Hutan Wakaf Untuk Dunia



...Bawalah ide konservasi ini kepada dunia untuk merevolusionerkan konservasi hutan
|Bettina Grallert|

Hutan Wakaf Storytelling



Hutan wakaf storytelling adalah sebuah unit program dari komunitas hutan wakaf untuk belajar bersama tentang teknik atau kemampuan dalam menceritakan sebuah kisah, pengaturan adegan, event, dan juga dialog. Dalam kegiatan ini lebih fokus ke segmen videografi dan photografi. Peserta diharapkan mampu menguasai teknik-teknik storytelling lewat media video atau foto untuk menyampaikan pesan-pesan lingkungan yang menggugah dan menyenangkan.

Karunia Sunyi

Saya menyukai kesunyian dengan sepoi angin, mendengar suara burung pagi di antara daun. Matahari yang memberi bayang pada pohon. Ya, kesunyian mengandung karunia.

Rasa ini tentu saja tidak bisa dijelaskan pada mereka yang cemas bila tak melakukan apa-apa, orang yang tak mengerti bagaimana suara air di daun, orang yang cepat-cepat dengan waktu yang dihitung.

Di dunia yang riuh, orang berdiskusi ber jam-jam. Menampik karunia dengan deadline, dikejar dan mengejar.

Zaman resah pada lomba cepat, bekerja dan bekerja untuk hasil. Cerewet: tak sempat, tak ada waktu untuk ini, untuk itu. Bertindak tanpa renungan. Hanya ada teriak, ini aku sudah ini, sudah itu.

Maka saya menyukai kesunyian, sebab kesunyian bukanlah kesendirian, kesunyian tidak sepi. Ia mengandung karunia.

| Afrizal Akmal |. 




Cerita Berjumpa Harimau

Catatan Fachruddin Mangunjaya

Setidaknya dalam dua bulan ini saya dipertemukan dengan dua peristiwa berdekatan dengan harimau liar. Pertama di hutan wakaf Aceh, pertama kalinya saya mencium bau harimau dan bekas foot print baru, disaksikan bersama Akmal Senja, bulan Juni lalu.

Dan bulan Juli ini, datuk belang harimau malaya, juga mempertujukkan lenguhannya ketika kami berjalan di hutan Lindung Tasik Kenyir, Terengganu Malaysia, di dengarkan bersama Akmal Arif (namanya Akmal juga), terima kasih saya mendapatkan pengalaman berharga. Harimau di dua kawasan menunjukkan isyarat keberadaannya.




Show Window Hutan Wakaf



"Mudah-mudahan ini akan menjadi show window, menjadi contoh. Orang akan melihat ini sebagai inisiatif yang positif dan akan diikuti", | Fachruddin Mangunjaya, 2017 |.

Skenario Dan Model Konseptual Hutan Wakaf

Hutan Wakaf adalah inisiatif konservasi berbasis wakaf. Sebuah inisiatif bersama yang awalnya berupa tim kecil dengan empat orang, sekarang telah berkembang menjadi groups. Tawaran konsep hutan wakaf ini berpeluang untuk diapresiasi baik secara ilmiah akademis maupun ilmiah aplikatif.

Untuk pilot project, dijadwalkan akan berlangsung 5 sampai 8 tahun, dengan penggalangan donasi publik. Empat orang telah bekerja volunteer sebagai koordinator. admin dan pengelola dana (fundraising) bagi program ini, dan yang lainnya mencurahkan jaringan serta finansialnya.

Misi
Konservasi secara langsung melalui pembelian lahan kritis. Diperuntukkan untuk membangun hutan yang berfungsi secara ekologis, baik sebagai sumber mata air, maupun sebagai penyerap karbon, ketersediaan buah-buahan dan tanaman obat, bahkan kayu untuk papan keranda, tempat bersarangnya burung-burung, lebah madu, primata dan species lainnya. Seterusnya akan diwakafkan dan disertifikatkan atas nama semua orang yang telah menyumbang.

Tujuan
Menjamin tersedianya sumber daya hutan bagi generasi di masa depan.

Model Konseptual
Pertumbuhan penduduk dan kepentingan kapital yang semakin tinggi akan lahan telah memberi tekanan yang lebih serius terhadap lahan yang seharusnya dikonservasi. Banyak status lahan berubah fungsi.

Ancaman utama terhadap hutan selama ini adalah konversi langsung untuk pembuatan pemukiman, jalan, perkebunan besar dan lainnya. Hektaran hutan yang dikelola negara sewaktu-waktu bisa saja dikonversi oleh rezim yang tengah berkuasa, apalagi dengan sebidang lahan yang dimiliki secara pribadi oleh masyarakat. Walau pun negara sebenarnya juga melarang konversi pada lahan-lahan tertentu, namun tidak ada jaminan bahwa rezim berikutnya tidak akan merubah aturan hukum yang telah ada.

Kondisi target kami terfokus pada lahan kritis dan lahan potensial. Jika lahan kritis dibiarkan dan tidak ada perlakuan perbaikan, maka keadaan itu tidak bermanfaat bagi ekologi, hidrologi dan ekonomi masyarakat. Sedangkan lahan potensial adalah lahan yang belum dimanfaatkan dan jika dikelola akan mempunyai nilai dan manfaat ekologi, hidrologi dan ekonomi yang besar.

Kedua kondisi target tersebut jika disediakan dan diperuntukkan bagi tersedianya sumber daya hutan untuk generasi mendatang melalui instrumen wakaf, pasti akan memberikan harapan yang lebih besar dalam merefleksikan pesan kearifan lingkungan, shadaqah jariyah, konservasi dan aspek rahmatan lil'alamin.

Hutan wakaf adalah salah satu tawaran dalam mencermati dinamika pengelolaan hutan yang selama ini secara faktual masih didasarkan pada pendekatan sekularistik dan ateistik. Padahal ada potensi besar yang berpeluang diakomodasi dalam masyarakat di tanah air yang dominan beragama Islam. 

Doktrin ekologis yang Islami adalah sebuah peluang untuk diterapkan, dengan harapan pelestarian hutan akan lebih mudah diterima dan tidak ditentang, dengan suatu keyakinan sosial komunitas muslim bahwa nilai dan motivasi spiritual menjadi dasar penerapan.
Sebuah inisiatif yang kami namakan "Hutan Wakaf" sedang dirancang dan dihadirkan secara nyata dalam pembangunan berkelanjutan. Instrumennya adalah pengelolaan berdasarkan prinsup kelestarian, dalam Islam disebut wakaf.

Urgensi wakaf berupa hutan adalah sebuah pertimbangan terhadap ancaman krisis lingkungan yang terus meningkat, terutama dampak dari deforestasi yang tak terkendali. Hal ini perlu mendapat perhatian lebih dari ummat Islam karena menyangkut upaya vital menjaga kelangsungan planet bumi dan penghuninya, baik untuk kehidupan yang tengah berlangsung, maupun untuk generasi mendatang.

Kegiatan dan Pengelolaan
Awalnya adalah pengumpulan dana seratus ribu rupiah per orang setiap bulannya, untuk membeli tanah dan membangun hutan di atasnya. Dalam perkembangannya, penggalangan dana publik menjadi lebih dinamis tanpa membatasi nominal.
Sumbangan atau konstribusi bagi hutan wakaf, bisa dikirim melalui: 

Bank Muamalat Indonesia, Cabang 241. 
Nomor Rekening Bersama 
(Joint account 'and'): 2410022467 
An. Azhar dan Afrizal Akmal.

Bila dana sumbangan telah terkumpul sebanding dengan harga lahan, maka dana sumbangan ini akan dicairkan serta akan dibelikan lahan seluas beberapa hektar untuk pilot project, seterusnya akan dibangun hutan di atasnya sebelum diwakafkan.
Untuk menjaga transparansi penggalangan dana ini, maka setiap bulannya atau minimal tiga bulan sekali akan dilampirkan print out rekening donasi melalui mail groups dan media sosial lainnya.

Secara khusus bergabung dalam diskusi seputar inisiatif ini, bisa mengirim permintaan invite ke email groups hutan wakaf melalui admin; hutanwakaf@gmail.com 
Milis hutan wakaf: https://groups.google.com/forum/#!forum/hutan_wakaf 
Kontak Kami: 081360200711

# Pada tanggal 8 Januari 2017, panitia persiapan lahan telah membeli 1 (satu) hektar lahan di Jantho, Aceh Besar; senilai 15.000.000 rupiah sebagai pilot project, untuk seterusnya akan dibangun hutan di atasnya sebelum diwakafkan.

Kreasi Hutan Wakaf


Catatan Razuardi ESSEX 


Tatkala konsep 'Hutan Wakaf' diusung, tahun 2012, oleh beberapa rekan relawan dibawah Sang Deklarator, Akmal Senja dan Aceh Indiphoto, relatif tiada bantahan. Kalaupun ada, bahasan hanya seputar teknis pelaksanaannya saja. 

Konsep itu terus berkembang dari aspek pengimplementasiannya, hingga saat ini relawan Komunitas Hutan Wakaf telah menanam ribuan pohon di berbagai tempat. Sasaran yang sedang menjadi perhatian sekarang, yakni suatu hamparan seluas 1 hektar di Jantho, Aceh Besar, yang dibeli dari sumbangan para donatur.

Konsep 'Hutan Wakaf' ini cukup sederhana, yakni dengan mengembalikan hak lingkungan melalui penanaman berbagai flora di atas lahan yang legal sebagai milik lingkungan. Tatkala keberadaan lahan telah termiliki oleh para pihak tertentu dan dalam kawasan itu pula dibutuhkan hamparan hijau terjaga maka Komunitas Hutan Wakaf berusaha mencari solusi agar dapat membebaskan lahan dimaksud sesuai kemampuan yang ada, agar dapat dihijaukan.

Kepemilikan lahan beserta flora di atasnya menjadi milik alam tanpa batas waktu, sementara jika didapati hasil dari hutan wakaf itu, sepenuhnya menjadi hak dari masyarakat desa setempat. Kondisi serupa ini telah terlihat di 'Hutan Wakaf Jantho', yakni dengan hadirnya segerombolan lebah madu hutan yang berkualitas baik.

Malam kemarin (10.06.17), bersama beberapa kerabat, Akmal Senja, Bettina, Zulfadli Zulfadli, Azhar Aceh Indiephoto, dan Agus, konsep 'Hutan Wakaf' diperluas menjadi upaya diaspora. Maksud upaya ini adalah memberi kesempatan kepada donatur dari berbagai tempat untuk mewakafkan lahannya agar dihijaukan dan beralih kepemilikan menjadi milik alam.

Semoga gagasan 'Hutan Wakaf' ini terus berkembang dari aspek luasan dan dapat dijadikan model untuk membuktikan tingkat keberpihakan khalayak terhadap lingkungan.

photo | istimewa



Dipterocarpaceae


Delapan puluh persen oksigen di dunia berasal dari kawasan ini. Proses fotosintesis yang sempurna melepaskan banyak oksigen ke udara dalam jumlah yang sangat besar. Ya, oksigen bagi kehidupan.


Cover Shot 2


Setiap potongan gambar adalah pemikiran; menyingkap proses kerja crew.  Ini menyerupai hasil kerja kolaboratif berbagai profesi serta disiplin ilmu, artinya dalam proses ini selalu melibatkan sejumlah kreator berdasarkan penguasaan bidang masing-masing.  Semua unsur ini saling menyatu, bersinergis serta saling mengisi satu sama lain.

Cover Shot 1


Hutan Wakaf.  The idea never dies...
Beberapa lagu icon hutan wakaf akan digaungkan untuk kampanye inisiatif hutan wakaf.  Mengungkapkan ide dan pikiran dapat dituangkan dalam sebuah lagu. Ya, lagu bisa menjadi bentuk penyampaian komunikasi yang efektif tentang inisiatif ini.

Hutan Wakaf Present 7


Ancaman utama terhadap hutan selama ini adalah konversi langsung untuk pembuatan pemukiman, jalan, perkebunan besar dan lainnya. Hektaran hutan yang dikelola negara sewaktu-waktu bisa saja dikonversi oleh rezim yang tengah berkuasa. Walau pun negara sebenarnya juga melarang konversi pada lahan-lahan tertentu, namun tidak ada jaminan bahwa rezim berikutnya tidak akan merubah aturan hukum yang telah ada. Hutan wakaf adalah solusi.

Hutan Wakaf Present 6


Awalnya adalah pengumpulan dana seratus ribu rupiah per orang setiap bulannya, untuk membeli tanah dan membangun hutan di atasnya. Dalam perkembangannya, penggalangan dana publik menjadi lebih dinamis tanpa membatasi nominal.

Hutan Wakaf Present 5


Doktrin ekologis yang Islami adalah sebuah peluang untuk diterapkan, dengan harapan pelestarian hutan akan lebih mudah diterima dan tidak ditentang, dengan suatu keyakinan sosial komunitas muslim bahwa nilai dan motivasi spiritual menjadi dasar penerapan.

Hutan Wakaf Present 4


Urgensi wakaf berupa hutan adalah sebuah pertimbangan terhadap ancaman krisis lingkungan yang terus meningkat, terutama dampak dari deforestasi yang tak terkendali. Hal ini perlu mendapat perhatian lebih dari ummat Islam karena menyangkut upaya vital menjaga kelangsungan planet bumi dan penghuninya, baik untuk kehidupan yang tengah berlangsung, maupun untuk generasi mendatang.

Hutan Wakaf Present 3


Kondisi target kami terfokus pada lahan kritis dan lahan potensial. Jika lahan kritis dibiarkan dan tidak ada perlakuan perbaikan, maka keadaan itu tidak bermanfaat bagi ekologi, hidrologi dan ekonomi masyarakat. Sedangkan lahan potensial adalah lahan yang belum dimanfaatkan dan jika dikelola akan mempunyai nilai dan manfaat ekologi, hidrologi dan ekonomi yang besar.

Hutan Wakaf Present 2


Untuk pilot project, dijadwalkan akan berlangsung 5 sampai 8 tahun, dengan penggalangan donasi publik. Empat orang telah bekerja volunteer sebagai koordinator. admin dan pengelola dana (fundraising) bagi program ini, dan yang lainnya mencurahkan jaringan serta finansialnya.

Hutan Wakaf Present 1


Konservasi secara langsung melalui pembelian lahan kritis. Diperuntukkan untuk membangun hutan yang berfungsi secara ekologis, baik sebagai sumber mata air, maupun sebagai penyerap karbon, ketersediaan buah-buahan dan tanaman obat, bahkan kayu untuk papan keranda, tempat bersarangnya burung-burung, lebah madu, primata dan species lainnya. Seterusnya akan diwakafkan dan disertifikatkan atas nama semua orang yang telah menyumbang.

Pohon

Kita adalah cerita yang belum jadi. Dan karena itu, kita perlu menyerahkan keringat pada lantai bumi untuk menyelamatkan sekelompok burung yang terancam kematian karena ketiadaan buah, biji dan pohon.

Hutan yang sehat dan rimbun adalah rumah dan tempat mereka mencari makan. Dahannya menjadi tempat bercinta.

Semua terkait. Burung pada buah, buah pada pohon, pohon pada air, air berteduh pada lumut, lumut pada hujan, hujan pada air.

Di hutan, ranting adalah tangkai waktu.

Yang kering akan patah sebelum kematian yang pasti.

Kita menanam pohon agar di masa depan kesulitan digantikan kemudahan. Agar tak ada tragis.

| Afrizal Akmal 
| Gambar: Sketsa hutan wakaf Zul M S.


T-Shirt: Iwan Podol

Iwan Podol yang memiliki nama asli Ridwan Setiawan adalah salah seorang yang paling mengetahui, dihormati dan sangat langka untuk ahli species badak di dunia. Atas dedikasi itulah kami (volunteer inisiatif hutan wakaf) merilis t-shirt khusus edisi donasi hutan wakaf bertema Abah Badak Indonesia dengan gambar siluet Iwan Podol.

Iwan Podol lahir di Labuan Banten pada tanggal 28 April 1969. Sejak kecil ia tertarik dengan kegiatan alam terbuka dan juga mempelajari ilmu biologi secara otodidak. Ia berjuang untuk terus maju, baik dalam berpikir dan bertindak.

Selepas pendidikan Sekolah Menengah Atas, Iwan Podol  menyelami ragam pekerjaan, antara lain sebagai kenek bus Labuan CN Murni. Karir di dunia penyelamatan lingkungan hidup ia mulai di era 1990 dengan bergabung menjadi staff lapangan untuk survey dan monitoring Badak Jawa di WWF - Indonesia Ujung Kulon Programme. Sejak itu Iwan terus aktif dan berjuang di konservasi Badak Jawa.

Saat ini  Iwan Podol merupakan ahli dibidang satwa, khususnya Badak Jawa di Taman Nasional Ujung kulon. Iwan dengan setia mendedikasikan dirinya di konservasi badak. Dari beberapa publikasi terlihat bahwa ia sangat skill dibidang penelitian Badak Jawa, diantaraya monitoring dan inventarisasi pencarian badak dengan ragam metode, inventarisasi badak hingga camera trap. Ia sangat mengetahui berbagai tumbuhan pakan badak.

Tidak melulu pada Badak Jawa, tetapi Iwan Podol terus meneliti diluar pulau jawa.  Ia membantu meneliti Badak Sumatra di berbagai kawasan hutan di Indonesia seperti di hutan Aceh, hutan Kalimantan Barat dan di  Taman Nasional Bukit Barisan Selatan.

Berbicara Iwan Podol berati kita berbicara tentang konservasi badak di Indonesia.
Apresiasi yang tinggi untuk Iwan Podol - Abah Badak Indonesia.

| Naskah dan photo: Aceh Indiephoto
| Editor: Afrizal Akmal


Sosok: Bahlias Putra Gayo

"Hutan adalah sarang ilmu pengetahuan."
Itualah prinsip dan dedikasi Bahlias Putra Gayo. Ia sering dipanggil dengan sebutan Babe, yang merupakan guru, mentor dan sahabat, beliau lucu dan seringkali suka bercanda. Tetapi sangat serius saat melakukan ploting tanaman untuk studi fenology. Beliau adalah ahli fenology (tanaman hutan) dan primata hutan Aceh.

Soal fisik dan tenaga; di usia beliau yang sudah tua masih sangat tangguh dan bersemangat. Ibarat mobil VW lambat tapi pasti dan tidak pernah capek dalam pendakian. Ya, ibarat mesin diesel aja ini babe. Makin tua makin jadi.

Pria Gayo yang lahir di Kutacane 62 tahun yang lalu ini mendedikasikan ilmunya di hutan dalam bidang fenology (ilmu tanaman hutan) dan primata. Bekerja di hutan Aceh sejak tahun 1987 hingga sekarang. Hampir seluruh hutan Aceh telah ditelitinya.

Aktivitas harian beliau lainnya adalah sebagai petani coklat dan peternak ikan mas di kampung halamannya, Kutacane, Aceh Tenggara. 

Apresiasi yang tinggi untuk Babe Bahlias.





| Narasi dan Photo: Aceh IndiePhoto
| Editor: Afrizal Akmal

Harmoni

Selalu. Rasa yang sama sejak dulu; dan sekarang ketika berada di hutan umurku bukan 43, tapi 34. Mungkin dengan gairah yang berbeda. Ya, energi dibutuhkan untuk ide besar.

Dan di landskap hutan selalu ada sejarah. sederet panjang tanda tanya. Kenapa hutan kini hanya tinggal sisa-sisa.

Kapitalisme dibalik konsesi halal telah merusak semuanya, hingga hutan itu mereka tinggalkan dalam keadaan rapuh. Bukan iklim yang merapuhkan materi-materi yang membentuknya. Bukan juga wabah. 

Ia memang sudah tak mampu bertahan begitu saja. Pelan-pelan sirna bila di sana tak ada kekayaan sosial; harta dan pemikiran masyarakatnya yang secara penuh keikhlasan mau merawat dan membangun hutan kembali.

Tapi mungkin hutan nasibnya benar-benar cuma tergantung pada negara? absolut?
Kalau begitu maka negara sedang sendirian dalam keasyikannya. Bila negara seenaknya, maka tak ada penyangga sosial lain. Tak ada komunitas sosial yang mandiri; yang melahirkan kekuatan yang memperkukuh keberadaan hutan.

Hutan. adakah sebuah tempat yang damai, tentram? Atau ia hanya sebuah tempat. Artinya tanpa batas yang tegas antara hutan dengan di luar hutan.

Jangan-jangan itulah yang terjadi dalam sejarahnya dan berlanjut hingga kini. Ketika kapitalisme masuk ke relung-relungnya dari luar hutan, ia membawa perilaku dan nilai-nilai yang merusak; eksploitatif semata. Perilaku menghancurkan yang merembes ke dalam masyarakat di sana; di sekitar hutan.

Itukah barangkali riwayat hutan yang hilang di sini. Menghancurkan semua harmoni kehidupan di dalamnya.

Afrizal Akmal

Hutan Wakaf dan Kedai Mino

Usai bincang konseptual hutan wakaf bersama Alit Rinjani Ferdian, Sebuah paket apresiasi datang dari salah satu Owner Kedai Mino Rahmi Carolina: menurut Rahmi, Edisi Burung Rangkong ini adalah salah satu edisi terbaik. Pemesannya lintas nusantara dan dunia.

Seperti filosofi Rangkong, terbang jauh. Sangat jauh untuk menebar biji biji (pesan pesan) hutan.

Pesan moral dari kaos ini adalah, "Jangan bunuh Rangkong!" Burung adalah makhluk Tuhan yang paling tawakal, kita perlu belajar padanya. Si penebar biji pohon di hutan.

Beberapa persen dari hasil penjualan akan disisihkan untuk fundraising hutun wakaf.
Insya Allah...



Negara - Bangsa

Disini, negara dan bangsa hadir sendiri-sendiri; saling marah.

Ya, negara dan bangsa seharusnya saling membutuhkan. Bangsa membutuhkan negara agar menjadi wujud konkret mewakili kepentingannya. Tanpa negara ia abstrak. Bayang-bayang.
Begitu juga seharusnya negara. Ia membutuhkan bangsa agar mendapat pengakuan atas kehadirannya; teritorial.

Tetapi negara kerap membawa bencana. Ia brengsek.

Negara sering berada dibalik kekejaman massal. Tragedi-tragedi kekejamanmya selalu terulang meliputi wilayah yang luas dan panjang.

Hutan dialih guna. "Dirampas" dari fungsinya. Kekejaman ini sering diabaikan, berlangsung dari rezim lama hingga rezim yang baru.

Tetapi negara bukan tidak punya alasan. Negara membangun argumentasi yang mengharukan - demi kesejahteraan. 

Negara - bangsa bertengkar lagi...

Namun setiap bencana melayang dari ingatan. Atau hanya diingat sebagai sejarah yang mengharukan. Itu saja. 

Bencana mirip layar tv yang gambar-gambarnya silih berganti.

| Afrizal Akmal |