Kreasi Hutan Wakaf


Catatan Razuardi ESSEX 


Tatkala konsep 'Hutan Wakaf' diusung, tahun 2012, oleh beberapa rekan relawan dibawah Sang Deklarator, Akmal Senja dan Aceh Indiphoto, relatif tiada bantahan. Kalaupun ada, bahasan hanya seputar teknis pelaksanaannya saja. 

Konsep itu terus berkembang dari aspek pengimplementasiannya, hingga saat ini relawan Komunitas Hutan Wakaf telah menanam ribuan pohon di berbagai tempat. Sasaran yang sedang menjadi perhatian sekarang, yakni suatu hamparan seluas 1 hektar di Jantho, Aceh Besar, yang dibeli dari sumbangan para donatur.

Konsep 'Hutan Wakaf' ini cukup sederhana, yakni dengan mengembalikan hak lingkungan melalui penanaman berbagai flora di atas lahan yang legal sebagai milik lingkungan. Tatkala keberadaan lahan telah termiliki oleh para pihak tertentu dan dalam kawasan itu pula dibutuhkan hamparan hijau terjaga maka Komunitas Hutan Wakaf berusaha mencari solusi agar dapat membebaskan lahan dimaksud sesuai kemampuan yang ada, agar dapat dihijaukan.

Kepemilikan lahan beserta flora di atasnya menjadi milik alam tanpa batas waktu, sementara jika didapati hasil dari hutan wakaf itu, sepenuhnya menjadi hak dari masyarakat desa setempat. Kondisi serupa ini telah terlihat di 'Hutan Wakaf Jantho', yakni dengan hadirnya segerombolan lebah madu hutan yang berkualitas baik.

Malam kemarin (10.06.17), bersama beberapa kerabat, Akmal Senja, Bettina, Zulfadli Zulfadli, Azhar Aceh Indiephoto, dan Agus, konsep 'Hutan Wakaf' diperluas menjadi upaya diaspora. Maksud upaya ini adalah memberi kesempatan kepada donatur dari berbagai tempat untuk mewakafkan lahannya agar dihijaukan dan beralih kepemilikan menjadi milik alam.

Semoga gagasan 'Hutan Wakaf' ini terus berkembang dari aspek luasan dan dapat dijadikan model untuk membuktikan tingkat keberpihakan khalayak terhadap lingkungan.

photo | istimewa