Tanggapan-tanggapan Pembaca

"Tanggapan pembaca adalah unsur dalam pembentukan makna. Maka penulis memungut kembali beberapa tanggapan dari email dan social media account, agar tidak terserak. Perhatian pada respon intelektual dan emosional pembaca penting sebagai penarik pelatuk, meletuskan makna yang diam di dalam teks penulisnya. Sebuah catatan dapat mencapai totalitas ketika pembacanya menjadi hidup, berpartisipasi dalam menghasilkan makna; lebih jauh lagi, ia memberi efek. Di sini penulis merasa tidak sendirian".


Liza Fathia |
Blog sederhana ini telah bermetamorfosis menjadi sebuah situs yang sangat menarik dan menjadi referensi banyak pihak khususnya yang berhubungan dengan lingkungan.

Selamat siang di indonesia. Saya sudah bisa baca sedikit di halaman ini. Saya senang melihat kelengkapan informasinya dan status komitmennya. Semuanya bagus banget dan penuh semangat. Memang saya baru baca hanya sebagian kecil. Tapi nanti pasti saya akan melanjutkan baca karena disini dicatat banyak hal yang menarik. 
Salam dari Jerman, 
Bettina

"Asap". Memang perlu komitmen global sesama pengusaha perkebunan mungkin ya.

"Asap". Semoga bencana asap cepat berlalu dan negara pun bersegera sadar bahwa pendapatan negara dari perkebunan terkuras habis untuk menanggulangi bencana asap.

Koalisi Peduli Hutan Aceh "Hutan Atjeh" :
"Placebo Qanun Kehutanan" Ulasan menarik. Sebuah tantangan untuk dijawab oleh Rancangan Qanun Aceh tentang Kehutanan. Semoga terpecahkan semacam kegundahan "penulis" (jika dapat dimaknai demikian ulasannya). Ulasan ini penting kiranya menjadi catatan kritis para pemegang palu di DPR Aceh. Selain itu, mungkin dapat dijadikan pisau asah para kritikus Raqan Kehutanan Aceh.

Yusra Habib Abdul Ghani
"Lingka konflik SDA" ...tulisannya bagus, kritis, realitistis dan agresif, perlu dipublish ke media massa.

"Azanuddin Kurnia" lestariozen@gmail.com

"Placebo Qanun Kehutanan". Benar yang Akmal tulis. Semoga bisa merubah mindset, terutama pengambil kebijakan sektor kehutanan.

"dewiarilaha@gmail.com" dewiarilaha@gmail.com
“Si Bijak dan Nasehatnya”. Menyentuh sekali cerita ini, Bang Akmal. Andai saya bisa menulis dan bercerita sebaik anda. 
Salam, 
DKA

"Israr Ardiansyah" israrardi@gmail.com
“Sisi Lain”. Bung Akmal, Terima kasih atas tulisannya yang dalam. Tulisan itu bisa membuat saya teringat suasana Aceh yang pernah saya lihat ketika saya kecil, ketika saya menyeberang berjalan kaki di sejumlah sungai sementara bus yang saya tumpangi harus naik rakit penyeberangan, di masa Krueng Baroe masih jernih airnya sehingga saya bisa mengambil batu berbentuk bundar di dasarnya. 
Semoga saudara-saudaraku di sana tetap semangat memperjuangkan Aceh yang sejahtera dan lestari,
Salam,
Kasihan rakyat: punya harapan tapi tak berdaya. Bersuara tapi tak didengar. Cuma menjadi penonton dan mungkin setahun sekali menjadi komoditas program yang realisasinya entah apa, kapan, di mana, atau bagaimana atau lima tahun sekali saat suara mereka diminta-minta yang meski coba dipertahankan sebagai sebuah alat tawar namun akhirnya gagal dipertahankan karena desakan sejengkal perut yang butuh disuapi.
Salam sengsara
Sebuah realitas kekinian yang terus mengantarkan rakyat ini ke gerbang dan ruang bencana. Pemerintah dan rakyat yang ikut mengatasi bencana hanya bisa melakukan dengan cara bagi-bagi nasi bungkus, atau menyerahkan sekilo atau sekarung beras. Sementara penyebab bencana tidak dapat lagi diobati. Nagan Raya, Aceh barat Daya yang dilanda banjir beberapa hari yang lalu adalah bukti nyata dari bencana yang berulang dan lahir dari perbuatan orang-orang yang merusak tata guna hutan dan lahan. Sawit telah menjadi penyebab massal, karena ingin mengejar dolar. Hmm, memang sangat menggalaukan kita. Tetapi siapa peduli?
Salam
Tabrani Yunis

Bang akmal, trimakasih krn telah berbagi pengalaman luar biasa ini. Saya bisa merasakan apa yang dialami, walo tak sebanyak bang akmal. Sukses terus demi aceh yang bermartabah.

"Mahdi IGA" mahdi.iga@gmail.com
Salam Bang akmal, memang sangat menyakitkan bila dualisme kepribadian terus bercongkol di hati. Kita slalu harus disibukkan berperang dengan diri sendiri, sedangkan kita hidup di kehidupan yang nyata yang sudah sangat sarat masalah dan kepentingan sesa'at. Sa'at ini untuk membuat sebuah kebijakan sepertinya tidak perlu lagi orang-orang yang bijak, kurasa cukup hanya orang-orang yang katanya berpengalaman, berilmu pengetahuan tinggi dan punya taring sa'at menyeringai,,,, Kalau bencana Gempa; tsunami yang dahsyah saja sudah tidak mapan lagi menjadi sebuah peringatan bagaimana lagi. Malah sekarang bencana sudah menjadi sebuah tren untuk dikelola menjadi sebuah kepentingan sesa'at.... makanya mungkin Allah telah mengabulkan keinginan kita dengan terus memberikan kita bencana....WaAllahubissawab...
salam
Mahdi

Mantap. 
Jangan lupa bahwa kapitalisme bergerak dengan bentuk piramid sejak zaman romawi. Berupaya menghancurkan sosialisme islam. Masing-masing kita ada di lapis mana pada 'piramid' itu? Mampukah untuk tidak mengikuti gurita nya? Teringat dgn seorang tutor sewaktu di Bapenas, WNI berdarah belanda. Mantan knsultan monev proyek-proyek LN. 'Penghancuran' indonesia, berjalan halus melalui paket-paket fisik, sistem dan pemikiran asing.

"Dewa Gumay" dewagumay@gmail.com
Begini hari masih diskusi KAPITALISME, “keniscayaan atau utopis kata Karl Marx”. Hahaha ....

"Azanuddin Kurnia" lestariozen@gmail.com
Luar biasa tulisan Bung Akmal ini. Bahagia sekali dapat membacanya dan sempat ngobrol dengan Bung Akmal, Ilham, dan kawan-kawan rombongan di Kutacane waktu itu. Semangat yang dibawa oleh Bung Akmal semoga bisa menjadi cemeti bagi pribadi kita masing-masing terutama para pengambil kebijakan yang diberikan wewenang oleh negara...
Azan

"Adie Usman" adie.usman@gmail.com
Penghargaan saya yg tinggi untuk ide-ide bernas dan brillian Bung Akmal...
Saleum,
Adie Usman

"Ridwan Nyak Baik" agambaik2000@gmail.com
“Sisi Lain”. Reportase yang inspiratif, bernuansa likok gaya jurnalisme sastrawi. Saya yang membaca serasa hadir dalam rombongan...
Kalau ada sedikit merah kulit cabai terselip di sela gigi adalah baris kalimat ketiga (terakhir) pada alinia  keempat yang tertulis: "....cukup sederhana dan apa adanya, jauh dari kesan mewah."
Frase "jauh dari kesan mewah" berarti sebenarnya isinya mewah dong.  Kesannya aja jauh dari mewah. Padahal frase sebelumnya "sederhana dan apa adanya." Kelanjutan frase itu, lugas saja: "jauh dari kemewahan." Jadi tidak pakai kata "kesan"
Wallahu'alam bissawab.
Saleum,
RnB

"Aulina Adamy" loly.98@gmail.com
Terima kasih Bang Akmal atas tulisan-tulisan yang selalu memberi semangat.
Demokrasi di Aceh sudah menyediakan 55.75% kemenangan untuk Gubernur dan Wakil Gubernur, plus 43 kursi untuk Partai Aceh di DPRD I dari 69 kursi yang tersedia. 
Secara De Facto dan De Jure, Gubernur, Wakil Gubenur dan segenap anggota DPRD Aceh sudah mempunyai senjata yang paling ideal untuk membrantas illegal logging.
Saya tidak bisa membayangkan apabila hendak membrantas illegal logging tanpa kondisi power dan politik yang ideal. Dan masyarakat Aceh sudah memberikan itu pada mereka.
Dalam berita terbaru Gubernur pun menuding ada keterlibatan aparat.
Tetapi apakah akan ada langkah konkrit dalam pemerintahan baru? Semoga masyarakat tidak perlu menunggu jawabannya sampai pohon terakhir telah ditebang.
Salam, 

"sukmawardana@yahoo.com" sukmawardana@yahoo.com
Bencana alam akibat penghancuran Kawasan Ekosistem Leuser terus terjadi. Nyaris setiap tahun di setiap daerah yang masuk ke dalam kawasan ini. Aceh Tamiang, Aceh Timur, Aceh Selatan, dan kini kembali Aceh Tenggara.
Ironinya, kita benar-benar seperti tak pernah mengambil hikmah atas musibah yang sebagian besar di antaranya selalu merenggut nyawa manusia ini. Kebijakan yang ada masih dalam konsep nan indah dan matang. Implementasinya tak pernah terlihat hasilnya.
Saleum,
Guntur AS

"hmasyrafah@gmail.com" hmasyrafah@gmail.com
Well written comments... 

"ayi_jufridar@yahoo.com" ayi_jufridar@yahoo.com
Salam kenal,
Saya Ayi Jufridar, wtw Jurnal Nasional utk Aceh. Selama ini, hanya membaca berbagai argumen di milis GA ttg rugi untungnya rencana pembangunan jalan di Ladia Galaska. 
Sy pikir, sayang kalau argumen cerdas itu, terutama dampak proyek itu, hanya jadi konsumsi jamaah milis. Kalau diizinkan, sy mengutip argumen Bang Akmal utk berita di Jurnal Nasional.

Teuku Masrizar mas_rimba@yahoo.co.id
Dear all friends
menarik menyimak judul Vampir ladia galaska
Asumsi terbangun bahwa vampir eropa telah menggantikan pocong di Indonesia. perbedaannya adalah vampir walau telah jadi mayat masih memakai jas, berbeda debgan pocong hanya memakai kain putih yang dililit. ini menggambarkan bahwa vampir adalah kaya dan pocong miskin. gambaran  ini barang kali vampir merupakan aliran ekonomi kapitalis dan pocong aliran ekonomi sosialis. Mungkin ini yang menjadi keresahan afrizal akmal.
Aceh akan dikelola oleh pemilik modal yang kemudian membelah2 aceh secara spacial dalam penguasaaan SDA. keresahan ini patut diapresiasi karena selama ini kita sering gagal dlm pengelolaan sda secara berkelanjutan  dan lestari, justru meninggalkan residu yang berdampak buruk bagi hidup dan kehidupan manusia.
salam damai
kumas


Dewa Gumay" dewagumay@gmail.com
1. Ada yang tahu berapa jumlah korban jiwa akibat banjir dan tanah longsordi hilir DAS yang berhulu di Ladia Galaska, sejak tahun 2000 an?. (Inimerugikan manusia atau bukan?).
2. Ada yang tahu berapa jumlah kerugian infrastruktur akibat banjir dantanah longsor (catatan Bank Dunia, kerugian akibat Banjir Tamiang Akhir 2006 mencapai 2 Triliun, nilai ini setara dengan 20% dari APBA Aceh pada tahun tersebut). Catatan lain ada kerusakan Jalan, Irigasi, Ruma Sekolah, Fasilitas Kesehatan (Ini merugikan manusia atau bukan?). 
3. Ada yang tahu defisit air dan kerusakan DAS yang mempengaruhi pertanian, pertanian mempengaruhi hajat hidup manusia banyak, gagal panen. (Ini merugikan manusia atau bukan?). 
4. Ada yang tahu berapa jumlah korban manusia akibat konflik antara Satwa dan Manusia, Habitat satwa yang terus dibabat menyebabkan perebutan ruang, korban nya juga manusia. (Ini merugikan Manusia atau bukan?). Karena sering sekali dapat thread email tentang ini, [tadi malam] mencoba lihat spatial overlay ruas jalan, lalu DAS, Jenis Tanah, Lereng, Curah Hujan, dan sebaran Penduduk, serta fungsi kawasan hutan menurut SK Menhut 170/2000. Tingkat lereng >45% hampir mencapai 65% wilayah, jenis tanah nya peka, curah hujan tinggi, populasi rendah, rata rata berada di fungsi hutan lindung. (Coret saja soal hutan lindung kalau jadi debat menyoal manusia dan hewan). Lihat saja parameter sebelumnya, lalu bayangkan jika ada bukaan lahan pada karakteristik wilayah seperti itu?. Jadi apakah ketika pembangunan jalan seperti ini ditolak tidak Antroposentris, tidak memanusiakan manusia, silahkan baca point 1,2,3,4 itu untuk manusia semua. Maka saran saya gunakanlah Spatial/ melihat sesuatu dari ruang, karena jika ingin bicara tentang Ekologi harus pasti berpikir secara keruangan atau batas ekosistem nya, bukan batas administrasi atau berpikir dampak pembangunan jalan hanya terjadi disekitar jalan.
Analisis ruang adalah melatih berpikir luas, dengan berpikir luas mudah mudahan terhindar dari berkesimpulan secara sempit apalagi dengan percaya diri bicara filosofi Antroposentrisme yang dalam filsafat lingkungan itu termasuk kedalam Etika Ekologi Dangkal atau Memisahkan antara Manusia dan Alam, bukankah orang kebencanaan juga bicara Mitigasi dan Adaptasi, itu artinya Antroposentris tidak berlaku, ketika mengakui upaya mitigasi dan adaptasi maka kita mengakui bahwa alam bagian manusia. Manusia yang mengadaptasi dan memitigasi alam untuk kepentingan manusia itu sendiri, dan ini berlaku juga untuk ekologi kita memitigasi dan mengadaptasi.
Thanks,
DG

"Ibnu Rusydy" ;ibenroes@gmail.com:
Salam bang Akmal,
Dalam kontek pembangunan jalan jaring laba2 ini rasanya kita hrs menganut filosofi antroposentris, dmn kebijakan yg diambil terhadap ekologi/lingkungan berdasarkan kepentingan manusia. Mudah2an saja yg dimaksud kepentingan manusia adalah manusia yg memerlukan akses jalan yg cepat sekitar kawasan tersebut dan bukan kepentingan cukong kayu. Saya yakin pikiran dan opini kita semua akan berubah ketika kita sendiri yg tinggal disekitar Ladia Galaska. Yg mnjadi tugas kita bersama adalah menjaga supaya tidak ada penebangan pohon setelah akses jalan dibuka. Ini emang berat namun pihak lsm dan pemerntah bisa pelan2 melibatkan dan memberi pnjelasan kpd masyarakat akan pentingny hutan bagi kehidupan anak cucu kita.
Wassalam,
 Ibnu R

Virza Sasmitawidjaja ;vsasmitawidjaja@yahoo.com.au;
Ulasan singkat yang bagus Bang...
Selamat untuk rakyat Aceh yg telah memilih pemimpin pro perusak lingkungan!
 Virza

"C nouva Miranda" c_nouvamiranda@yahoo.co.id
woii..akmal buat buku..kereen
apalagi klo opan boleh dapat satu bukunya hehe..
congraz...sobat smg terus berkarya dan sukses

Alhamdulillah semakin nyata juga kontribusi bapak ini pada kehidupan yang semakin formal ini

aulina adamy ;loly.98@gmail.com;
“Di Bawah Demokrasi Yang Tragis”. Wow....catatan yang sangat jernih. 
Terima kasih, catatan kecil yang bermakna ditengah hiruk-pikuk pesta "kebetulan" yang dipaksakan...
Kalau saya punya Facebook maka saya akan klik "like this"
Salam,

"Saifuddin Bantasyam" saifuddin_bantasyam@yahoo.com
“Di Bawah Demokrasi Yang Tragis”. Cacatan kritis singkat Akmal itu sungguh sangat menggugah. Saya yakin, catatan itu tak muncul secara tiba-tiba, melainkan dari proses melihat Aceh dg mata hati dan mata kepala. Semuanya memang tak berakhir hanya karena pilkada sudah usai. Bahkan dengan cara yg lain kita bisa katakan, bahwa segala sesuatu harus segera dimulai begitu pemimpin baru terpilih, ditetapkan.  Di bawah demokrasi yg tragis itu, sangat-lah penting dibaca oleh orang yg lebih banyak, karena itu mungkin perlu di-Serambi-Indonesia-kan. 

ccde.aceh@gmail.com

DiLuar MoU“. Sangat reflektif dan inspiratif serta membutuhkan daya nalar untuk mencernanya. 
Salam damai
Tabrani Yunis

Khairul 'Azmi <cempala...@gmail.com>

"Selamatkan Hutan, Cuma Judul Doang!”. Jika kita telaah secara jeli pasal demi pasal pada UUPA tahun 2006, ternyata pembahasan tentang permasalahan SDA sektor Kehutanan sangatlah sedikit, yang lebih banyak adalah pembahasan yang terkait dengan SDA mineral/energi forsil [tambang]. Kata-kata tentang "Kehutanan" cuma ada 2 saja yang termaktub dalam UUPA tersebut. Menurut hematnya saya, pengelolaan SDA Aceh di UUPA cuma terfokus ke permasalahan SDA mineral. Maka wajar jika selama ini permasalahan Kehutanan "mungkin" tidak begitu dianggap begitu penting bila dibandingkan dengan permasalahan tambang.
Munculnya banyak izin KKP di Aceh yang arealnya berada dalam kawasan hutan, ternyata belum satupun memiliki izin pinjam pakai kawasan hutan dari pihak Kementerian Kehutanan [coba lihat info dan peta Perkebangan Izin Pakai Kawasan hutan untuk Pertambangan versi Kemenhut mulai tahun 2006 s/d juni 2011].
Mudah-mudahan teman2 dapat melakukan kajian kembali secara dalam ttg UUPA tahun 2006, khususnya yang terkait dengan permasalahan Pengelolaan SDA. Jika permasalahan kehutanan masih dianggap kurang terakomodasi di UUPA tersebut, berarti UUPA tersebut masih memerlukan penyempurnaan melalui proses Amandement. Mungkinkah amandement terhadap UUPA dilakukan?
Salam,
Khairul Azmi
Sumatra Eco-community

"ven alone" <ven_...@yahoo.com.sg>
Seulawah Dalam Nalar Instan”. Semoga kepala Dinas Kehutanan Aceh membaca tulisan ini.
salam REVOLUSI
Efendi Isma 

Taqwaddin Husin <taqwadd...@yahoo.co.id>
Seulawah Dalam Nalar Instan”. lapor aja ke OMBUDSMAN REPUBLIK INDONESIA Perwakilan Aceh..... 
Jika ada laporan masyarakat, Pihak Ombudsman akan minta penjelasan resmi sesuai dengan perundang-undangan dan fakta pada pihak yang dilaporkan. Diskusi atau saling melemparkan opini saja tidak mengurangi, apalagi menyelesaiakan masalah. Pendekatan juridis formal kadangkala harus ditempuh untuk mengeliminasi masalah. Silakan datang ke kantor kami di Jln T. Lamgugob No 17 Banda Aceh. 
Salam
Taqwaddin

Taqwaddin Husin <taqwadd...@yahoo.co.id>
“Tata Ruang Feodal. Essay terbaik minggu ini. Nilai "A" untuk Akmal... 

syarwan ahmad <syarwan2...@yahoo.com>
“Tata RuangFeodal”. Ya bagus tapi payah dipahami karena idenya bercampur aduk.
BW
Syarwan

Fadila Ibra
“Tata Ruang Feodaldan bahasanya terlalu tinggi....
harus benar-benar di resap kedalam kepala
:D

“Kayu Tak Bertuan”. Bung Akmal, itulah yg sedang terjadi di negeri ini, semuanya sdh menggurita. Sulit memutus rantainya bahkan yg mau memutus rantai bisa putus duluan. Tapi tdk boleh patah semangat, harapan kebaikan tetap msih ada wlu perjalanannya msh panjang..
Trims
Azan Orlando

---

Silahkan memberi tanggapan melalui email: bloghutantersisa@gmail.com
atau mengisi kolom tanggapan pembaca yang tersedia.



Web forms powered by 123ContactForm.com | Report abuse