Inisiatif

Donasi

Hutan Wakaf

Tindakan konservasi secara langsung melalui pembelian lahan kritis. Diperuntukkan untuk membangun hutan yang berfungsi secara ekologis, baik sebagai sumber mata air, maupun sebagai penyerap karbon, tempat bersarangnya burung-burung, lebah madu, primata dan species lainnya

Model Konseptual
Pohon Inti

Menanam

Ficus

Salah satu pohon inti yang ditanam di hutan wakaf adalah jenis Ficus atau Ara. Tanaman ini selain akarnya yang baik untuk infiltrasi air, buahnya juga sangat disukai burung dan primata.

Model Konseptual
Relaxing

Mendayung

Kayak

Menikmati sensasi mendayung kayak di Sungai Jantho sekitar Hutan Wakaf setelah menanam pohon

Model Konseptual
Merchandise

T-Shirt

Donasi

Merchandise ini adalah bagian dari fundraising untuk mendukung inisiatif konservasi Hutan Wakaf di Aceh disamping pengumpulan dana tunai

Buy Now
Photography

Foto

Lingkungan Hidup

Selain menanam pohon, para peminat fotografi bisa memotret lanskap alam, burung, vegetasi dan kanopi hutan di hutan wakaf dan sekitarnya.

Model Konseptual
Inisiatif

Donasi

Hutan Wakaf

Tindakan konservasi secara langsung melalui pembelian lahan kritis. Diperuntukkan untuk membangun hutan yang berfungsi secara ekologis, baik sebagai sumber mata air, maupun sebagai penyerap karbon, tempat bersarangnya burung-burung, lebah madu, primata dan species lainnya

Model Konseptual
Inisiatif

Donasi

Hutan Wakaf

Tindakan konservasi secara langsung melalui pembelian lahan kritis. Diperuntukkan untuk membangun hutan yang berfungsi secara ekologis, baik sebagai sumber mata air, maupun sebagai penyerap karbon, tempat bersarangnya burung-burung, lebah madu, primata dan species lainnya

Model Konseptual

bercerita tentang hutan, Mengedarkan Komunike

  • Mengedarkan komunike

  • Refleksi peristiwa

  • Membongkar mitos-mitos

  • Inisiatif konservasi

  • Donasi hutan wakaf

Official Blog

Kumbang-kumbang membawa tanda

"Siapa yang dapat mendengar suara kumbang akan tahu bahwa hutan dapat menggetarkan kehidupan dengan penuh kesungguhan". 

Ia menceritakan dengan amat jelas, dan menyuguhkan bukti yang konkrit tentang bumi tempat manusia dan berbagai satwa dan tumbuhan hidup, baik yang besar maupun yang kecil; mikro organisme yang tak terlihat oleh mata sedang mengalami proses yang dapat membawa berakhirnya segala bentuk kehidupan yang kita saksikan selama ini.

1980, usia saya masih enam tahun. Tetapi ingatan tentang masa kanak-kanak itu masih jelas membekas; tidak ada sampah plastik, tidak ada kotak nasi dari gabus. Kadangkala halaman rumah diselimuti kabut embun di pagi hari.

Mungkin saya adalah generasi terakhir yang sempat melihat sungai tak tercemar, sungai tanpa senyawa-senyawa sintetik, sungai tanpa kaleng-kaleng sarden dan sampah pampers. Ini satu helaan nafas terakhir dari apa yang saya saksikan di masa lalu. 

Sekarang setelah manusia mengubah nilai-nilai yang paling mendasar di alam sekitar, atmosfer berubah yang diikuti oleh berubahnya iklim. Saya diingatkan oleh kehidupan masa kecil betapa jauh perbedaan semesta dahulu dengan yang sekarang. Dalam rentang waktu kurang dari satu generasi telah terjadi kerusakan yang sangat cepat.

Banyak satwa telah menghilang dari hutan yang kelihatannya banyak pohon-pohon besar dan menjulang tinggi. Begitu juga menghilangnya keanekaragaman hayati lainnya seperti pakis yang subur, dan anggrek yang indah.

Hutan yang penuh pohon namun sepi dari satwa sesungguhnya adalah hutan yang mati.

Saya mengamati apa yang terjadi malam hari, ketika pertama kali lampu jalan di pasang. Tidak dapat disangkal bahwa lampu jalan ini sangat berguna bagi pejalan di malam hari, dan kumbang-kumbang tertentu yang menyenangi cahaya beterbangan di sekitarnya. Akan tetapi peristiwa ini meninggalkan pertanyaan tentang kumbang-kumbang yang riang gembira meninggalkan kegelapan hutan. Keesokan paginya saya menemukan mereka telah menjadi mayat yang menumpuk di bawah tiang lampu.

Sambil merenungi sungai, kumbang dan lampu jalan, ada hal-hal yang menyengsarakan di samping hal-hal yang patut disyukuri.

Makhluk-makhluk kecil itu hanya sekelumit tragis dari sejuta tragis lainya ketika seluruh bentang alam tersentuh jejak kasar manusia. Namun kita masih merasa bahwa tidak perlu ada keprihatinan khusus sekarang.

Dan cerita semacam ini; yang tak dipedulikan tapi sebenarnya menyimpan sejumlah tanda.

Jauh di hilir sungai, di kota yang penuh lampu; berdiam sederet khalifah yang korup.


Images: iStock

Hutan dan Obat Hilang Akal

"Kesempatan berjalan-jalan di hutan itu sebuah rahmat, kegemaran menanam pohon; sebuah kebahagiaan".

Saya 'menulis' kalimat ini dalam ingatan.

Di luar hutan, kita sering cerewet tentang bagaimana cara mengubah dunia menjadi lebih ramah dari dunia yang sekarang. Sementara gaya hidup kita telah begitu nyaman tanpa tanggung jawab sosial.

Suatu ketika seorang teman yang selama ini terlupa akan hutan, aroma daun serasah, harum tanah - mengeluhkan tentang gejala pikun yang di deritanya. Saya pun memberi saran, "pergilah ke hutan! tidurlah di sana selama beberapa hari, hutan mengandung kesembuhan".

Meski pun kemudian ia terdiam. Daun, serasah dan tanah: benda-benda nyata yang sering dipandang remeh, sebenarnya bisa memberi getaran pada hidup. Bukankah itu juga sederet anugerah, sebuah benda yang sah untuk dirasakan, untuk dipikirkan.

Hutan sebagai ekosistem berbasis lahan yang paling kompleks secara biologis, rumah bagi lebih dari 80 persen spesies hewan, tumbuhan dan serangga serta penyimpan karbon dalam jumlah yang sangat besar ini menjadi penyelamat dari banyak hal, juga darurat iklim.

Keanekaragaman hayati adalah hal yang perlu dijelaskan secara terus menerus, terutama kepada pengambil kebijakan ditengah giur investasi sumber pangan food estate di dalam kawasan hutan yang akhir-akhir ini mencuat. Sebuah hal mendasar bagi keberlangsungan kehidupan bumi.

Ahli pertanian harusnya menyadari bahwa produktivitas pertanian tidak akan berlangsung sempurna tanpa bantuan penyerbukan alami dari serangga yang berasal dari hutan. Ini adalah contoh yang paling jelas; bahwa sebagian besar penyerbuk bunga adalah serangga liar, termasuk 20.000 spesies lebah, yang bergantung pada keutuhan ekosistem beragam dan stabil. Saat ini 40 persen dari semua spesies invertebrata menghadapi kepunahan seiring penyusutan hutan alam.

Hal yang diperlukan sekarang adalah komitmen pemimpin negara dalam tindakan melindungi bentangan alam ini, ditengah inisiatif-inisiatif penyelamatan yang muncul di masyarakat. 

Sekiranya hutan masih mampu menyediakan kegelapannya, itu adalah wilayah terakhir kegaiban bersembunyi; dimana misteri 'kesembuhan ingatan' berada.

Sementara modernitas seringkali membuat kita hilang akal.


Image: Freepik

Food Estate, Cerita air dan hutan yang terabaikan

Penyediaan kawasan hutan untuk tujuan food estate atau lumbung pangan baru adalah proyek yang memiliki resiko teramat tinggi terhadap keberlangsungan keanekaragaman hayati di Indonesia.

Indonesia memiliki catatan mengelola food estate pada masa lalu di Lampung yang menyisakan kegagalan dan kerusakan yang parah, dan pasca reformasi di Pulang Pisau Kalimantan Tengah. 

Semua pihak perlu mengingatkan tentang dampak lingkungan yang lebih serius ketika hutan-hutan menjadi sasaran dari proyek ini, dimana akan terjadi perubahan bentang alam dari hutan menjadi ladang industri pertanian modern, yang diikuti oleh kekacauan sistem pangan lokal, penghidupan, dan habitat yang terancam. 

Mitosnya adalah: Akan terbangun kesejahteraan ketika bertransisi dari hutan ke pertanian, ke manufaktur, yang berlanjut ke industri jasa. Para perancang telah mengabaikan input poduksi yang tinggi dengan menyederhanakan banyak faktor.

Mari kita uji...

Dapat digambarkan bahwa semakin besat tingkat produktivitas pertanian, akan sejalan dengan kebutuhan air pada tanaman. Pertanian besar sangat terkait dengan sumber air yang besar. Di sisi lain, kita memiliki pengetahuan lebih jauh mengapa hilangnya tutupan hutan berdampak besar pada ketersediaan air.

Hutan mengisi suplai uap air di atmosfer yang berlangsung setiap hari, mengangkat air dari akar dan melepasnya dari daun melalui transpirasi bersama dengan evaporasi dari lautan dan sumber air lain, proses ini memutar siklus air dan mengisi atmosfer dengan uap air.

Saat ini kita bisa melihat kilau uap air menggelembung naik di atas Amazon, Afrika tengah, atau Asia Tenggara melalui citra satelit. Sebuah ritme alami hutan menghembuskan uap air ke atmosfer. 70 persen kelembaban atmosfer dari wilayah permukaan lahan dihasilkan dari hutan; dibedakan dengan evaporasi dari danau atau sungai. (Baca: https://www.nature.com/articles/nature11983).

Aerosol dikeluarkan oleh pohon yang mengandung mikro partikel biologis yang tersapu ke dalam atmosfer. Hujan hanya dapat turun ketika air atmosfer terkondensasi menjadi butiran, dan partikel kecil ini mempermudahnya dengan memberi permukaan agar air terkondensasi.

Ketika tutupan hutan menghilang, hujan tidak akan terjadi, atau frekuensi curahnya menjadi sedikit.

Jika produktivitas pertanian sangat terkait dengan ketersediaan air, mengapa kita menghancurkan sumbernya (hutan) ?

Dan ketika kita melihat kabut pagi muncul dari hutan, kita menjadi saksi dari siklus proses air ini terjadi setiap hari. Tetapi jika bentangan ini diubah, kita akan menyaksikan kakacauannya.

Afrizal Akmal, 2020

Photo: esa.int




Definisi Hutan Wakaf

"Hutan wakaf adalah hutan yang dipelihara dalam keadaan dibangun (hutan alam) atau hutan buatan yang ditanami kembali di lahan yang merupakan tanah wakaf yang sah menurut syariat. Sebagai lahan shadaqah jariah, tidak boleh dipindah milikkan. Maka dari hutan wakaf berupa produk non kayu, misalnya buah, karet dan bibit-bibit yang dihasilkannya, pemanfaatan jasa lingkungan yang dihasilkan oleh hutan, misalnya potensi udara, pengembangan energi terbarukan seperti mikrohidro, atau pengembangan ekowisata berbasis masyarakat, atau pengembangan biofarmakologi berbasis pengobatan tradisional / herbal di hutan tersebut.dapatlah dimanfaatkan, baik untuk kepentingan umum maupun kepentingan khusus yang dikelola oleh pengelola wakaf, dengan prinsip pengelolaan berkelanjutan, dan apa saja manfaat tersebut akan menjadi shadaqah bagi pemilik wakaf tersebut. "