Kosong

Kaleng berbunyi di bulan Oktober 2014, hujan Interupsi warnai sidang. Ya, ia menjadi gaduh tanpa isi. Lucu, di luar gedung rakyat tertawa getir. Begitulah, di parlemen, para bandit berdebat dalam udara sejuk - nyaman sekali. Namun tidak banyak yang bisa diharapkan bagi kehidupan yang wajar.

Dan di luar, udara begitu panas - mengeringkan sungai dan sawah ladang. Sedih dan ngeri. Tetapi kita selalu diajarkan untuk tersenyum menerima apa saja. Bahkan ketika masyarakat terpaksa menjadi hamba dari mesin-mesin kapital yang digerakkan oleh imperium kapitalisme, monopoli teknologi oleh perusahaan-perusahaan transnasional yang merambah ke relung-relung kehidupan kita, yang merugikan keanekaragaman hayati dalam lingkungan hidup sekitar kita.

Sekiranya seluruh rakyat menjauh dan pergi mencari dunia lain, apakah mereka yang ada di dalam gedung Dewan Perwakilan Rakyat itu merindukan rakyat? Bukankah mereka ada karena rakyat? Tetapi begitulah, dengan mudah kepentigan masyarakat disisihkan. Cermin representasi begitu mudah retak, diganti hayalan hampan. Harapan menjadi sia-sia.

Saya rasa, mereka gagal memahami kepada siapa semestinya mereka menjadi pelayan. Mereka lupa kepada siapa seharusnya memihak.

Maka jangan heran bila negara selalu menjadi kepanjangan tangan pemilik modal. Membuka lebar jalan bagi investasi dan liberalisasi pasar, yang jelas-jelas telah terbukti menelan ribuan korban; jutaan rakyat terlantar di tengah kondisi lingkungan hidup yang parah.

Pada akhirnya negara kembali menciptakan bentuk masyarakat berdasarkan nilai-nilai yang diinginkan imperium itu sendiri, tanpa pertimbangan-pertimbangan moral. Semata-mata didasari keyakinan politik dan ekonominya sendiri.

Banyak perkara rakyat yang belum ada tanda-tanda untuk diselesaikan, seperti revisi regulasi pada sektor sumber daya alam yang selama ini banyak menimbulkan konflik.

Di sini, negara semakin terjerumus, meskipun mereka menolak untuk mengakui.



Arun

Batu Phat, perkampungan dengan latar liuk lidah api ladang gas, barisan kedai kelontong diseberang jalan dan beberapa warga gampong mantan satpam PT Arun yang kini sudah tua, mungkin setua ladang gas itu.

Di sini, pengapalan gas alam cair Arun, yang berlangsung  lebih 200 kali setahun - selama tiga dekade  dan mencapai puncaknya di tahun 1980-an, akan tutup karena sudah kehabisan sumber gasnya. Pemerintah Indonesia segera memulai proyek baru alih fungsi sumur tua dari kilang pencairan gas alam menjadi pabrik regasifikasi dan terminal penampungan untuk mensuplai kebutuhan pembangkit listrik bagi kebutuhan industri di Aceh dan Sumatera Utara. Seluruh pekerjaan diserahkan kepada PT Pertamina, yang nantinya akan menjadi operasional tunggal sekaligus pemilik pabrik.


Dan di sini pula mungkin kita akan hidup sebagai sebuah masyarakat yang kecapekan oleh dusta. Ya, dari janji-janji baru untuk menjawab sebesar apa pengaruh dari regasifikasi itu kepada pertumbuhan ekonomi lokal.


Masa lalu ladang gas itu adalah masa-masa paling brutal terhadap kehidupan sosial masyarakat sekitar - sepanjang sejarahnya. Bagai istana khayal yang sulit disentuh. Kemewahannya hanya berlangsung antara para komprador, korporasi asing dan para pejabat pemerintah yang korup. Kini ada janji baru, lewat regasifikasi - uang "akan" banyak berputar di sini.


Hampir setiap saat kita mendengar "kemakmuran", disaat itu pula kita menyaksikan keringkihan. Semua diputarbalikkan. Melahirkan kebencian dan ketidakpercayaan.


Bagaimanapun juga regasifikasi adalah sebuah "maksud". Tetapi bila sebuah maksud dimasuki bunyi lain yang saling berdesak-desakan, ia akan menguap seperti gas, seperti Hydrogen Sulfide yang berbau telur busuk; menyebabkan mual, muntah, kejang, hingga kematian.


Ya, mual dan muntah itu juga bisa datang dari kecapekan oleh dusta. Antara negara dan rakyatnya.


Biasanya dialog berhenti, bahasa kehabisan kata-kata di "sumur tua". Pada akhirnya, rakyat hanya bisa melihat para aktor bergerak dengan arah yang mantap, tidak lagi menyapa.


Sumur tua, besi tua Arun. Meskipun di isi dengan yang lain, ia adalah lambang mental, politik dan ekonomi dari sebuah negeri yang gampang ditakut-takuti oleh asing. Juga lambang ketidakberdayaan dan kemencretan mental dari negara yang tidak punya keberanian menuntut renegosiasi kontrak karya yang merugikan rakyat. Dimana selama puluhan tahun negara menempatkan diri sebagai pembela kepentingan asing. Bukan kepentingan rakyat.


Dan selama puluhan tahun sumur-sumur gas itu dijarah tanpa audit investasi, tidak ada kejelasan pajak dan jumlah royalti yang minim. Migas begitu mudah dicuri lewat mekanisme ekspor tanpa memperhatikan kebutuhan domestik dalam negeri.


Negera justru menjadi pengemis, dimana para pemimpinnya tanpa rasa malu berkeliling mencari utang luar negeri lewat dalih investasi baru. Sementara kekayaan alam sendiri dipersilahkan untuk dijarah pihak asing.


Begitulah...


|Afrizal Akmal, 2014|