Karunia Sunyi

Saya menyukai kesunyian dengan sepoi angin, mendengar suara burung pagi di antara daun. Matahari yang memberi bayang pada pohon. Ya, kesunyian mengandung karunia.

Rasa ini tentu saja tidak bisa dijelaskan pada mereka yang cemas bila tak melakukan apa-apa, orang yang tak mengerti bagaimana suara air di daun, orang yang cepat-cepat dengan waktu yang dihitung.

Di dunia yang riuh, orang berdiskusi ber jam-jam. Menampik karunia dengan deadline, dikejar dan mengejar.

Zaman resah pada lomba cepat, bekerja dan bekerja untuk hasil. Cerewet: tak sempat, tak ada waktu untuk ini, untuk itu. Bertindak tanpa renungan. Hanya ada teriak, ini aku sudah ini, sudah itu.

Maka saya menyukai kesunyian, sebab kesunyian bukanlah kesendirian, kesunyian tidak sepi. Ia mengandung karunia.

| Afrizal Akmal |.