Food Estate, Cerita air dan hutan yang terabaikan

Penyediaan kawasan hutan untuk tujuan food estate atau lumbung pangan baru adalah proyek yang memiliki resiko teramat tinggi terhadap keberlangsungan keanekaragaman hayati di Indonesia.

Indonesia memiliki catatan mengelola food estate pada masa lalu di Lampung yang menyisakan kegagalan dan kerusakan yang parah, dan pasca reformasi di Pulang Pisau Kalimantan Tengah. 

Semua pihak perlu mengingatkan tentang dampak lingkungan yang lebih serius ketika hutan-hutan menjadi sasaran dari proyek ini, dimana akan terjadi perubahan bentang alam dari hutan menjadi ladang industri pertanian modern, yang diikuti oleh kekacauan sistem pangan lokal, penghidupan, dan habitat yang terancam. 

Mitosnya adalah: Akan terbangun kesejahteraan ketika bertransisi dari hutan ke pertanian, ke manufaktur, yang berlanjut ke industri jasa. Para perancang telah mengabaikan input poduksi yang tinggi dengan menyederhanakan banyak faktor.

Mari kita uji...

Dapat digambarkan bahwa semakin besat tingkat produktivitas pertanian, akan sejalan dengan kebutuhan air pada tanaman. Pertanian besar sangat terkait dengan sumber air yang besar. Di sisi lain, kita memiliki pengetahuan lebih jauh mengapa hilangnya tutupan hutan berdampak besar pada ketersediaan air.

Hutan mengisi suplai uap air di atmosfer yang berlangsung setiap hari, mengangkat air dari akar dan melepasnya dari daun melalui transpirasi bersama dengan evaporasi dari lautan dan sumber air lain, proses ini memutar siklus air dan mengisi atmosfer dengan uap air.

Saat ini kita bisa melihat kilau uap air menggelembung naik di atas Amazon, Afrika tengah, atau Asia Tenggara melalui citra satelit. Sebuah ritme alami hutan menghembuskan uap air ke atmosfer. 70 persen kelembaban atmosfer dari wilayah permukaan lahan dihasilkan dari hutan; dibedakan dengan evaporasi dari danau atau sungai. (Baca: https://www.nature.com/articles/nature11983).

Aerosol dikeluarkan oleh pohon yang mengandung mikro partikel biologis yang tersapu ke dalam atmosfer. Hujan hanya dapat turun ketika air atmosfer terkondensasi menjadi butiran, dan partikel kecil ini mempermudahnya dengan memberi permukaan agar air terkondensasi.

Ketika tutupan hutan menghilang, hujan tidak akan terjadi, atau frekuensi curahnya menjadi sedikit.

Jika produktivitas pertanian sangat terkait dengan ketersediaan air, mengapa kita menghancurkan sumbernya (hutan) ?

Dan ketika kita melihat kabut pagi muncul dari hutan, kita menjadi saksi dari siklus proses air ini terjadi setiap hari. Tetapi jika bentangan ini diubah, kita akan menyaksikan kakacauannya.

Afrizal Akmal, 2020

Photo: esa.int




0 komentar:

Posting Komentar