Apresiasi Untuk Hutan Wakaf Dari Kota Leipzig Jerman

Inisiatif dan konsep Hutan Wakaf memiliki peluang untuk diapresiasi oleh masyarakat yang lebih luas. Seorang teman di Jerman, Bettina Grallert turut memberi apresiasi itu dan menyatakan konsistensinya untuk menjadi volunteer. Berikut adalah catatan singkat Bettina dari Jerman:

Pada tahun 1994 saya bersama beberapa kawan mendirikan sebuah LSM di kota Leipzig di Jerman. Tujuannya adalah mendirikan sebuah museum khusus tentang persoalan hutan hujan. Latar belakangnya kami mau membantu untuk melindungi hutan tropis karena kami pada saat itu sudah menyadari penghancurannya. Akhirnya kita sudah dapat mendirikan sebuah museum kecil pada tahun 2000. Museumnya bernama Phyllodrom.

Dan ternyata situasi makin buruk di hutan di seluruh dunia. Sejak beberapa tahun saya memperhatikan di Indonesia muncul berbagai upaya oleh banyak LSM untuk meningkatkan perlindungan hutan hujan. Itu baik dan semoga makin kuat dan berhasil di masa depan.


Namun, proyek semuanya berbeda dalam gayanya, dalam tujuannya dan dalam hasilnya pula. Yang berkencan hanya dalam pertemuan tak terhitung jumlahnya dan diperdebatkan tanpa henti itu meskipun baik akan tapi jarang ada hasil yang terlihat.


Untunglah saya sudah dapat tahu tentang proyek istimewa "Hutan Wakaf" ini. Beberapa orang mendirikan inisiatif dan memberikan harta diri untuk mewarisakan keturunan kita sejenis hutan yang menguntungkan semuanya. Dan dengan itu mereka berusaha untuk mencapai tugas kemanusian untuk melindungi bumi kita dengan alamnya. Saya senang tentang proyek ini yang memiliki tujuan yang jelas dan praktis apalagi yang bukan omong kosong di meja rapat.
Saya memutuskan untuk menyumbang. Dan sudah kemarin saya donasi untuk hutan wakaf sebagai apresiasi besar kepada inisiatif ini. Kemudian saya mulai berpikir sumber-sumber lain yang mana dapat ditemukan sehingga volume sumbangan untuk "Hutan Wakaf" dapat terus tumbuh.

Kita tidak hanya bisa memberikan uang kita dari kantong kita sendiri, tetapi masing-masing dari kita dapat memberikan sesuatu yang orang lain menikmati dan apa yang mereka bersedia untuk memberikan sumbangan kecil sebagai apresiasi. Saya memutuskan bahwa saya akan memberi musik dengan instrumen istimewa saya. Dan begitu sudah saya melaksanakan hari sabtu kemarin. Saya membuat musik dan koper instrumennya.


Yang terpenting sesungguhnya adalah efek samping yaitu bicara pada pejalan kaki tentang inisiatif konservasi ini dan perihal hutan tropis di Sumatera. Saya jadi senang dan besok saya akan donasi hasilnya dan saya tambahkan lagi dari kantong saya sendiri: Setiap hari satu potongan roti demi hutan wakaf. 


Salam visioner
Bettina Grallert


Jalan Sunyi

Saat kita mengalami sesuatu begitu saja, kita cenderung tidak melihatnya sama sekali.

Ya, seolah-olah segala sesuatu itu tidak ada. Segala sesuatu itu tidak memiliki pengaruh terhadap kehidupan kita.

Pendekatan intelektual sering mengalami kelemahan dan kita merasa tidak lebih seperti penonton yang sedang melihat kehidupan melalui lorong kecil yang tidak dapat ditembus.

Begitulah. Kita melihat kehidupan di sekitar, namun tidak mampu merasakan energinya.

Jalan sunyi adalah sebuah cara dimana kita ikut menjadi bagian dari objek pikiran kita, melakukan persepsi langsung. Meditasi.

Misalnya saat kita menggunakan konsep sederhana tentang pohon sebagai subjek; kita mungkin akan merasakan siklus kehidupan, hubungannya dengan matahari, udara, air dan bumi. Kita mungkin akan merasakan sensasi dari naik turunnya cairan makanan dalam batang pohon dan bahkan ikut merasakan pertumbuhan pohon yang perlahan-lahan. Ini akan membawa kesadaran yang bisa membentuk perilaku dan penilaian kita terhadapnya.
Lewat jalan ini kita dapat mengenal pohon, bukan hanya mengetahui.

Keterlibatan langsung melalui sebuah kesadaran bisa menghasilkan interaksi yang berbeda dari pengalaman hidup apa pun. Sebuah bentuk kesadaran baru.

Jika kita tidak turut merasakan siklus kehidupan pohon, kita tidak merasa terluka bila hutan dihancurkan.

Metode ini tidak merendahkan fungsi intelektual melainkan sebagai penyeimbang lewat pengembangan intuisi dan kesadaran total. Ia menghasilkan persepsi yang sempurna, jauh lebih lengkap daripada pandangan intelektual saja.

Pada akhirnya kebijaksanaan akan muncul; bukan dengan sebuah penjelasan, tetapi dapat dirasakan saat tingkat pikiran yang lebih tinggi mulai aktif. Refleksi hakikat sejati – realitas yang mengagumkan.

|Afrizal Akmal, 2016 |




Metafora

"Rumput setuju mati dan tumbuh lagi sehingga ia dapat menerima sedikit antusiasme yang dimiliki hewan". Rumi Mengucapkan itu pada abad ke-13.

Ajaran dari tanda-tanda alam banyak disebut dalam Al_Quran. Ya, lebih dari tujuh ratus ayat.
"Sesungguhnya penciptaan langit dan bumi lebih besar daripada penciptaan manusia" (Q.S. 40:57).
"Kamu sekalian tidak melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang" (Q.S. 67:3). 
Orang-orang yang peduli kepada alam semesta semata-mata karena kecintaan dan kekagumannya atas Sang Pencipta, Tuhan membalas kecintaan dan kasih sayangnya kepada mereka lewat Surat 25 ayat 63 dalam Al-Quran.
"Dan hamba-hamba Tuhan Yang Maha Penyayang itu adalah orang-orang yang berjalan di atas muka bumi dengan rendah hati".
Dalam kesempatan lain, Rumi - sang sufi itu menggunakan pohon sebagai metafora untuk perjalanan hidup. "Dunia ini seperti pohon dan manusia bagaikan buah setengah matang yang melekat padanya", begitu sebut Rumi.

Rumi mempelajari itu dari kitab suci. Ia menemukan dua puluh enam kali tentang pohon di sebutkan Tuhan dalam Al-Quran.
"Seperti pohon yang baik, akarnya teguh, dan cabangnya (menjulang) ke langit. Pohon itu memberikan buahnya kepada setiap manusia dengan seizin Tuhannya" (Q.S. 14: 24-25).
Keteraturan dan keseimbangan alam semesta adalah metafora lain untuk menumbuhkan kebijaksanaan spiritual ketika merenungkan tanda-tanda Ilahi di alam semesta ini. Keteraturan dan keseimbangan itu mampu menyerap dan mengubah penderitaan kepada kedamaian dan kesembuhan.

Tiga puluh tahun yang lalu, ketika saya berumur sepuluh tahun; terkadang ibu membawa unggas yang sakit ke dalam hutan dan menaruhnya di bawah hijau semak belukar. Tak lama kemudian unggas itu sembuh, bangun dan mulai berlari kembali. Saya melihat senyum di wajah ibu seperti sufi yang meyakini bahwa hutan sebenarnya penuh dengan energi Ilahi. Di sana ada kedamaian dan kesembuhan.

| Afrizal Akmal, 2016 |