Kumbang-kumbang membawa tanda

"Siapa yang dapat mendengar suara kumbang akan tahu bahwa hutan dapat menggetarkan kehidupan dengan penuh kesungguhan". 

Ia menceritakan dengan amat jelas, dan menyuguhkan bukti yang konkrit tentang bumi tempat manusia dan berbagai satwa dan tumbuhan hidup, baik yang besar maupun yang kecil; mikro organisme yang tak terlihat oleh mata sedang mengalami proses yang dapat membawa berakhirnya segala bentuk kehidupan yang kita saksikan selama ini.

1980, usia saya masih enam tahun. Tetapi ingatan tentang masa kanak-kanak itu masih jelas membekas; tidak ada sampah plastik, tidak ada kotak nasi dari gabus. Kadangkala halaman rumah diselimuti kabut embun di pagi hari.

Mungkin saya adalah generasi terakhir yang sempat melihat sungai tak tercemar, sungai tanpa senyawa-senyawa sintetik, sungai tanpa kaleng-kaleng sarden dan sampah pampers. Ini satu helaan nafas terakhir dari apa yang saya saksikan di masa lalu. 

Sekarang setelah manusia mengubah nilai-nilai yang paling mendasar di alam sekitar, atmosfer berubah yang diikuti oleh berubahnya iklim. Saya diingatkan oleh kehidupan masa kecil betapa jauh perbedaan semesta dahulu dengan yang sekarang. Dalam rentang waktu kurang dari satu generasi telah terjadi kerusakan yang sangat cepat.

Banyak satwa telah menghilang dari hutan yang kelihatannya banyak pohon-pohon besar dan menjulang tinggi. Begitu juga menghilangnya keanekaragaman hayati lainnya seperti pakis yang subur, dan anggrek yang indah.

Hutan yang penuh pohon namun sepi dari satwa sesungguhnya adalah hutan yang mati.

Saya mengamati apa yang terjadi malam hari, ketika pertama kali lampu jalan di pasang. Tidak dapat disangkal bahwa lampu jalan ini sangat berguna bagi pejalan di malam hari, dan kumbang-kumbang tertentu yang menyenangi cahaya beterbangan di sekitarnya. Akan tetapi peristiwa ini meninggalkan pertanyaan tentang kumbang-kumbang yang riang gembira meninggalkan kegelapan hutan. Keesokan paginya saya menemukan mereka telah menjadi mayat yang menumpuk di bawah tiang lampu.

Sambil merenungi sungai, kumbang dan lampu jalan, ada hal-hal yang menyengsarakan di samping hal-hal yang patut disyukuri.

Makhluk-makhluk kecil itu hanya sekelumit tragis dari sejuta tragis lainya ketika seluruh bentang alam tersentuh jejak kasar manusia. Namun kita masih merasa bahwa tidak perlu ada keprihatinan khusus sekarang.

Dan cerita semacam ini; yang tak dipedulikan tapi sebenarnya menyimpan sejumlah tanda.

Jauh di hilir sungai, di kota yang penuh lampu; berdiam sederet khalifah yang korup.


Images: iStock

0 komentar:

Posting Komentar