Pinggir

Pinggir tidak melulu berarti tersingkir, ia bisa berarti kebebasan. Ya, kebebasan dalam pikir dan ide. Mampu berekspresi di tengah riuh orang ramai. Pinggir adalah kenyataan hidup yang terlihat – bukan dusta. Ia ada di tepi sebagai pelindung meski terkadang rentan.

Pinggir penuh makna… dan bisa menyentuh siapa saja.
Terkadang pinggir terlihat kotor, tapi bukan berarti tidak bisa dirawat. 
Dalam rumus bercinta, pinggir adalah kenikmatan yang panjang.
Begitulah…

Pinggir, mengapa ada? Mengapa diciptakan dan untuk siapa?

Pinggir adalah batas jadwal antara hari ini dan besok, antara yang telah lalu dan akan datang. Bisa saja ia meninggalkan jejak dan penyesalan.

Di pinggir kita bisa melihat jurang atau berkumur di kolam. 
Dan di pantai, pinggir tinggal terumbu yang mati. Tidak aneh, juga tidak ada janji yang membusuk.

Pinggir begitu luas, meski sering dianggap sebagai kata marginal dan diremehkan; dengan situasi kumuh, jorok, mencret dan tidak mengenakkan. Di pinggir orang bisa frustasi dan bunuh diri.

Pinggir,  ya pinggir. 
Yang bersahabat dengan siapa saja. Juga bisa menghancurkan siapa saja.