Inisiatif

Donasi

Hutan Wakaf

Tindakan konservasi secara langsung melalui pembelian lahan kritis. Diperuntukkan untuk membangun hutan yang berfungsi secara ekologis, baik sebagai sumber mata air, maupun sebagai penyerap karbon, tempat bersarangnya burung-burung, lebah madu, primata dan species lainnya

Model Konseptual
Pohon Inti

Menanam

Ficus

Salah satu pohon inti yang ditanam di hutan wakaf adalah jenis Ficus atau Ara. Tanaman ini selain akarnya yang baik untuk infiltrasi air, buahnya juga sangat disukai burung dan primata.

Model Konseptual
Relaxing

Mendayung

Kayak

Menikmati sensasi mendayung kayak di Sungai Jantho sekitar Hutan Wakaf setelah menanam pohon

Model Konseptual
Merchandise

T-Shirt

Donasi

Merchandise ini adalah bagian dari fundraising untuk mendukung inisiatif konservasi Hutan Wakaf di Aceh disamping pengumpulan dana tunai

Buy Now
Photography

Foto

Lingkungan Hidup

Selain menanam pohon, para peminat fotografi bisa memotret lanskap alam, burung, vegetasi dan kanopi hutan di hutan wakaf dan sekitarnya.

Model Konseptual
Inisiatif

Donasi

Hutan Wakaf

Tindakan konservasi secara langsung melalui pembelian lahan kritis. Diperuntukkan untuk membangun hutan yang berfungsi secara ekologis, baik sebagai sumber mata air, maupun sebagai penyerap karbon, tempat bersarangnya burung-burung, lebah madu, primata dan species lainnya

Model Konseptual
Inisiatif

Donasi

Hutan Wakaf

Tindakan konservasi secara langsung melalui pembelian lahan kritis. Diperuntukkan untuk membangun hutan yang berfungsi secara ekologis, baik sebagai sumber mata air, maupun sebagai penyerap karbon, tempat bersarangnya burung-burung, lebah madu, primata dan species lainnya

Model Konseptual

bercerita tentang hutan, Mengedarkan Komunike

  • Mengedarkan komunike

  • Refleksi peristiwa

  • Membongkar mitos-mitos

  • Inisiatif konservasi

  • Donasi hutan wakaf

Official Blog

Hutan Wakaf, Gerak Relawan Merawat Bumi

Berfokus pada target lahan kritis dan lahan potensial, para relawan lingkungan hidup mencoba membangun inisiatif konservasi, yang kemudian dinamakan inisiatif konservasi hutan wakaf. Tujuan besarnya adalah untuk menjamin sumber daya hutan bagi generasi di masa depan. Inisiatif ini dibangun di Jantho Aceh Besar, 60 menit perjalanan darat dari ibukota Banda Aceh.

Awalnya hanya mengumpulkan dana seratus ribu rupiah setiap bulannya untuk membeli lahan. Namun dalam perkembangannya, penggalangan dana publik menjadi lebih dinamis tanpa batas nominal. Berlangsung sejak didirikan pada 2012 hingga sekarang. Lahan yang sudah tersedia seluas 4,7 hektar, dan telah dibangun hutan di atasnya.

Semangat ini muncul atas kepedulian terhadap ancaman konversi hutan yang terus berlangsung secara masif terhadap hutan alam. Luasnya hamparan lahan kritis di Jantho adalah faktor rentan terhadap melimpahnya air permukaan pada musim hujan dan kemudian menjadi sangat kering pada musim kemarau. Jika lahan-lahan ini dapat dikelola dengan baik menjadi hutan, maka akan memiliki nilai dan manfaat ekologi, hidrologi dan ekonomi yang besar dikemudian hari, terutama cadangan karbon yang dihasilkan.

Model konseptual hutan wakaf ini menjadi tawaran konsep dalam mencermati dinamika pengelolaan hutan di tanah air saat ini, di tengah banyaknya inisiatif-inisiatif lain; baik positif maupun negatifnya, baik kesuksesan maupun kegagalan. Hutan wakaf memadukan konservasi hutan dengan instrumen wakaf yang dibangun di atas lahan wakaf yang sah menurut syariat, sebagai sadaqah jariyah, tidak boleh dipindah milikkan atau dikonversi fungsinya menjadi fungsi lain. Maka dari hutan wakaf berupa produk non kayu, misalnya buah dan bibit-bibit yang dihasilkannya, pemanfaatan jasa lingkungan yang dihasilkan oleh hutan, misalnya potensi udara, pengembangan energi terbarukan seperti mikrohidro, atau pengembangan ekowisata berbasis masyarakat, atau pengembangan biofarmakologi berbasis pengobatan herbal di hutan tersebut dapatlah dimanfaatkan, baik untuk kepentingan umum maupun kepentingan khusus yang dikelola oleh pengelola wakaf, dengan prinsip pengelolaan berkelanjutan, dan apa saja manfaat tersebut akan menjadi shadaqah bagi pemilik wakaf tersebut.

Hutan wakaf Aceh juga telah dimanfaatkan sebagai tempat penelitian biodiversity oleh siswa dan mahasiswa, menjadi tempat riset bagi para generasi dan dapat menjadi destinasi konservasi berbasis syariah. Catatan-catatan media yang membahas gerakan hutan wakaf ini telah diterbitkan. Nurul Izzati dalam buku Story of Change Kepingan Cerita Negeri (174 halaman) yang diterbitkan Connecting Local Initiatives (COLONI) Indonesia, 2017-2020 menulis; Hutan Wakaf Untuk Menyelamatkan Paru-Paru Dunia.  Maulida Illiyani (Peneliti PMB LIPI) dalam Pusat Riset Masyarakat dan Budaya, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) pada 2017, menulis; Hutan Wakaf Untuk Kelestarian Alam.  Tim Pengabdian Masyarakat Fakultas Hukum Universitas Indonesia yang dipimpin Nunung Widyaningsih dalam official website law.ui.ac.id menulis laporannya pada tahun 2019 tentang hutan wakaf dan sosialisasinya. Sebuah Working Paper: Hutan Wakaf, Cerita Dari Tanah Rencong, dipublikasi pada 2021 (14 halaman), diterbitkan oleh Waqf Center for Indonesian Development and Studies (WaCIDS).

Dengan semangat relawan dan konsep yang sederhana, hutan wakaf menjadi gerakan masa depan, visioner, prospektif dan futuristik; yang manfaat besarnya tidak langsung dirasakan sekarang, tetapi di masa depan. Sebuah rerefleksi pesan kearifan lingkungan, shadaqah jariyah, konservasi dan aspek rahmatan lil'alamin.








Laporan Hutan Wakaf Hari Ini


 Laporan perkembangan Hutan Wakaf Jantho 20 Maret 2022 oleh Razuardi Ibrahim | Volunteer Hutan Wakaf.

Optimasi Identitas Ecoregional Untuk Pembangunan Ekowisata Berkelanjutan

Sebuah Resume Webinar Nasional Ekowisata
18 Januari 2022


Ekowisata telah menjadi isu seksi yang banyak diperbincangkan saat ini. Eforia ekowisatapun muncul di berbagai kalangan, namun kompleksitas isu konservasi dalam pembangunan ekowisata semakin rumit dengan hadirnya ancaman terhadap kelestarian sumberdaya alam dan budaya daerah. Atas hal tersebut, paduan konsep identitas dan ecoregional menjadi penting untuk pembangunan ekowisata. Konsep identitas penting untuk menumbuhkan rasa memiliki terhadap lingkungan, sedangkan konsep ecoregional penting untuk memahami interaksi antar kelompok manusia dengan lingkungan daerahnya. Ekowisata sangat berpotensi untuk melestarikan keanekaragaman hayati, sebagai penciptaan lapangan pekerjaan bagi masyarakat adat dan masyarakat lokal serta mempromosikan budaya lokal dan produk daerah. Perspektif yang berbeda-beda tentang definisi, makna dan tujuan ekowisata perlu persamaan pemahaman dari para pemangku kepentingan.

Ekowisata merupakan alat dan bisnis konservasi masa depan. Sebagai industri yang memayungi semua bisnis, ekowisata berkontribusi untuk pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), dimana hasil akhir yang diharapkan adalah untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat yang sejalan dengan prinsip-prinsip pelestarian Sumberdaya Alam dan Budaya Daerah.

Webinar Nasional Ekowisata dengan tema “Optimasi Identitas Ecoregional Untuk Pembangunan Ekowisata Berkelanjutan” diselenggarakan pada tanggal 18 Januari 2022 oleh Program Studi Kehutanan yang dibuka oleh Dekan Sekolah Tinggi Ilmu Kehutanan (STIK) Pante Kulu, Banda Aceh Dr. Cut Maila Hanum, S.Hut, MP. Webinar ini dipandu oleh Yasser Premana, S.Hut, MP sebagai moderator, dan menghadirkan beberapa nara sumber sebagai pembicara, yaitu:

Dr. Aswita, S.Hut, MP (Akademisi Bid. Ekowisata dan Jasa Lingkungan, STIK Pante Kulu, Banda Aceh), menyampaikan materi dengan tema: Perancangan dan Pemanfaatan Identititas Ecoregional untuk Pembangunan Ekowisata. Identitas Ecoregional merupakan ciri khas ekologi daerah yang menjadi jati diri sekelompok masyarakat dalam satu batasan wilayah yang memiliki karakteristik ekologi yang relevan antara bentang alam, budaya dan etnis. Aswita menyampaikan bahwa identitas ecoregional perlu segera digaungkan untuk menjaga kelestarian sumberdaya alam dan budaya daerah dalam pembangunan ekowisata.

Bulman Satar, S.Sos (Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh), menyampaikan materi dengan tema: Pengembangan Destinasi Agrowisata Kebun Raya Rempah Aceh. Bulman menyampaikan bahwa Program Pengembangan Destinasi Agrowisata Kebun Raya Rempah Aceh adalah turunan dari program strategis nasional Jalur Rempah Nusantara Pemerintah Pusat melalui 6 lintas kementrian terkait. Destinasi Agrowisata Kebun Raya Rempah Aceh adalah program pionir dan sangat berpeluang menjadi program strategis nasional, pertama karena alasan bahwa konsep program ini tidak atau belum dikembangkan oleh daerah lain di Indonesia yang dikelola secara berkelanjutan. Sehingga layak menjadi representasi masa lalu, masa kini, dan masa depan kejayaan rempah nusantara.

Ir. Fikar W. Eda, M.Sn (Sastrawan dan Seniman Nasional), menyampaikan materi dengan tema: Wisata Berbasis Adat Budaya dan Kelstarian Lingkungan; Desember Kopi Gayo sebuah Opsi untuk mencipatkan ruang ekspresi sebagai bentuk dukungan dan mendorong pembangunan pariwisata dataran tinggi Gayo yang berbasis adat, budaya, sejarah/prasejarah dan kelestarian lingkungan. Menggerakkan komunitas dan warga mengelola sumber daya alam lingkungan sebagai bagian dan pembangunan bidang kepariwisataan. Kopi sebagai ikon dataran tinggi gayo, Fikar juga menegaskan bahwa “Kopi sebagai sumber kreativitas tanpa batas”.

Dr. Ir. Gunardi Djoko Winarno, M.Si (Akademisi dan Praktisi Ekowisata, Universtas Lampung) menyampaikan materi dengan tema: Eco Wildlife Tourism. Pengembangan ekowisata yang dilakukan oleh Gunardi melalui pendekatan konservasi gajah berbasis kajian yang kuat. Gajah memiliki daya tarik tersendiri dalam upaya pelestarian habitat dan species gajah yang menjadi modal pengembangan ekowisata. Pengembangan ekowisata dapat disesuaikan dengan perilaku dan ekologi gajah. Pengembangan ekowisata dapat disesuaikan dengan perilaku dan ekologi gajah. Distribusi obyek ekowisata di dalam home range gajah tersebar luas 

A. Hanan, SP, MM (Kadis LHK Aceh), menyampaikan materi dengan tema: Pengelolaan Hutan Aceh Fungsi konservasi, fungsi lindung maupun funsi produksi secara imbang dan lestari. Aceh memiliki luas hutan sekitar 3,5 jt ha, Pengelolaan Hutan Aceh bertujuan untuk memperoleh manfaat yang optimal dan serbaguna secara lestari yang tentunya ini menjadi modal yang kuat untuk pembangunan ekowisata di Aceh. Berbagai upaya telah dilakukan untuk mejaga kelestarian hutan Aceh, diantaranya Mempertahankan Kawasan Hutan dan tutupannya telah tertuang dalam RPJM Aceh tahun 2017 – 2022, yang diimplementasikan melalui Program Aceh Green, secara operasional telah disusun Rencana Pertumbuhan Hijau atau Green Grouwth Plan, Menjaga Kawasan hutan dan tutupan tersebut juga telah dilaksanakan melalui kebijakan konkret dengan pemberlakuan Moratorium Logging melalui Ingub No. 5 Tahun 2007 dan masih diberlakukan sampai saat ini. Untuk mendukung Ingub dimaksud, Pemerintah Aceh juga telah merekrut Tenaga Pengamanan Hutan (Pamhut) sebanyak 2.000 personil, sejak tahun 2007 dan terus berkurang 1.702 personil di tahun 2022.

Dedy Asriady, S.Hut, MP (Kepala Balai TN. Gunung Rinjani, NTB) menyampaikan materi dengan tema “Ekowisata Gunung Rinjani”. Gunung Rinjani merupakan 1o destinasi wisata dunia dan pendakian Gunung Rinjani merupakan destinasi pendakian kelas dunia. Rinjani memiliki luas 41.330 ha, menjadi “rumah” bagi 19 spesies mamalia, 8 spesies reptil, 8 spesies amfibi, 160 spesies burung, 25 spesies kupu-kupu, 447 spesies pohon, 59 spesies paku-pakuan, 117 spesies jamur, 80 spesies anggrek, 28 spesies liana, 6 spesies rotan dan 153 spesies tanaman obat. Rinjani juga menjadi Kawasan Strategis Pariwisata Nasional, Destinasi Pariwisata Prioritas UNESCO Global Geopark Cagar Biosfer Rinjani Lombok. 

Webinar ini juga dihadiri oleh peserta dari berbagai kalangan di seluruh Indonesia dari elemen Akademisi, Pemerintah, Private Sector, Media, Praktisi dan Pemerhati Wisata serta Masyarakat Umum. Beberapa tanggapan, pertanyaan dan masukan dari peserta Webinar antara lain disampaikan oleh: 1. Nikolas Kosigin (Dirut PT.Trifena Indonesia bergerak dibidang Pariwisata dan Penerbangan Carter) menyampaikan bahwa Aceh memiliki potensi ekowisata yang sangat besar untuk dikembangkan, salah satunya distinasi wisata pulau simelue sebagai pulau terluar Sumatera di Propinsi Aceh yang kaya akan Sumberdaya Alam dan Budaya yang bisa dikembangkan sebagai destinasi ekowisata internasional. 2. Sabaryani (Sekjen DPD Repdem Aceh) menyampaikan bahwa inisiatif besar untuk Pengembangan Ekowisata Simelue harus mendapatkan dukungan oleh semua pihak dan pelaksanaannya perlu melibatkan semua pihak terkait. 3. Rosmalia (Akademisi STI Kehutanan) menanyakan tentang bagaimana upaya pengelolaan hutan Aceh yang lestari agar dapat menjadi modal yang kuat bagi pengembangan ekowisata yang dapat dikelola secara berkelanjutan. Pada akhirnya harapan yang diinginkan dari pelaksanaan Webinar Nasional Ekowisata ini adalah terbangunnya kesepahaman para pihak tentang ekowisata, dan pentingnya optimasi identitas ecoregional dalam menyelamatkan sumberdaya alam dan budaya daerah untuk pembangunan ekowisata berkelanjutan. 



Naskah: Dr. Aswita, S. Hut, MP  | Koordinator Seminar Nasional Ekowisata


Ilustrasi: st.depositphotos