Kosong

Kaleng berbunyi di bulan Oktober 2014, hujan Interupsi warnai sidang. Ya, ia menjadi gaduh tanpa isi. Lucu, di luar gedung rakyat tertawa getir. Begitulah, di parlemen, para bandit berdebat dalam udara sejuk - nyaman sekali. Namun tidak banyak yang bisa diharapkan bagi kehidupan yang wajar.

Dan di luar, udara begitu panas - mengeringkan sungai dan sawah ladang. Sedih dan ngeri. Tetapi kita selalu diajarkan untuk tersenyum menerima apa saja. Bahkan ketika masyarakat terpaksa menjadi hamba dari mesin-mesin kapital yang digerakkan oleh imperium kapitalisme, monopoli teknologi oleh perusahaan-perusahaan transnasional yang merambah ke relung-relung kehidupan kita, yang merugikan keanekaragaman hayati dalam lingkungan hidup sekitar kita.

Sekiranya seluruh rakyat menjauh dan pergi mencari dunia lain, apakah mereka yang ada di dalam gedung Dewan Perwakilan Rakyat itu merindukan rakyat? Bukankah mereka ada karena rakyat? Tetapi begitulah, dengan mudah kepentigan masyarakat disisihkan. Cermin representasi begitu mudah retak, diganti hayalan hampan. Harapan menjadi sia-sia.

Saya rasa, mereka gagal memahami kepada siapa semestinya mereka menjadi pelayan. Mereka lupa kepada siapa seharusnya memihak.

Maka jangan heran bila negara selalu menjadi kepanjangan tangan pemilik modal. Membuka lebar jalan bagi investasi dan liberalisasi pasar, yang jelas-jelas telah terbukti menelan ribuan korban; jutaan rakyat terlantar di tengah kondisi lingkungan hidup yang parah.

Pada akhirnya negara kembali menciptakan bentuk masyarakat berdasarkan nilai-nilai yang diinginkan imperium itu sendiri, tanpa pertimbangan-pertimbangan moral. Semata-mata didasari keyakinan politik dan ekonominya sendiri.

Banyak perkara rakyat yang belum ada tanda-tanda untuk diselesaikan, seperti revisi regulasi pada sektor sumber daya alam yang selama ini banyak menimbulkan konflik.

Di sini, negara semakin terjerumus, meskipun mereka menolak untuk mengakui.



0 komentar:

Posting Komentar