Metafora

"Rumput setuju mati dan tumbuh lagi sehingga ia dapat menerima sedikit antusiasme yang dimiliki hewan". Rumi Mengucapkan itu pada abad ke-13.

Ajaran dari tanda-tanda alam banyak disebut dalam Al_Quran. Ya, lebih dari tujuh ratus ayat.
"Sesungguhnya penciptaan langit dan bumi lebih besar daripada penciptaan manusia" (Q.S. 40:57).
"Kamu sekalian tidak melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang" (Q.S. 67:3). 
Orang-orang yang peduli kepada alam semesta semata-mata karena kecintaan dan kekagumannya atas Sang Pencipta, Tuhan membalas kecintaan dan kasih sayangnya kepada mereka lewat Surat 25 ayat 63 dalam Al-Quran.
"Dan hamba-hamba Tuhan Yang Maha Penyayang itu adalah orang-orang yang berjalan di atas muka bumi dengan rendah hati".
Dalam kesempatan lain, Rumi - sang sufi itu menggunakan pohon sebagai metafora untuk perjalanan hidup. "Dunia ini seperti pohon dan manusia bagaikan buah setengah matang yang melekat padanya", begitu sebut Rumi.

Rumi mempelajari itu dari kitab suci. Ia menemukan dua puluh enam kali tentang pohon di sebutkan Tuhan dalam Al-Quran.
"Seperti pohon yang baik, akarnya teguh, dan cabangnya (menjulang) ke langit. Pohon itu memberikan buahnya kepada setiap manusia dengan seizin Tuhannya" (Q.S. 14: 24-25).
Keteraturan dan keseimbangan alam semesta adalah metafora lain untuk menumbuhkan kebijaksanaan spiritual ketika merenungkan tanda-tanda Ilahi di alam semesta ini. Keteraturan dan keseimbangan itu mampu menyerap dan mengubah penderitaan kepada kedamaian dan kesembuhan.

Tiga puluh tahun yang lalu, ketika saya berumur sepuluh tahun; terkadang ibu membawa unggas yang sakit ke dalam hutan dan menaruhnya di bawah hijau semak belukar. Tak lama kemudian unggas itu sembuh, bangun dan mulai berlari kembali. Saya melihat senyum di wajah ibu seperti sufi yang meyakini bahwa hutan sebenarnya penuh dengan energi Ilahi. Di sana ada kedamaian dan kesembuhan.

| Afrizal Akmal, 2016 |