MAP OF HUTAN WAKAF 2019



Komunitas Hutan Wakaf terus melakukan upaya memperluas hutan wakaf sebagai bentuk diaspora - baik perluasan area maupun pengembangan konseptualnya, maka tidak salah bila para volunteer terus melakukan update informasi kepada khalayak. Semoga upaya-upaya ini terus diterima dan mendapat apresiasi yang lebih luas.

Salam Visioner...


Silahkan berbagi link maps berikut untuk memudahkan siapa saja yang ingin berkunjung ke hutan wakaf.
https://www.google.com/maps/place/Hutan+Wakaf+Aceh+Area+II/@5.2860609,95.6340335,755m/data=!3m1!1e3!4m5!3m4!1s0x3040671925300129:0x1a5d4d7f85c7b029!8m2!3d5.2860556!4d95.6362222

Berjuang Menuju Kedaulatan

"Paska damai, serbuan dari luar begitu kencangnya ke Aceh, saat itu saya dan teman teman berfikir keras apa yang bisa kita lakukan untuk melawannya. Maka lahirlah buku Adat Berdaulat setelah berfikir selama 10 tahun" demikian  Affan Ramli tanpa banyak basa basi pada Akmal Senja malam itu.

Pertemuan berharga dan bernas ini tak sengaja direncanakan. Berawal dari pesan singkat WhatsApp yang masuk ke gawai saya. Affan bertanya soal sahabat lama kami, lalu berujung pada janji minum kopi. Singkat kata kami diskusi banyak hal lebih kurang dua jam.

Saya bicara soal gerakan baru yang saya temukan di tengah kawan kawan komunitas lingkungan di Banda Aceh dan Aceh Besar yang gigih berjuang mewujudkan hutan wakaf sebagai upaya menyelamatkan hutan yang tersisa.

Di lain sisi, Affan dan teman temannya juga tak kalah gigihnya menyebarkan ide soal adat berdaulat sebagai formula penyelamatan dan pengelolaan SDA Aceh yang bersumber dari warisan indatu. Upaya ini semata untuk menyelamatkan harta terakhir Aceh.

Diskusi yang awalnya hanya berdua, kami lanjutkan ke Kanvas tempat yang biasa digunakan sebagai posko teman teman Hutan Wakaf berkumpul.

Affan berinisiatif mengajak Fikri, anak muda Aceh yang telah sukses berkarier di sebuah lembaga negara di Jakarta, namun memutuskan mundur karena ingin fokus membangun Aceh.

Maka jadilah malam kami menjadi malam panjang dengan diwarnai diskusi yang hangat.
Akmal sebagai salah satu inisiator dan relawan hutan wakaf seperti biasa menjelaskan dengan ringkas mengapa wakaf menjadi instrumen yang digunakan dalam menyelamatkan ekosistem, "Karena ini adalah tradisi lama yang sudah mulai hilang, kita khawatir anak anak muda kita tidak lagi mengenal apa itu wakaf". Terangnya.

Affan menambahkan bahwa dalam doktrin sufisme yang kita kenal bahwa seseorang dilarang menguasai harta secara berlebih lebihan, maka wakaf adalah bentuk dari pengejawantahan nilai nilai tersebut.

Rifki sendiri, memandang bahwa apa yang ditulis oleh Affan  dalam buku Adat Berdaulat menemukan konteksnya dalam diskursus wakaf ini, yaitu soal keshalehan sosial kita.

Saya sendiri, dan seorang teman lainnya lebih banyak mendengar dan sesekali menimpali diskusi merek. Pertemuan malam ini  menjadi semacam reuni penyegaran dan penyegaran ide ide bagi kami semua.

Akmal mengatakan diskusi ini sangat menarik, Fikri dan kami semua sepakat. Sesudah ini harus terus lahir kerja kerja yang saling menguatkan dan melengkapi, karena kita telah lelah mendorong banyak akademisi untuk memproduksi ilmu pengetahuan dengan menggali apa yang ada di dalam dirinya. Kita tak mungkin melakukan copy paste peradaban barat atau bangsa lain bulat bulat dan memaksakannya di sini.

Di awal perkenalan, saya mengatakan bahwa Affan adalah pemikir, Akmal mengingatkan saya, "Ya berfikir adalah Bekerja".

Tabik para guree!

| Sri Wahyuni |