Kurcaca

Perempuan setengah baya memaki anak kecil dalam gendongan. Di bawah  traffic light, di simpang lima, di kota biadab. Ia mengemis, berakting mengharap iba dari yang lewat. Anak kecil itu ia sewa entah dari mana. Seringkali anak kecil itu ia biarkan haus di bawah siang yang menyengat. Dua kakak beradik berbaju kumal memegang celeng, merambat sisian pintu mobil yang bergerak pelan. Ya, mereka di sana dari pagi hingga malam, tanpa mengaji.


Perempuan setengah baya, anak kecil dalam gendongan dan kakak beradik itu tidak datang begitu saja, ia ada karena diadakan – diproduksi oleh keadaan.

Maka saya tulis beberapa surat pendek tentang perkara yang menurut saya penting. Tentang perihnya hidup kaum proletar. Ya, mereka sama seperti kita; manusia.

Tetapi mereka diberi cap, gelandangan. Kita tidak tahu atas dasar apa pula mereka diberi cap. Mereka tidak mendapatkan apa-apa dari negara selain dikutuk secara universal. Maka di sini, para Kurcaca bertahta dengan ambisi berkuasa yang ganas, memberi judul, mencap siapa saja dengan keji kepada siapa saja yang ia inginkan.

Kurcaca sebenarnya bukan sosok yang memikat. Ia makhluk mitologi yang menyebalkan, tidak jelas apakah ia gendut atau kurus. Namun di sini, di kota biadab Kurcaca lahir sebagai sosok nyata yang penuh janji dengan kebajingannya yang rapi dan sopan.

Dan di jalanan, pencurian hak berlangsung sederhana, tapi tak pernah selesai. Terus berlangsung tanpa keadilan. Di jalanan, manusia menyandang identitas yang tetap; gelandangan. Mungkin itu sebabnya di dalam kehidupan mereka, di jalanan, ketidakadilan hidup itu jarang jadi percakapan. Mereka menjalaninya saja, mengikuti keadaan. Suara mereka tak kedengaran, mati dan sunyi.

Keadaan semacam ini bukanlah kenangan yang kabur, bukan juga masa lalu yang berubah bersama waktu. Tetapi masih terjadi di hari ini. Dalam kota yang lupa kita rumuskan seperti apa bentuknya ini, kita bertemu dengan mereka. Ya, seperti halnya sejarah; sering berlangsung tanpa manusiawi, pembangun yang sepi nilai-nilai, membangun tiang dengan semen dusta dan air mata.
Maka apalah artinya menulis surat kepada para Kurcaca, sebab menuntut keadilan itu sia-sia. Di sini kebakhilan masih dibanggakan, entah apa sebabnya.