Renungan Alam

Pagi tadi - Minggu, 15.07.18, Metro TV menyiarkan tentang ancaman gagal panen persawahan Aceh Barat, dampak kesulitan air di sana. Pertengahan 2017, Aceh Besar juga mengalami hal serupa. Tersirat kita kita gagal memberdayakan air untuk ragam keperluan.

Di sisi lain kondisi lahan gersang terbiarkan tanpa tumbuhan sebagai penahan (unsur perlambatan) air agar tidak cepat terbuang. Salah satunya terlihat di kawasan perbukitan Blang Bintang hingga Krueng Raya, Aceh Besar.

Menariknya, terdapat lekukan berupa lembah-lembah kecil dalam jumlah besar di kawasan gersang itu. Secara visual, lembah-lembah kecil itu berpotensi memperlancar air hujan terbuang ke laut.

Idealnya, air hujan yang turun pada waktu tertentu tidak boleh terbuang sebelum berproses di daratan, seperti menyusup ke dalam tanah, menguap di daratan, dan lain sebagainya.

Untuk melakukan upaya 'me-lama-kan' tugas air di daratan tidaklah terlalu sulit. Modal utamanya hanyalah 'kepedulian' dan 'kesediaan'.

Kepeduliaan dalam artian menyimpulkan kondisi negatif yang terjadi, sedangkan kesediaan boleh dipahami sebagai penyiapan sumberdaya untuk berbenah.

Upaya pembenahan dapat dilakukan dengan cara-cara sederhana yang tidak membutuhkan pemikiran terlalu rumit dan biaya yang relatif besar. Artinya, persoalan tidak sulit untuk diatasi dan tidak akan selesai dengan keluhan dan hujatan.

Bravo Hutan Wakaf....

| Razuardi Essex |

0 komentar:

Posting Komentar