Buku: Leuser Modal Yang Tergadaikan

Pelestarian Leuser sudah dilakukan sejak zaman pra kemerdekaan oleh masyarakat. Kepedulian mereka terhadap hutan dan lingkungan dibuktikan dari berbagai dokumen dan cerita sejarah.

Leuser yang cantik dan seksi telah memikat berbagai pihak untuk mendekat dengan maksud menjamah, mencium, menjaga, melestarikan, bahkan yang ingin merusak, dan memperkosa dengan paksa. Dengan alasan untuk pembangunan, Leuser terus ditekan dan dibelah yang katanya untuk kebutuhan masyarakat dan saat yang bersamaan, bencana terus berlangsung yang mengenai masyarakat terutama dipinggiran hutan dan DAS (daerah aliran sungai).

Lingkungan dan pembangunan sering dipertentangkan baik oleh yang pro lingkungan maupun yang pro pembangunan. Pertentangan ini tidak seharusnya berlanjut yang bisa menghambat pembangunan dengan prinsip kelestarian. Sudah harus dibuang jauh-jauh pernyataan ”mana lebih penting monyet atau manusia”.

Mencari mana lebih penting antara lingkungan dan pembangunan sama dengan mencari jawaban mana lebih dulu telur dengan ayam. Untuk itu yang perlu dilakukan adalah bagaimana menjalankan pembangunan demi ”rakyat” dengan berusaha meminimalkan kerusakan lingkungan. Sudah jelas ada yang ”terkorbankan” dari pembangunan, apakah itu lingkungan, manusia, maupun pembangunan itu sendiri, dan itu harus diminimalkan.

Untuk itu sebagai khalifah di muka bumi, maka manusia harus berpikir dan bertindak secara arif dan bijaksana. Instrumen-instrumen yang diciptakan manusia untuk pembangunan dan pelestarian secara umum sudahlah baik. Hanya saja diperlukan sikap mental dan moral yang perlu diperbaiki. Pikiran bahwa SDA (sumberdaya alam) adalah milik Tuhan dan bisa digunakan sesuka hati harus dikubur dalam - dalam. Semua ada batasnya, jadi marilah berpikir dan bertindak mengikuti hati nurani yang baik demi kebaikan semua pihak.

Bumi makin panas, binatang makin buas dan manusia makin ganas perlu diantisipasi. Jangan lagi bertambah korban manusia dimangsa binatang dan manusia terkubur hidup-hidup oleh bencana banjir dan longsor karena ulah manusia itu sendiri. Bumi makin panas akan mengacaukan hasil panen petani karena musim yang tidak pasti. Semua itu perlu pencegahan dini dan adaptasi. Bila tidak dikelola dan dimanfaatkan dengan baik, maka Leuser yang dibanggakan dan telah menjadi aset dunia hanya akan sia-sia. Ini sama artinya bahwa Leuser sebagai modal telah tergadaikan baik secara sengaja maupun tidak sengaja, baik langsung maupun tidak langsung.

Buku ini mencoba untuk memberikan bahasan tentang proses pembangunan dan pelestarian khususnya di sekitar Leuser. Kebijakan pemerintah, bencana, kemiskinan petani coba diungkapkan sedemikian rupa sehingga bisa menambah sedikit wawasan pembaca.

Penulis: Azanuddin Kurnia
Penerbit: Pustaka Kutaradja
Layout sampul: Aloel
ISBN: 978-602-95075-3-9