Kacau

Suatu pagi di depan teras, lantainya sejajar tanah. Di kampung yang pelan-pelan kehilangan rimbun pohon. Ada suara tetangga menasehati anak lelaki, “ Nanti jangan nakal di sekolah ya, jangan ribut dan harus patuh pada guru, jadilah anak yang baik. Sebab kalau nakal dan tidak menurut akan dimarahi ibu guru atau dipuluki dengan penggaris”.

Sementara di udara, angin menerbangkan kepulan asap hitam, membuyarkan burung-burung yang bermain di langit. Asap dari cerobong pemecah batu pelan-pelan membunuh siapa saja. Tetapi karena pabrik itu milik mereka yang berpengaruh, semua dosa dari akibat kilang pemecah batu itu hilang begitu saja.

Kampung sedang bergerak dari keheningan ke keriuhan mesin.

Ibu-ibu berdesak di kios, berebut membeli LPG yang langka sejak seminggu. Di tempat yang jauh dari kota, hari itu mereka seolah-olah tidak bisa hidup atau langit akan runtuh tanpa desak-mendesak. Di persimpangan, remaja tanggung ramai memaku gambar politikus di pohon.

Kampung kehilangan suara alam, berganti mesin dan manusia-manusia yang dikacaukan, dan anak-anak sekolah yang takut pulang ke rumah bila tak lulus ujian. Sawah-sawah ramai menjadi bagian dari proyek tukar guling untuk membangun kantor camat dan kantor polisi di atasnya sebagai akibat pemekaran.

Di teras rumah, saya merenungi hidup, damai mengamati pohon tua. Mungkin sebab itu saya bisa mengerti mengapa ketika kakek kami masih hidup, orang-orang yang tertekan dan kebingungan, kehilangan jalan dalam hidup mereka datang ke rumah kami hanya sekedar untuk duduk dan mendengar pencerahan. Sebab di tempat lain keheningan telah hilang.

Di tempat lain, orang-orang berlomba menjadi juara. Terserah bagaimana caranya.

|Afrizal Akmal, 2014|.

Sajak Sunyi Di Awal Tahun

"Tahun Baru, Korupsi Baru". Itulah penggalan yang saya baca dari koran lokal. Sebuah editorial dari awak media yang sebenarnya belum benar-benar utuh. Dan di awal tahun 2014 ini, di dapur rumah kami ibu harus memasak dengan kayu bakar dari sisa-sisa ranting kering yang jatuh dari

Pasar

Di sini pasar bukan semata-mata tempat untuk jual beli atau pertukaran barang maupun jasa. Bisakah kita memperhatikan? Ada yang berbusana bagus, tetapi banyak juga pengemis yang buta atau kehilangan sebelah tangan atau kakinya. Beberapa orang memberi sedekah kepada pengemis

Buku: Aceh Wildlife

Saya mengenal Azhar (penulis buku ini) dari berbagai pertemuan khususnya mengenai Badak Jawa, Badak Sumatra, serta berbagai spesies penting yang ada di Aceh.  Kami sering berdiskusi mengenai metode dan pendekatan survey Badak serta biodiversity hutan Sumatera dan beberapa kali pernah terlibat langsung bersamanya dalam pelaksanaan survey Badak Sumatra di Aceh dan Lampung.

Semangat Azhar dalam menyelamatkan spesies selalu tertuang dalam tulisannya yang sering distribusikan melalui email internal WWF Indonesia dan juga melalui email dalam beberapa mailing list. Berdasarkan pengamatan saya, berbagai tulisannya terfokus kepada spesies kunci di Aceh seperti Harimau, Gajah, Orangutan dan Badak Sumatra. Oleh karenanya saya menyambut baik lahirnya buku ini sebagai dokumentasi dari wawasan, aspirasi, dan semangat Azhar. 

Buku ini merupakan suatu kompilasi dari banyak artikel yang ditulisnya dan ditambah beberapa tulisan yang belum pernah dipublikasi. Buku ini diharapkan dapat menjadi tulisan yang gampang dicerna dengan opini pendek dan pembahasan kritis,  namun berkisaran luas dari persoalan konservasi species kunci di Aceh dan Sumatera.

Opini-opini tersebut memberi penekanan mengenai persoalan species kunci yang selalu dirundung masalah dan kerap mengundang polemik akibat adanya orang yang tak sependapat dengan apa yang diuraikan. Tanpa tendensi apapun, tulisan Azhar memberikan apresiasi serius terhadap apa yang dipercayainya. Unik, dan juga kritis, serta menyuguhkan beberapa solusi pengelolaan.


Tulisan ini merupakan angin segar saat diperlukan penulis kreatif bidang satwa liar di Indonesia untuk memperkaya ilmu konservasi spesies kunci Sumatera. Ini merupakan hal yang penting untuk menginspirasi penulis-penulis muda lainnya untuk terus berkiprah di bidang satwa liar di Indonesia. Penulisan buku tidak mutlak perlu berbasis ilmiah, akan tetapi opini masyarakat dapat dibangun dari tulisan-tulisan popular dari pengalaman pegiat konservasi. Saya mengharapkan buku ini dapat menjadi dasar pemikiran untuk kampanye species kunci di Sumatera.


Bagi saya, buku ini merupakan wujud kepedulian, usaha dalam menyelamatkan species kunci Sumatera yang saat ini keadaan populasinya sangat kritis. Tanpa usaha penyelamatan secara serius kemungkinan akan punah, oleh karena itu, buku ini diharapkan dapat menjadi buah pemikiran dalam menyelamatkan species kunci di alam liar Sumatera.


Beberapa hal yang menjadi keunikan bagi saya antara lain adalah tulisan yang membahas tentang Hiu, Penyu dan burung, buku ini menggugah dan menyenangkan saya sebagai seorang pakar lingkungan untuk membacanya. Namun saya kira lebih dari itu, buku ini juga  merupakan sumbangan yang baik untuk konsumsi publik yang kurang peduli untuk menjadi sadar tentang persoalan satwa liar Indonesia.


Pada akhirnya buku ini juga dapat memberi warna pada pengelolaan species kunci di Aceh juga daerah lain di pulau Sumatera, saya selaku praktisi lingkungan hidup, menyampaikan penghargaan dan terimakasih atas penulisan yang dikemas dalam bentuk saran kritis dan solusi bagi pengelolan spesies kunci yang lebih baik di Sumatera. Semoga buku ini bermanfaat bagi kita semua.


PROLOG: Adhi Rachmat Hariyadi

Praktisi Konservasi Badak Indonesia,
Konsultan Biodiversity & Natural Resource Management
Hatfield Indonesia - Bogor

| BELI BUKU |

Penulis: Azhar
Penerbit: Pustaka Kutaradja
Layout sampul: Aloel
ISBN: 978-602-95075-2-2

Mengubah Sisa-Sisa Menjadi Pahala

Ingin berbagi manfaat dengan orang lain? Saya percaya, kita ingin sekali menolong orang lain dan memberi manfaat yang besar terhadap mereka. Namun masalahnya kita seringkali tidak punya waktu. Tapi benarkah kita lantas tak bisa melakukan sesuatu yang penting bagi orang lain dan lingkungan kita? Sebuah proyek sosial yang istimewa yang bisa kita tekuni setiap hari?

Bagi yang membaca komunike ini, saya ingin mengajak lebih banyak orang untuk menyediakan 20 menit sehari untuk menaruh tanah di polibag kecil, lalu setiap anda membeli buah-buahan di pasar dan membawanya pulang ke rumah untuk dimakan bersama keluarga, taruhlah sisa-sisa biji dari buah-buahan yang telah dimakan itu di dalam polibag, bukan membuangnya ke dalam tong sampah. 

Hasilnya, anda menjadi polinator, sebuah usaha untuk menyiapkan lebih banyak bibit-bibit yang bisa di tanam di kebun, di halaman rumah, di halaman kantor dan di lahan-lahan kritis, membagikannya kepada orang lain secara cuma-cuma untuk di tanam. Bukan hanya bermanfaat bagi manusia, tetapi juga bagi makhluk hidup lain yang memakannya, menciptakan alam yang rimbun dengan pohon-pohon tempat burung-burung dan lebah madu bersarang.

Dengan menyisihkan 20 menit saja sehari dalam proyek ini, kita mempunyai 120 jam setahun. Ini adalah jumlah waktu yang sangat berarti bagi kehidupan bumi yang lebih ramah.

Kita mungkin terbiasa mengatakan bahwa ini tidak mudah dijalankan. Tetapi sangat mungkin dan realistis. Jangankan seluruh manusia, satu keluarga saja. Bahkan, dari beberapa orang saja jika segera dilakukan, pasti akan memberikan hal yang positif dari 20 menit jam ekstra per hari.

Jadi mulailah menyusun perencanan sederhana, mengajak anggota keluarga dan menghubungi teman. Dalam waktu kurang dari satu tahun, niscaya proyek ini dapat terwujud.  Dan ketika kemauan mulai bergulir, semangat itu akan menyebar bagai virus dan menular pada lebih banyak orang. Apabila itu terjadi, banyak sekali orang yang memetik manfaat dari proyek sederhana ini.

Mengubah sisa-sisa menjadi pahala jariyah.