Sahabat Dalam Kepemimpinan

“Kepemimpinan adalah kesendirian”. Kalimat itu ditulis Toyotomi Hideyoshi pada abad ke 16, setelah Ia menyatukan Jepang. Sang samurai tanpa pedang.

Saat masih menjadi pembawa sandal beberapa puluh tahun sebelumnya, Ia menghabiskan siang bersama temannya sesama pelayan, tertawa dan bercanda membicarakan atasan sambil menikmati nasi kepal dan acar sayur pada bangku kayu di belakang kandang kuda.

Setelah Hideyoshi menjadi penguasa tertinggi Jepang, dan para panglima perang terhebat pun harus masuk daftar tunggu berminggu-minggu untuk bisa bertemu dengannya; Hideyoshi ketika merenungi masa silam – Ia melangkah mendekati kandang kuda di tengah hari. Tapi dalam catatannya ada baris kalimat yang sepi, “kelakar para pengurus kuda segera berhenti begitu mereka melihatku, semua bersimpuh di tanah, membungkuk hormat. Kekuasaan bisa membuatku terisolasi”.

Ia paham bahwa pemimpin yang tahu diri akan mencari nasehat bijak untuk meyakinkan efektifitas agar terus berlangsung, agar keputusan-keputusannya menjadi tepat. Menerima nasehat. Maka dalam kesepian itu Ia mencari sahabat lamanya, Koroku. Pemimpin kelompok tentara bayaran yang pernah mengajarinya kehidupan liar, cara hidup yang sudah Ia tinggalkan ketika memilih jalan terhormat menjadi samurai, tetapi persahabatan mereka tidak pernah putus.

Nasehat Koroku terbukti sangat berharga, ketika Hideyoshi menaklukkan Provinsi Mino setelah merebut benteng Inabayama yang menakjubkan sekaligus menakutkan di atas tebing, sebuah kastel hebat yang dibangun oleh seorang bekas pedagang minyak yang menjadi panglima perang Saito yang kejam.

Hideyoshi mempercayai sahabat lama dan memetik keuntungan dari nasehat mereka. Ia mengerti “rahasia mempercayai”.

Sementara kisah-kisah mitos yang menjerat imajinasi selalu menggambarkan seorang pemimpin pemberani melakukan segala hal sendirian – kepemimpinan heroik. Tapi nyatanya kepemimpinan semacam itu jauh dari romantis. Tak ada pemimpin yang bisa mencapai keberhasilan sendirian. Semua memerlukan penasehat, juga kritik, otokritik dan saran ahli.

Maka Hideyoshi dalam lembar catatannya juga menulis, “namaku akan dikenal dalam sejarah, bukan hanya di Jepang. Namun tanpa Koroku dan penasehat lainnya, namaku mungkin sudah tenggelam. Aku beruntung karena menemukan mereka. Dan aku bijaksana karena mau mendengarkan nasehat mereka”…