Hutan dan Obat Hilang Akal

"Kesempatan berjalan-jalan di hutan itu sebuah rahmat, kegemaran menanam pohon; sebuah kebahagiaan".

Saya 'menulis' kalimat ini dalam ingatan.

Di luar hutan, kita sering cerewet tentang bagaimana cara mengubah dunia menjadi lebih ramah dari dunia yang sekarang. Sementara gaya hidup kita telah begitu nyaman tanpa tanggung jawab sosial.

Suatu ketika seorang teman yang selama ini terlupa akan hutan, aroma daun serasah, harum tanah - mengeluhkan tentang gejala pikun yang di deritanya. Saya pun memberi saran, "pergilah ke hutan! tidurlah di sana selama beberapa hari, hutan mengandung kesembuhan".

Meski pun kemudian ia terdiam. Daun, serasah dan tanah: benda-benda nyata yang sering dipandang remeh, sebenarnya bisa memberi getaran pada hidup. Bukankah itu juga sederet anugerah, sebuah benda yang sah untuk dirasakan, untuk dipikirkan.

Hutan sebagai ekosistem berbasis lahan yang paling kompleks secara biologis, rumah bagi lebih dari 80 persen spesies hewan, tumbuhan dan serangga serta penyimpan karbon dalam jumlah yang sangat besar ini menjadi penyelamat dari banyak hal, juga darurat iklim.

Keanekaragaman hayati adalah hal yang perlu dijelaskan secara terus menerus, terutama kepada pengambil kebijakan ditengah giur investasi sumber pangan food estate di dalam kawasan hutan yang akhir-akhir ini mencuat. Sebuah hal mendasar bagi keberlangsungan kehidupan bumi.

Ahli pertanian harusnya menyadari bahwa produktivitas pertanian tidak akan berlangsung sempurna tanpa bantuan penyerbukan alami dari serangga yang berasal dari hutan. Ini adalah contoh yang paling jelas; bahwa sebagian besar penyerbuk bunga adalah serangga liar, termasuk 20.000 spesies lebah, yang bergantung pada keutuhan ekosistem beragam dan stabil. Saat ini 40 persen dari semua spesies invertebrata menghadapi kepunahan seiring penyusutan hutan alam.

Hal yang diperlukan sekarang adalah komitmen pemimpin negara dalam tindakan melindungi bentangan alam ini, ditengah inisiatif-inisiatif penyelamatan yang muncul di masyarakat. 

Sekiranya hutan masih mampu menyediakan kegelapannya, itu adalah wilayah terakhir kegaiban bersembunyi; dimana misteri 'kesembuhan ingatan' berada.

Sementara modernitas seringkali membuat kita hilang akal.


Image: Freepik

0 komentar:

Posting Komentar