Asap

Api merayap di hutan, asap menampik alasannya sendiri. Ya, sebelum el nino datang, manusia adalah pemantik api. Membentang ribuan kilometer dari Riau, Jambi dan Pontianak. Sebagian berada di Aceh. Kabut asap pekat adalah bagian dari arah dan gerak dari dunia modern, dari hutan yang dipabrikkan.

Tapi apa yang kita alami kini? Modernitas sama dengan perilaku primitive, hambatan kemajuan, racun bagi kehidupan. Asap segera menjadi bagian kota yang rentan, dari hancurnya hutan-hutan.

Ada lagi yang menampik alasannya sendiri: Perkebunan. Perusahaan ini berkembang biak dengan cepat. Dan dengan cepat pula perkebunan, sebuah tanda modernitas yang lain – teknologi dengan dinamika yang buruk telah menjadi simptom kesumpekan. Kita bisa hitung berapa hektar wilayah hutan yang diambil oleh satu perusahaan, dan berapa jadinya jika dikalikan jumlah perusahaan yang telah mendapat konsesi itu, dibandingkan dengan betapa semakin mengecilnya bagian hutan yang tersedia. Sebuah kongesti, batas sosial dari pertumbuhan ekonomi.

Di sini, negara telah memberi izin konsesi hutan kepada perusahaan melebihi kemampuan negara untuk mengawasinya. Tepatnya adalah kesengajaan.

Asap bukan hanya proses kimiawi, tapi ia adalah produk kebajingan, juga akibat kongesti itu.
Ya, berapa orang yang naik darah bila setiap hari terjebak dalam kesumpekan asap. Atau jangan-jangan kita sedang berada di kesabaran yang tak terhingga.

Bagi saya, asap memberi kesempatan menulis essay, tapi saya tak tahu bagaimana manusia lain yang tak berdosa memanfaatkan asap pekat itu. Asap menculik hak-hak mereka untuk menghirup oksigen, membunuh kesehatan mereka, implikasi ummat manusia.

Asap juga akibat dari keputusan kapitalisme dalam transaksi pasar hutan, tanpa peduli pada hal-hal kebersamaan atau kemanusiaan.

Itu sebabnya, di hutan-hutan, masyarakat yang kedaulatannya diakui dalam kitab undang-undang, tak bisa hadir. Terusir. Aparat negara jika pun ada biasanya bersenyawa dalam lingkaran itu dan menambah raibnya keutuhan sosial ketika ia menggunakan kekuasaannya untuk duit. Ya, duit.

Afrizal Akmal, 2015



Buku: Leuser Modal Yang Tergadaikan

Pelestarian Leuser sudah dilakukan sejak zaman pra kemerdekaan oleh masyarakat. Kepedulian mereka terhadap hutan dan lingkungan dibuktikan dari berbagai dokumen dan cerita sejarah.

Leuser yang cantik dan seksi telah memikat berbagai pihak untuk mendekat dengan maksud menjamah, mencium, menjaga, melestarikan, bahkan yang ingin merusak, dan memperkosa dengan paksa. Dengan alasan untuk pembangunan, Leuser terus ditekan dan dibelah yang katanya untuk kebutuhan masyarakat dan saat yang bersamaan, bencana terus berlangsung yang mengenai masyarakat terutama dipinggiran hutan dan DAS (daerah aliran sungai).

Lingkungan dan pembangunan sering dipertentangkan baik oleh yang pro lingkungan maupun yang pro pembangunan. Pertentangan ini tidak seharusnya berlanjut yang bisa menghambat pembangunan dengan prinsip kelestarian. Sudah harus dibuang jauh-jauh pernyataan ”mana lebih penting monyet atau manusia”.

Mencari mana lebih penting antara lingkungan dan pembangunan sama dengan mencari jawaban mana lebih dulu telur dengan ayam. Untuk itu yang perlu dilakukan adalah bagaimana menjalankan pembangunan demi ”rakyat” dengan berusaha meminimalkan kerusakan lingkungan. Sudah jelas ada yang ”terkorbankan” dari pembangunan, apakah itu lingkungan, manusia, maupun pembangunan itu sendiri, dan itu harus diminimalkan.

Untuk itu sebagai khalifah di muka bumi, maka manusia harus berpikir dan bertindak secara arif dan bijaksana. Instrumen-instrumen yang diciptakan manusia untuk pembangunan dan pelestarian secara umum sudahlah baik. Hanya saja diperlukan sikap mental dan moral yang perlu diperbaiki. Pikiran bahwa SDA (sumberdaya alam) adalah milik Tuhan dan bisa digunakan sesuka hati harus dikubur dalam - dalam. Semua ada batasnya, jadi marilah berpikir dan bertindak mengikuti hati nurani yang baik demi kebaikan semua pihak.

Bumi makin panas, binatang makin buas dan manusia makin ganas perlu diantisipasi. Jangan lagi bertambah korban manusia dimangsa binatang dan manusia terkubur hidup-hidup oleh bencana banjir dan longsor karena ulah manusia itu sendiri. Bumi makin panas akan mengacaukan hasil panen petani karena musim yang tidak pasti. Semua itu perlu pencegahan dini dan adaptasi. Bila tidak dikelola dan dimanfaatkan dengan baik, maka Leuser yang dibanggakan dan telah menjadi aset dunia hanya akan sia-sia. Ini sama artinya bahwa Leuser sebagai modal telah tergadaikan baik secara sengaja maupun tidak sengaja, baik langsung maupun tidak langsung.

Buku ini mencoba untuk memberikan bahasan tentang proses pembangunan dan pelestarian khususnya di sekitar Leuser. Kebijakan pemerintah, bencana, kemiskinan petani coba diungkapkan sedemikian rupa sehingga bisa menambah sedikit wawasan pembaca.

Penulis: Azanuddin Kurnia
Penerbit: Pustaka Kutaradja
Layout sampul: Aloel
ISBN: 978-602-95075-3-9


Placebo Qanun Kehutanan

Qanun, sebuah aturan baku. Disini ia berbentuk peraturan daerah yang mengatur penyelenggaraan pemerintahan dan kehidupan masyarakat. Ya, di Aceh ia menjadi marak. Terkadang ia lahir dari klimaks irrasionalitas politik – sebuah fenomena.

Mirip ritual wajib. Dalam perkara kehutanan apakah Qanun Kehutanan benar-benar dibutuhkan? Qanun sebagai kebutuhan yang diciptakan, karena itu ia bukan satu-satunya jalan keluar bagi selamatnya hutan disana.

Pada titik tertentu, Qanun dapat menimbulkan “efek placebo” pada hutan, ia semacam zat atau obat tidak aktif dan tidak berefek sembuh tapi bisa menimbulkan perasaan seolah-olah menyembuhkan dan memberi jalan keluar bagi lestarinya hutan.

Faktanya, sejumlah peraturan yang terkait dengan kehutanan tak berdaya oleh jaringan kekuasaan dan kepentingan, belum lagi hambatan birokrasi yang payah. Faktor ini tidak menjadi bahasan yang konkrit dalam menentukan penyelesaian masalah-masalah kehutanan.

Maka meskipun banyak yang tidak setuju, saya hanya ingin memberanikan diri saja untuk menulis ini. Sebab di Nanggroe, prasyarat berjalannya suatu kebijakan, seperti anggaran dan administrasinya, kemampuan lembaga, informasi, proses sosial, tekanan politik, belum benar-benar dipertimbangkan sebagai bagian dari masalah-masalah pokok dalam implementasi suatu program pembangunan kehutanan.

Sementara biaya transaksi tinggi yang timbul akibat pelaksanaan suatu peraturan masih dianggap sebagai masalah implementasi kebijakan dan bukan kelemahan proses dan substansi kebijakan itu sendiri. Proses dan implementasi kebijakan sering tidak berlangsung secara linear.

Saya khawatir bahwa kekuatan masing-masing aktor dan jaringannya serta perbedaan kepentingan masing-masing aktor telah mempersulit pencapaian kesepakatan bersama.

Ditambah lagi oleh pengetahuan yang tidak lengkap yang dimiliki oleh setiap pihak yang bisa memunculkan ketidak-jelasan obyek yang dipermasalahkan. 

Begitu juga efektivitas interaksi pihak-pihak untuk sampai pada pokok persoalan yang diperdebatkan, disamping ditentukan oleh pengetahuan yang dimiliki juga ditentukan oleh diskursus masing-masing. Sebab peran diskursus, pengetahuan, kejelasan obyek yang dipermasalahkan, aktor dan jaringannya, menentukan efektivitas perdebatan kebijakan yang dilakukan.

Disini isi rimba diperkosa ramai-ramai, lalu lahir Qanun.


Sahabat Dalam Kepemimpinan

“Kepemimpinan adalah kesendirian”. Kalimat itu ditulis Toyotomi Hideyoshi pada abad ke 16, setelah Ia menyatukan Jepang. Sang samurai tanpa pedang.

Saat masih menjadi pembawa sandal beberapa puluh tahun sebelumnya, Ia menghabiskan siang bersama temannya sesama pelayan, tertawa dan bercanda membicarakan atasan sambil menikmati nasi kepal dan acar sayur pada bangku kayu di belakang kandang kuda.

Setelah Hideyoshi menjadi penguasa tertinggi Jepang, dan para panglima perang terhebat pun harus masuk daftar tunggu berminggu-minggu untuk bisa bertemu dengannya; Hideyoshi ketika merenungi masa silam – Ia melangkah mendekati kandang kuda di tengah hari. Tapi dalam catatannya ada baris kalimat yang sepi, “kelakar para pengurus kuda segera berhenti begitu mereka melihatku, semua bersimpuh di tanah, membungkuk hormat. Kekuasaan bisa membuatku terisolasi”.

Ia paham bahwa pemimpin yang tahu diri akan mencari nasehat bijak untuk meyakinkan efektifitas agar terus berlangsung, agar keputusan-keputusannya menjadi tepat. Menerima nasehat. Maka dalam kesepian itu Ia mencari sahabat lamanya, Koroku. Pemimpin kelompok tentara bayaran yang pernah mengajarinya kehidupan liar, cara hidup yang sudah Ia tinggalkan ketika memilih jalan terhormat menjadi samurai, tetapi persahabatan mereka tidak pernah putus.

Nasehat Koroku terbukti sangat berharga, ketika Hideyoshi menaklukkan Provinsi Mino setelah merebut benteng Inabayama yang menakjubkan sekaligus menakutkan di atas tebing, sebuah kastel hebat yang dibangun oleh seorang bekas pedagang minyak yang menjadi panglima perang Saito yang kejam.

Hideyoshi mempercayai sahabat lama dan memetik keuntungan dari nasehat mereka. Ia mengerti “rahasia mempercayai”.

Sementara kisah-kisah mitos yang menjerat imajinasi selalu menggambarkan seorang pemimpin pemberani melakukan segala hal sendirian – kepemimpinan heroik. Tapi nyatanya kepemimpinan semacam itu jauh dari romantis. Tak ada pemimpin yang bisa mencapai keberhasilan sendirian. Semua memerlukan penasehat, juga kritik, otokritik dan saran ahli.

Maka Hideyoshi dalam lembar catatannya juga menulis, “namaku akan dikenal dalam sejarah, bukan hanya di Jepang. Namun tanpa Koroku dan penasehat lainnya, namaku mungkin sudah tenggelam. Aku beruntung karena menemukan mereka. Dan aku bijaksana karena mau mendengarkan nasehat mereka”…







Neoliberal, Negara dan Kaum Lapar

Neoliberal selalu meminjamkan uang dengan bunga. Ia jengkel kepada kedaulatan negara. Pasar bebas sebagai tempat kompetisi untuk bertahan; bukan tempat untuk kedaulatan rakyat. Ia juga pandai menyembunyikan kebenaran dan mengelus batok kepala pemimpin negara ketiga agar malas berpikir.

Tetapi tidak semua orang menyetujui pendapat ini. Namun faktanya setiap dolar yang beredar dalam perdagangan tidak terkait dengan kegiatan ekonomi yang nyata. Seratus persen bahkan lebih - di putar lewat agenda-agenda spekulatif. 

Lalu negara ketiga berkompromi dan memungut pajak baru. Mulai dari sini, negara kehilangan rasa malu. Perbudakan modern dengan alasan menyelamatkan kedaulatan pun bermula lewat penghapusan subsidi untuk rakyat dan kenaikan pajak.

Akibatnya, lebih dari separuh penduduk dunia hidup dalam kengerian dan kelaparan. Kesenjangan semakin melebar dalam tatanan ekonomi kasino raksasa. Triliunan orang di dunia belum mendapat akses pengobatan yang murah dan berada di bawah standar dasar sanitasi. Gizi buruk bahkan terjadi di tempat dimana data statistiknya sangat bagus.

Maka sebuah bayangan masa depan yang lebih buruk akan terus menghantui. Tragedi ekonomi, sosial dan ekologis nampaknya semakin tidak terkendali dan tidak benar-benar tertanggulangi. Kengerian tumbuh dengan mantap dan semakin tidak manusiawi.

Reformasi di negara-negara berkembang, termasuk Indonesia; memang didukung oleh tingkat antusiasme yang tinggi. Tetapi ada reduksi asing yang kental lewat marketisasi dan privatisasi, meluasnya kebijakan deregulasi dan relaksasi dalam kebijakan ekonomi eksternal yang memperbesar kebebasan bagi pergerakan modal, barang dan jasa - menjalar ke relung-relung kehidupan.

Negara menjadi perantara antara para penindas dengan yang ditindas. Di sini negara adalah entitas imajiner yang dipakai tiap orang untuk hidup dengan ongkos orang lain.

Neoliberal tidak lagi melumuri darah pada tangannya sendiri dan terbebas dari hukum apa saja. Ia dibantu negara yang tidak semata-mata sebagai sistem dan instrumen, tapi ada orang-orang dalam birokrasi dengan bersemangat menangkap kesempatan itu untuk memenuhi hasrat menumpuk kekayaan pribadi dan pengaruh.

Pada titik ini, investasi asing tidak hanya disambut. Ia ditawari berbagai insentif.

Pembangunan berorientasi pasar berlangsung lewat resep yang dianjurkan negara donor dan lembaga keuangan internasional, secara perlahan-lahan menendang kaum lapar ke tepi kubur.



Kurcaca

Perempuan setengah baya memaki anak kecil dalam gendongan. Di bawah  traffic light, di simpang lima, di kota biadab. Ia mengemis, berakting mengharap iba dari yang lewat. Anak kecil itu ia sewa entah dari mana. Seringkali anak kecil itu ia biarkan haus di bawah siang yang menyengat. Dua kakak beradik berbaju kumal memegang celeng, merambat sisian pintu mobil yang bergerak pelan. Ya, mereka di sana dari pagi hingga malam, tanpa mengaji.


Perempuan setengah baya, anak kecil dalam gendongan dan kakak beradik itu tidak datang begitu saja, ia ada karena diadakan – diproduksi oleh keadaan.

Maka saya tulis beberapa surat pendek tentang perkara yang menurut saya penting. Tentang perihnya hidup kaum proletar. Ya, mereka sama seperti kita; manusia.

Tetapi mereka diberi cap, gelandangan. Kita tidak tahu atas dasar apa pula mereka diberi cap. Mereka tidak mendapatkan apa-apa dari negara selain dikutuk secara universal. Maka di sini, para Kurcaca bertahta dengan ambisi berkuasa yang ganas, memberi judul, mencap siapa saja dengan keji kepada siapa saja yang ia inginkan.

Kurcaca sebenarnya bukan sosok yang memikat. Ia makhluk mitologi yang menyebalkan, tidak jelas apakah ia gendut atau kurus. Namun di sini, di kota biadab Kurcaca lahir sebagai sosok nyata yang penuh janji dengan kebajingannya yang rapi dan sopan.

Dan di jalanan, pencurian hak berlangsung sederhana, tapi tak pernah selesai. Terus berlangsung tanpa keadilan. Di jalanan, manusia menyandang identitas yang tetap; gelandangan. Mungkin itu sebabnya di dalam kehidupan mereka, di jalanan, ketidakadilan hidup itu jarang jadi percakapan. Mereka menjalaninya saja, mengikuti keadaan. Suara mereka tak kedengaran, mati dan sunyi.

Keadaan semacam ini bukanlah kenangan yang kabur, bukan juga masa lalu yang berubah bersama waktu. Tetapi masih terjadi di hari ini. Dalam kota yang lupa kita rumuskan seperti apa bentuknya ini, kita bertemu dengan mereka. Ya, seperti halnya sejarah; sering berlangsung tanpa manusiawi, pembangun yang sepi nilai-nilai, membangun tiang dengan semen dusta dan air mata.
Maka apalah artinya menulis surat kepada para Kurcaca, sebab menuntut keadilan itu sia-sia. Di sini kebakhilan masih dibanggakan, entah apa sebabnya.