga tumbuh liar. Keragaman konsumsi menjadi faktor penting pemenuhan nutrisi sehat.

Jawaban terhadap pertanyaan mengapa hutan penting dalam pola dan kecukupan konsumsi makanan sehat bagi masyarakat setempat? selalu penting untuk ditemukan dan dikemukakan secara lebih luas. Tidak terbatas pada ketersediaan sayur-sayuran, tetapi lebih lengkap lagi mencakup ikan-ikan lokal dan daging hewan lokal.

Memang ini tidak semudah dikatakan, apa lagi jika penghasilan dan daya beli meningkat; orang-orang akan cenderung membeli makanan di pasar, membeli makanan instan dengan kadar gula dan tinggi lemak.


ilustrasi: Vecteezy