BBM dan Moral Politik


“Politik adalah ilmu melayani rakyat, bukannya hidup dari rakyat”. Kata-kata itu tersimpan dalam ingatan setiap orang Bolivia. Ya, tahun 2006 - kalimat itu diucapkan oleh Evo Morales, presiden pemberani. Presiden rakyat yang memahami kepada siapa ia semestinya menjadi pelayan, dan ia memilih melayani rakyatnya. Rakyat Bolivia.

Demi memulihkan penguasaan atas minyak, gas dan kekayaan alam lainnya yang sebelumnya dikuasai oleh korporasi asing, Morales merealisasikan janjinya untuk menasionalisasi perusahaan migas di negaranya. Pada 1 Mei 2006, tentara Bolivia diperintahkan untuk menduduki 56 ladang gas dan minyak serta instalasi penyulingan di seluruh negeri. Rakyat Bolivia tidak mampu menyembunyikan kegembiraan mereka, karena presidennya seorang pemberani – menolak dan menentang dominasi Amerika Serikat, demi menolong rakyatnya yang miskin.

Di bawah Evo Morales, rakyat Bolivia menjadi tumbuh dan kaya setelah semua kontrak karya pertambangan di renegosiasi (negosiasi ulang). Salah satu isi dekritnya, “migas hanya boleh di ekspor setelah kebutuhan domestik Bolivia dipenuhi”. Jika tidak setuju, perusahaan asing dipersilahkan meninggalkan Bolivia. Dan bagi perusahaan asing yang setuju, silahkan mencari makan di Bolivia, dengan syarat tunduk kepada kemauan pemerintah, yang hakekatnya kemauan rakyat Bolivia. Morales menerobos rintangan mental, moral politik dan ekonomi yang sebelumnya sengaja disesatkan oleh berbagai korporasi asing.

Ya, Bolivia memang bukan Indonesia, negara pengemis dengan sejuta prahara sosial. Pemimpinnya sangat takut (takutnya teramat takut), tidak berani mengambil langkah negosiasi ulang kontrak karya industri migas dan pertambangan dengan asing. Beraninya cuma sama tukang kacang goreng – alias menaikkan harga BBM dengan macam-macam alasan. Sebab di sini, politik adalah serakan janji yang tidak utuh. Ia bergerak ke arah yang lain.

Dan di jalanan, di trotoar yang penuh “amuk” itu terkadang negara gagal menempatkan diri.





Kosong

Kaleng berbunyi di bulan Oktober 2014, hujan Interupsi warnai sidang. Ya, ia menjadi gaduh tanpa isi. Lucu, di luar gedung rakyat tertawa getir. Begitulah, di parlemen, para bandit berdebat dalam udara sejuk - nyaman sekali. Namun tidak banyak yang bisa diharapkan bagi kehidupan yang wajar.

Dan di luar, udara begitu panas - mengeringkan sungai dan sawah ladang. Sedih dan ngeri. Tetapi kita selalu diajarkan untuk tersenyum menerima apa saja. Bahkan ketika masyarakat terpaksa menjadi hamba dari mesin-mesin kapital yang digerakkan oleh imperium kapitalisme, monopoli teknologi oleh perusahaan-perusahaan transnasional yang merambah ke relung-relung kehidupan kita, yang merugikan keanekaragaman hayati dalam lingkungan hidup sekitar kita.

Sekiranya seluruh rakyat menjauh dan pergi mencari dunia lain, apakah mereka yang ada di dalam gedung Dewan Perwakilan Rakyat itu merindukan rakyat? Bukankah mereka ada karena rakyat? Tetapi begitulah, dengan mudah kepentigan masyarakat disisihkan. Cermin representasi begitu mudah retak, diganti hayalan hampan. Harapan menjadi sia-sia.

Saya rasa, mereka gagal memahami kepada siapa semestinya mereka menjadi pelayan. Mereka lupa kepada siapa seharusnya memihak.

Maka jangan heran bila negara selalu menjadi kepanjangan tangan pemilik modal. Membuka lebar jalan bagi investasi dan liberalisasi pasar, yang jelas-jelas telah terbukti menelan ribuan korban; jutaan rakyat terlantar di tengah kondisi lingkungan hidup yang parah.

Pada akhirnya negara kembali menciptakan bentuk masyarakat berdasarkan nilai-nilai yang diinginkan imperium itu sendiri, tanpa pertimbangan-pertimbangan moral. Semata-mata didasari keyakinan politik dan ekonominya sendiri.

Banyak perkara rakyat yang belum ada tanda-tanda untuk diselesaikan, seperti revisi regulasi pada sektor sumber daya alam yang selama ini banyak menimbulkan konflik.

Di sini, negara semakin terjerumus, meskipun mereka menolak untuk mengakui.



Arun

Batu Phat, perkampungan dengan latar liuk lidah api ladang gas, barisan kedai kelontong diseberang jalan dan beberapa warga gampong mantan satpam PT Arun yang kini sudah tua, mungkin setua ladang gas itu.

Di sini, pengapalan gas alam cair Arun, yang berlangsung  lebih 200 kali setahun - selama tiga dekade  dan mencapai puncaknya di tahun 1980-an, akan tutup karena sudah kehabisan sumber gasnya. Pemerintah Indonesia segera memulai proyek baru alih fungsi sumur tua dari kilang pencairan gas alam menjadi pabrik regasifikasi dan terminal penampungan untuk mensuplai kebutuhan pembangkit listrik bagi kebutuhan industri di Aceh dan Sumatera Utara. Seluruh pekerjaan diserahkan kepada PT Pertamina, yang nantinya akan menjadi operasional tunggal sekaligus pemilik pabrik.


Dan di sini pula mungkin kita akan hidup sebagai sebuah masyarakat yang kecapekan oleh dusta. Ya, dari janji-janji baru untuk menjawab sebesar apa pengaruh dari regasifikasi itu kepada pertumbuhan ekonomi lokal.


Masa lalu ladang gas itu adalah masa-masa paling brutal terhadap kehidupan sosial masyarakat sekitar - sepanjang sejarahnya. Bagai istana khayal yang sulit disentuh. Kemewahannya hanya berlangsung antara para komprador, korporasi asing dan para pejabat pemerintah yang korup. Kini ada janji baru, lewat regasifikasi - uang "akan" banyak berputar di sini.


Hampir setiap saat kita mendengar "kemakmuran", disaat itu pula kita menyaksikan keringkihan. Semua diputarbalikkan. Melahirkan kebencian dan ketidakpercayaan.


Bagaimanapun juga regasifikasi adalah sebuah "maksud". Tetapi bila sebuah maksud dimasuki bunyi lain yang saling berdesak-desakan, ia akan menguap seperti gas, seperti Hydrogen Sulfide yang berbau telur busuk; menyebabkan mual, muntah, kejang, hingga kematian.


Ya, mual dan muntah itu juga bisa datang dari kecapekan oleh dusta. Antara negara dan rakyatnya.


Biasanya dialog berhenti, bahasa kehabisan kata-kata di "sumur tua". Pada akhirnya, rakyat hanya bisa melihat para aktor bergerak dengan arah yang mantap, tidak lagi menyapa.


Sumur tua, besi tua Arun. Meskipun di isi dengan yang lain, ia adalah lambang mental, politik dan ekonomi dari sebuah negeri yang gampang ditakut-takuti oleh asing. Juga lambang ketidakberdayaan dan kemencretan mental dari negara yang tidak punya keberanian menuntut renegosiasi kontrak karya yang merugikan rakyat. Dimana selama puluhan tahun negara menempatkan diri sebagai pembela kepentingan asing. Bukan kepentingan rakyat.


Dan selama puluhan tahun sumur-sumur gas itu dijarah tanpa audit investasi, tidak ada kejelasan pajak dan jumlah royalti yang minim. Migas begitu mudah dicuri lewat mekanisme ekspor tanpa memperhatikan kebutuhan domestik dalam negeri.


Negera justru menjadi pengemis, dimana para pemimpinnya tanpa rasa malu berkeliling mencari utang luar negeri lewat dalih investasi baru. Sementara kekayaan alam sendiri dipersilahkan untuk dijarah pihak asing.


Begitulah...


|Afrizal Akmal, 2014|


Nilai-Nilai

Aceh. Sebuah negeri dengan latar belakang kengerian sejarah, sedang berlomba dengan proyek modernisasi yang mengutamakan materi. Negeri syari’at yang sebenarnya tidak utuh, perlahan mulai kehilangan akar budaya dan kemerosotan nilai-nilai. Generasi masa depannya sedang menungu kengerian baru – bukan lagi oleh perang senjata, tetapi oleh kengerian ekologi. Merkuri telah mengotori sungai-sungainya.

Di bawah kolong langit serambi mekah, tidak semua warganya ta’at spiritualitas. Ada barisan panjang manusia berwatak feodal terjerumus dan menjerumuskan manusia lain ke arah kegelapan – jahiliyah modern. Mengejar kepuasan materi, mempertontonkan kerakusan dan kesewenang-wenangan.

Proyek-royek yang dirancang untuk menyelesaikan sejumlah masalah, ternyata gagal dan tidak mampu menyelesaikan berbagai problem kehidupan masyarakat; kemiskinan, pengangguran dan kesenjangan. Maka orang berduyun-duyun mencari sumber-sumber material bernilai tinggi, seperti menambang emas di sungai-sungai dengan cara-cara yang tidak ramah.

Tanpa sadar, perlahan-lahan tertanam sikap oportunisme; “Raihlah kekayaan dengan cara apa pun. Sebab bila miskin, engkau akan diperlakukan tidak adil. Maka hidupkan mesin-mesin, kuras apa yang bisa dikuras, sekarang. Jangan pedulikan generasi nanti”.

Di sini, jalan pintas pertumbuhan ekonomi adalah suatu proses yang kejam dan keji.

Sementara di kolong gelap birokrasi, laporan-laporan keberhasilan pembangunan lewat permainan angka-angka statistik sama sekali tidak mencerminkan realitas kehidupan yang sesungguhnya. Ini adalah dosa yang tidak mudah untuk dimaafkan.

Pemerintahan baru yang tengah berkuasa di Nanggroe, kelihatannya gagal memberi solusi sosial dan politik. Sedikit sekali keadilan.

Dan bagi Tuan-tuan yang membaca komunike ini, renungkanlah semua fakta ini dengan akal sehat bahwa tatanan sosial dan ekonomi yang ada selama ini ternyata jauh dari nilai-nilai. Ketidakadilan harus dibongkar, meski sudah terlambat – diganti dengan visi yang jauh ke depan. Sebab suatu tragedi kengerian di masa depan akan muncul di Nanggroe bila tidak dikendalikan dari sekarang.

Marilah kita membongkar pemikiran salah terhadap keputusan-keputusan yang seolah-olah telah diambil melalui konsultasi pada masyarakat luas lewat skema “partisipasi” dalam kerjasama dan capacity building. Partisipasi semacam itu sesungguhnya hanya sebuah mobilisasi, yang artinya negara hanya mengkompromikan standar gandanya melalui kemitraan semu dengan sebagian rakyat. Padahal tidak lebih hanya sebagai penundukan yang halus dengan syarat-syarat yang telah disusun dan harus dipatuhi.

Mari bertindak lebih bijak dan masuk akal, bukan sekedar partisipasi, bukan mobilisasi. Kerjasama itu harus dilandaskan pada inisiatif rakyat, kemandirian dan kebebasan dalam membuat keputusan mengenai program yang disusun sendiri oleh rakyat. Mereka perlu diberi kesempatan, ruang dan dukungan untuk mengorganisasi diri. Tujuannya bukan hanya meningkatkan standar hidup melainkan memenuhi kebutuhan dasar manusia. Nilai-nilai harus diselamatkan.

Mengundang investor asing bukanlah tindakan bijak, melainkan suatu privatisasi bagi para penjarah yang berpura-pura baik. Jangan lagi menambah jeritan rakyat kecil dikemudian hari. Tetapi bangunlah sumber-sumber agraria berbasis komunitas dan sosial. Bangunlah jiwanya. Sebuah konsep tanggungjawab yang tidak boleh diserahkan mentah-mentah kepada mekanisme pasar.



Menjarah

Ideologi neoliberal tidak pernah memberi tempat bagi kedaulatan rakyat. Ya, begitulah. Lewat cara-cara licik mereka merancang pasar bebas agar leluasa menjarah sebanyak mungkin sumber daya alam di negara-negara berkembang. Termasuk di Indonesia.

1970-an. Tahun-tahun dimana dua orang bermulut mencret; Friedrich Van Hayek dan Milton Friedman menyusupkan faham neoliberal melalui sekolah-sekolah ekonomi dan kelompok-kelompok pemikir. Proyek itu didanai oleh komprador, konglomerat dunia. Hasilnya, alumnus-alumnus dari sekolah itu dipekerjakan di Bank Dunia yang sebenarnya milik Amerika Serikat, IMF dan WTO dengan konsep utamanya – neoliberal.

Skenario besar ini kemudian dengan gigih didukung oleh Inggris dan Amerika Serikat. Maka terjadilah deregulasi, privatisasi dan liberalisasi oleh lembaga-lembaga keuangan internasional lewat mesin-mesin pinjaman yang diarahkan kepada negara-negara debitor, seperti Indonesia.

Setiap satu dolar yang diberikan kepada negara-negara debitor, selalu diserta prasayarat – Structural Adjustment Programme (SAP). Agenda utama SAP adalah meremukkan tatanan sistem dan eksistensi masyarakat adat di suatu negara agar sesuai dengan mekanisme pasar bebas yang mereka rekayasa.

1980. Indonesia menjadi santapan empuk neoliberalisme lewat perubahan kebijakan di sektor moneter dan keuangan; dari devaluasi rupiah sampai dengan pajak pertambahan nilai dan pajak bumi dan bangunan. Di bidang perdagangan, terjadi pengurangan tarif impor hingga 60 persen.

Resep jitu neoliberalisme melanjutkan ekspansinya di negeri ini ke sektor listrik lewat skenario pendanaan bersama; Bank Dunia, ADB dan JBIC. Di lanjutkan dengan masuknya perusahaan-perusahaan swasta dari negara maju yang siap menjarah sumber daya alam milik pribumi.

Apa yang brengsek dari skenario ini?

Perusahaan-perusahaan asing itu dapat menentukan harga menurut selera mereka sendiri. Kelakuan konglomerat global semata-mata didasari prinsip memberi sedikit mungkin, lalu menjarah sebanyak mungkin dari sumber daya alam yang tersedia. Inilah yang berlaku.

Cara yang paling mulus adalah memberi suap pejabat negara dimana pun perusahan-perusahaan asing itu beroperasi. Tidak jarang, mereka membantu rezim yang korup dalam urusan-urusan politik nasional.

Setelah tahun-tahun reformasi di Indonesia, rezim lama ditumbangkan. Tetapi tidak benar-benar runtuh. Rezim yang baru segera melanjutkan tradisi; penjarahan baru, eksploitasi baru. Juga janji-janji kemakmuran yang baru.

Tetapi kesenjangan sosial bukannya merosot. Ia semakin memuncak – menyapu nilai-nilai. Kemiskinan semakin parah. Sementara harta satu orang kaya sama dengan jumlah penghasilan setahun ribuan buruh.

Dan bagi sumber daya alam di rimba, inkonsistensi negara dalam pengelolaan kawasan hutan juga terus berlangsung. Ada sedikit perlindungan negara di sana, tetapi juga ada introduksi yang parah dari praktik-praktik pembangunan yang merusak; Juga oleh negara.

Begitulah…


Reformis

Nanggroe. Sebuah bangunan dingin tanpa kedaulatan. Bahkan di atas meja makan, kita dengan mudah menemukan produk label impor; yang sebenarnya bahan bakunya berasal dari belakang rumah kita. Ya, begitulah. Dan yang tampak oleh mata, mungkin kaum miskin di Jakarta hidup dalam keadaan yang lebih buruk dari kaum miskin di Aceh. Tapi kaum kaya di Aceh hidup sama mewahnya dengan kaum kaya di Jakarta. Sementara daya beli dari upah minimum terus merosot dari tahun ke tahun.

Saya rasa, istilah “reformis” telah mengandung makna yang buruk. Sebab mereka yang kini menjabat di pemerintahan sebagian besar adalah reformis – “laku tak sesuai cakap”. Ada kondisi lain yang mendasar, yaitu soal agraria. Ada berjuta-juta hektar tanah yang dibiarkan menganggur dan tidak difungsikan untuk memberi makan rakyatnya sendiri. Sektor pertanian seharusnya menjadi jalan keluar bagi barisan penganggur agar mereka bisa memperbaiki kondisi hidup. Tetapi sebagian besar tanah-tanah itu dikuasai kaum feodal dan tirani yang korup.

Bagaimana kebijakan pemerintah Aceh dalam rangka melindungi hutan?
Saya rasa mereka terlalu banyak bicara mengenai hutan ketimbang bagaimana sungguh-sungguh memecahkan masalah yang ada di Kawasan Ekosistem Leuser saat ini. Begitu juga yang ada di hutan raya Seulawah.

Di sana terdapat fakta orang-orang yang bekerja dan hidup dari hasil hutan, tetapi kita tidak boleh sewenang-wenang memaksa mereka keluar dari sana. Sebab ada bentuk-bentuk kehidupan yang dapat menyangga lingkungan dalam jangka panjang bagi mereka yang sudah lama tinggal di hutan. Negara seharusnya bisa membantu mereka agar dapat mengelola material-material berharga secara rasional dan ramah  – sambil menghentikan arus jutaan orang lainnya yang mengalir menuju sungai-sungai "emas" di sana dengan cara memberi mereka pekerjaan lain.

Negara tidak perlu lagi mengulang “tragedi” demi sebuah undang-undang untuk membunuh mereka yang belum tentu bersalah. Namun tidak ada program ekonomi yang berkelanjutan tanpa tindakan-tindakan nyata untuk menghapus perusakan ekosistem.

Di sini, negara harus melakukan strategi peningkatan-peningkatan di dalam standar hidup mayoritas rakyat, yang dapat membantu mereka berpartisipasi lebih efektif di dalam pemulihan basis sumber daya alam di sekitarnya.

Dan saya rasa, Dewan Perwakilan Rakyat yang datang dari partai politik yang brengsek itu harus dipaksa untuk menyerahkan proposal pembangunan alternatif kepada rakyat, proses-proses dialog yang mewakili suatu langkah kritis dalam menentukan kebijakan pembangunan yang adil dan berkelanjutan bagi seluruh rakyat.

Bila negara memaksakan keinginannya sendiri, itu sebenarnya gejala bahwa kedaulatan rakyat sedang disingkirkan.


Pinggir

Pinggir tidak melulu berarti tersingkir, ia bisa berarti kebebasan. Ya, kebebasan dalam pikir dan ide. Mampu berekspresi di tengah riuh orang ramai. Pinggir adalah kenyataan hidup yang terlihat – bukan dusta. Ia ada di tepi sebagai pelindung meski terkadang rentan.

Pinggir penuh makna… dan bisa menyentuh siapa saja.
Terkadang pinggir terlihat kotor, tapi bukan berarti tidak bisa dirawat. 
Dalam rumus bercinta, pinggir adalah kenikmatan yang panjang.
Begitulah…

Pinggir, mengapa ada? Mengapa diciptakan dan untuk siapa?

Pinggir adalah batas jadwal antara hari ini dan besok, antara yang telah lalu dan akan datang. Bisa saja ia meninggalkan jejak dan penyesalan.

Di pinggir kita bisa melihat jurang atau berkumur di kolam. 
Dan di pantai, pinggir tinggal terumbu yang mati. Tidak aneh, juga tidak ada janji yang membusuk.

Pinggir begitu luas, meski sering dianggap sebagai kata marginal dan diremehkan; dengan situasi kumuh, jorok, mencret dan tidak mengenakkan. Di pinggir orang bisa frustasi dan bunuh diri.

Pinggir,  ya pinggir. 
Yang bersahabat dengan siapa saja. Juga bisa menghancurkan siapa saja.


Di Luar MoU

Tak ada renungan sebelum tindakan. Ya, mungkin itulah sebabnya peluru tak perlu nalar dan tak membutuhkan tukar pikiran. Zaman berubah, dunia bergerak; terus dan terus. Tetapi “dunia” juga mereproduksi kebengisan dan menyebarluaskan kecemasan. Maka lahirlah kebengisan dan kecemasan dalam bentuknya yang baru.

Di sini, di luar ikrar damai, di luar Helsinki, di luar MoU, di Nanggroe, kita ditawari ucapan-ucapan yang bersifat makian dan hinaan, sikap hegemoni atas kebenaran sepihak. Kebengisan politik diskriminatif dan tidak apresiatif terhadap perbedaan, yang pada akhirnya membentuk bangunan kecemasan yang sangat dahsyat di masyarakat.

Fuad Mardhatillah UY Tiba, benar ketika menilai bahwa ada banyak warisan budaya politik masa lalu yang belum berubah tuntas di Aceh.

Damai belum sepenuhnya utuh.

Saya ingin mengamini itu, memang tidak gampang mengubah cara berpikir masa lalu: bertransformasi dari alam yang bengis ke alam yang benar-benar damai dan bermartabat. Atau jangan-jangan kecemasan dan trauma politik itu memang sengaja terus dirawat sepanjang abad. Oleh diri sendiri.

Dalam proses itu, hilang kemampuan orang untuk mempertimbangkan dan memahami perkara yang tengah berlangsung secara hati-hati. Orang pun terus-menerus berbicara provokatif. Sayangnya nada-nada semacam itu keluar dari mulut pejabat publik.

Sampai di sini saya tidak ingin melanjutkan. Biarlah itu menjadi urusan musang berjanggut, sebab merekalah yang memulai. Sebab saya juga khawatir kebengisan mereka tertuju kepada saya. Saya tidak ingin terburu-buru menyimpulkan. Maka saya lebih menyukai kesendirian, memperhatikan pohon tumbuh. Hening.

Dalam hening, saya tidak akan dikerubuti kecemasan. Dalam hening saya dapat merenung sebelum bertindak. Dalam hening ada karunia kebebasan. Karunia kemerdekaan. Tak perlu peluru.

Saya tidak membutuhkan istana untuk merasa merdeka. Saya pikir bangunan megah kurang mencerminkan hakekat kebebasan dan kedamaian. Mereka bisa membangun bangunan besar semegah istana, namun tetap tidak mendapatkan rasanya.

Sebab istana yang sesungguhnya adalah kedamaian, keheningan, kebebasan berpikir dan memilih.

Komprador

Semalam saya membaca kembali buku-buku tua; sejarah, kebudayaan,  catatan-catatan tentang revolusi, pemberontakan dan pengkhianatan. Paragraf yang paling sadis adalah ketika adegan seorang politikus membunuh cinta dalam jiwanya agar perasaan ingin berkuasa tetap dominan. Perasaan cinta dan kasih sayang yang ia tikam berkali-kali, sampai mampus.
Agama, nilai-nilai, cinta dan kasih sayang dianggap sampah yang memperbudak akal. Hidup adalah kekuasaan atas segala sesuatunya. Maka kerakusan dan kebengisan adalah perkara yang wajar. Nilai-nilai harus disingkirkan dan diganti dengan kesombongan rasionalitas. Rezim efektif menemukan ladangnya.
Inilah tragedi paradoksal dahsyat yang menghipnotis kita dengan mimpi-mimpi pepesan kosong; demokrasi, imajinasi, cyber, dan kesintingan kolegtif. Maka orang selalu ingin merampas apa yang bukan miliknya. Pengeksploitasian.
Di atas permukaan, rezim yang mendapat kekuasaan dari legitimasi pemilu yang menurut mereka cukup demokratis itu bergaya seolah-olah ikut prihatin dengan keterpurukan mayoritas rakyat. Tetapi sesungguhnya mereka adalah komprador dari gurita kapitalisme; faktanya, sebagian tokoh komprador swasta dan komprador negara dari rezim masa lalu kini masih memegang kunci dalam sistem politik dan ekonomi Indonesia. Ketergantungan negara ini kepada badan-badan pembangunan internasional di bawah PBB, dan modal asing lainnya justru semakin meningkat.
Dan bagi hutan serta sumber daya alam bernilai tinggi lainnya di sana, juga belum sepenuhnya dikembalikan kepada pribumi. Mereka di lembaga-lembaga terhormat negara pada rezim yang baru, segera bermetamorfosis menjadi komprador-komprador baru, terlibat dalam pemberian bermacam kemudahan bagi mesin-mesin kapital dan neoliberalisme lewat kebijakan tata ruang; menikmati pembagian royalti tinggi dan fasilitas mereka yang begitu mewah, di atas penderitaan rakyat.

Di sini, manuver dan pengaburan substansi kebenaran menjadi bagian skenario besar. Mereka sungguh-sungguh membangun kartel secara sistemik pada semua relung kehidupan, bermanifestasi di sentra-senta kekuasaan negara.

Bertahun-tahun rakyat terasing dari sumber daya alamnya yang mewah. Begitulah, rakyat yang sudah lebih dulu diracuni memang mudah terseret ke dalam mobilisasi politik para komprador; hubungan yang tak berguna.

Merkuri

Di jalanan, saya membenci pagi. Sebab di jalan - pagi begitu bising, begitu berisik, saling mendahului dan saling maki-memaki, klakson-mengklakson. Lebih berisik dari isi twitter dan lebih cerewet dari facebook. Tapi bagaimanakah mengalihkan perhatian ke pagi yang sepi 17 Mei 2013, di dalam sebuah mobil saat seorang ibu bersalin dengan keceriaan yang seketika mati. Aulida Putri mungil lahir dengan benjolan besar di dahi,  jari-jari tangan yang terputus dan jari kaki yang juga tidak sempurna.
Hanya dengan membungkam berisik,  kita bisa merasakan apa yang mereka rasakan. Barangkali kita perlu menyimak apa arti pagi bagi Aulida Putri. Bayi dari pasangan Warga Keude  Panga, Aceh Jaya itu.
Dari mana datangnya cacat?
Nidar, ibu kandung Aulida: ketika  hamil - melahap kerang yang dibawa pulang suaminya setiap pulang kerja, dan kerang itu ternyata beracun. Ya., kerang itu tercemar merkuri penambang emas Gunong Ujeuen Kecamatan Krueng Sabee.
Lalu datang petaka itu. Merkuri berada di belakang kisah hidup Aulida yang baru saja ia mulai. Tapi saya yakin, Aulida bukan sendirian, sebab merkuri adalah zat racun yang pelan-pelan tapi pasti bisa membunuh siapa saja.
Anehnya, gelombang kesadaran massa akan bahaya merkuri belum tersentuh. Para pendulang masih menggerakkan mesinnya, mengguyur merkuri ke tanah dan sungai-sungai. Dari mana datangnya rasa bengal akan kejahilan? Dari dalam dirinya yang ingin segera kaya raya? Bukankah para pendulang itu juga manusia? Bukankah mereka punya bayi?
Di sini saya kira, Tuan-tuan harus turun tangan. Sebab situasi sudah tidak biasa. Manusia sedang mengulang kejahanamannya. Melakonkan rutinitas tanpa melihat tangisan generasi masa depan.
Dan ini bukan perang biasa, tapi sebuah latar kengerian yang sangat merisaukan.
Pedulikah Tuan? Tidak cukup dengan kata-kata normatif, sebab korban sudah mulai berjatuhan, dan pasti akan susul-menyusul.
Bertindaklah Tuan.

Kacau

Suatu pagi di depan teras, lantainya sejajar tanah. Di kampung yang pelan-pelan kehilangan rimbun pohon. Ada suara tetangga menasehati anak lelaki, “ Nanti jangan nakal di sekolah ya, jangan ribut dan harus patuh pada guru, jadilah anak yang baik. Sebab kalau nakal dan tidak menurut akan dimarahi ibu guru atau dipuluki dengan penggaris”.

Sementara di udara, angin menerbangkan kepulan asap hitam, membuyarkan burung-burung yang bermain di langit. Asap dari cerobong pemecah batu pelan-pelan membunuh siapa saja. Tetapi karena pabrik itu milik mereka yang berpengaruh, semua dosa dari akibat kilang pemecah batu itu hilang begitu saja.

Kampung sedang bergerak dari keheningan ke keriuhan mesin.

Ibu-ibu berdesak di kios, berebut membeli LPG yang langka sejak seminggu. Di tempat yang jauh dari kota, hari itu mereka seolah-olah tidak bisa hidup atau langit akan runtuh tanpa desak-mendesak. Di persimpangan, remaja tanggung ramai memaku gambar politikus di pohon.

Kampung kehilangan suara alam, berganti mesin dan manusia-manusia yang dikacaukan, dan anak-anak sekolah yang takut pulang ke rumah bila tak lulus ujian. Sawah-sawah ramai menjadi bagian dari proyek tukar guling untuk membangun kantor camat dan kantor polisi di atasnya sebagai akibat pemekaran.

Di teras rumah, saya merenungi hidup, damai mengamati pohon tua. Mungkin sebab itu saya bisa mengerti mengapa ketika kakek kami masih hidup, orang-orang yang tertekan dan kebingungan, kehilangan jalan dalam hidup mereka datang ke rumah kami hanya sekedar untuk duduk dan mendengar pencerahan. Sebab di tempat lain keheningan telah hilang.

Di tempat lain, orang-orang berlomba menjadi juara. Terserah bagaimana caranya.

|Afrizal Akmal, 2014|.

Sajak Sunyi Di Awal Tahun

"Tahun Baru, Korupsi Baru". Itulah penggalan yang saya baca dari koran lokal. Sebuah editorial dari awak media yang sebenarnya belum benar-benar utuh. Dan di awal tahun 2014 ini, di dapur rumah kami ibu harus memasak dengan kayu bakar dari sisa-sisa ranting kering yang jatuh dari

Pasar

Di sini pasar bukan semata-mata tempat untuk jual beli atau pertukaran barang maupun jasa. Bisakah kita memperhatikan? Ada yang berbusana bagus, tetapi banyak juga pengemis yang buta atau kehilangan sebelah tangan atau kakinya. Beberapa orang memberi sedekah kepada pengemis

Buku: Aceh Wildlife

Saya mengenal Azhar (penulis buku ini) dari berbagai pertemuan khususnya mengenai Badak Jawa, Badak Sumatra, serta berbagai spesies penting yang ada di Aceh.  Kami sering berdiskusi mengenai metode dan pendekatan survey Badak serta biodiversity hutan Sumatera dan beberapa kali pernah terlibat langsung bersamanya dalam pelaksanaan survey Badak Sumatra di Aceh dan Lampung.

Semangat Azhar dalam menyelamatkan spesies selalu tertuang dalam tulisannya yang sering distribusikan melalui email internal WWF Indonesia dan juga melalui email dalam beberapa mailing list. Berdasarkan pengamatan saya, berbagai tulisannya terfokus kepada spesies kunci di Aceh seperti Harimau, Gajah, Orangutan dan Badak Sumatra. Oleh karenanya saya menyambut baik lahirnya buku ini sebagai dokumentasi dari wawasan, aspirasi, dan semangat Azhar. 

Buku ini merupakan suatu kompilasi dari banyak artikel yang ditulisnya dan ditambah beberapa tulisan yang belum pernah dipublikasi. Buku ini diharapkan dapat menjadi tulisan yang gampang dicerna dengan opini pendek dan pembahasan kritis,  namun berkisaran luas dari persoalan konservasi species kunci di Aceh dan Sumatera.

Opini-opini tersebut memberi penekanan mengenai persoalan species kunci yang selalu dirundung masalah dan kerap mengundang polemik akibat adanya orang yang tak sependapat dengan apa yang diuraikan. Tanpa tendensi apapun, tulisan Azhar memberikan apresiasi serius terhadap apa yang dipercayainya. Unik, dan juga kritis, serta menyuguhkan beberapa solusi pengelolaan.


Tulisan ini merupakan angin segar saat diperlukan penulis kreatif bidang satwa liar di Indonesia untuk memperkaya ilmu konservasi spesies kunci Sumatera. Ini merupakan hal yang penting untuk menginspirasi penulis-penulis muda lainnya untuk terus berkiprah di bidang satwa liar di Indonesia. Penulisan buku tidak mutlak perlu berbasis ilmiah, akan tetapi opini masyarakat dapat dibangun dari tulisan-tulisan popular dari pengalaman pegiat konservasi. Saya mengharapkan buku ini dapat menjadi dasar pemikiran untuk kampanye species kunci di Sumatera.


Bagi saya, buku ini merupakan wujud kepedulian, usaha dalam menyelamatkan species kunci Sumatera yang saat ini keadaan populasinya sangat kritis. Tanpa usaha penyelamatan secara serius kemungkinan akan punah, oleh karena itu, buku ini diharapkan dapat menjadi buah pemikiran dalam menyelamatkan species kunci di alam liar Sumatera.


Beberapa hal yang menjadi keunikan bagi saya antara lain adalah tulisan yang membahas tentang Hiu, Penyu dan burung, buku ini menggugah dan menyenangkan saya sebagai seorang pakar lingkungan untuk membacanya. Namun saya kira lebih dari itu, buku ini juga  merupakan sumbangan yang baik untuk konsumsi publik yang kurang peduli untuk menjadi sadar tentang persoalan satwa liar Indonesia.


Pada akhirnya buku ini juga dapat memberi warna pada pengelolaan species kunci di Aceh juga daerah lain di pulau Sumatera, saya selaku praktisi lingkungan hidup, menyampaikan penghargaan dan terimakasih atas penulisan yang dikemas dalam bentuk saran kritis dan solusi bagi pengelolan spesies kunci yang lebih baik di Sumatera. Semoga buku ini bermanfaat bagi kita semua.


PROLOG: Adhi Rachmat Hariyadi

Praktisi Konservasi Badak Indonesia,
Konsultan Biodiversity & Natural Resource Management
Hatfield Indonesia - Bogor

| BELI BUKU |

Penulis: Azhar
Penerbit: Pustaka Kutaradja
Layout sampul: Aloel
ISBN: 978-602-95075-2-2

Mengubah Sisa-Sisa Menjadi Pahala

Ingin berbagi manfaat dengan orang lain? Saya percaya, kita ingin sekali menolong orang lain dan memberi manfaat yang besar terhadap mereka. Namun masalahnya kita seringkali tidak punya waktu. Tapi benarkah kita lantas tak bisa melakukan sesuatu yang penting bagi orang lain dan lingkungan kita? Sebuah proyek sosial yang istimewa yang bisa kita tekuni setiap hari?

Bagi yang membaca komunike ini, saya ingin mengajak lebih banyak orang untuk menyediakan 20 menit sehari untuk menaruh tanah di polibag kecil, lalu setiap anda membeli buah-buahan di pasar dan membawanya pulang ke rumah untuk dimakan bersama keluarga, taruhlah sisa-sisa biji dari buah-buahan yang telah dimakan itu di dalam polibag, bukan membuangnya ke dalam tong sampah. 

Hasilnya, anda menjadi polinator, sebuah usaha untuk menyiapkan lebih banyak bibit-bibit yang bisa di tanam di kebun, di halaman rumah, di halaman kantor dan di lahan-lahan kritis, membagikannya kepada orang lain secara cuma-cuma untuk di tanam. Bukan hanya bermanfaat bagi manusia, tetapi juga bagi makhluk hidup lain yang memakannya, menciptakan alam yang rimbun dengan pohon-pohon tempat burung-burung dan lebah madu bersarang.

Dengan menyisihkan 20 menit saja sehari dalam proyek ini, kita mempunyai 120 jam setahun. Ini adalah jumlah waktu yang sangat berarti bagi kehidupan bumi yang lebih ramah.

Kita mungkin terbiasa mengatakan bahwa ini tidak mudah dijalankan. Tetapi sangat mungkin dan realistis. Jangankan seluruh manusia, satu keluarga saja. Bahkan, dari beberapa orang saja jika segera dilakukan, pasti akan memberikan hal yang positif dari 20 menit jam ekstra per hari.

Jadi mulailah menyusun perencanan sederhana, mengajak anggota keluarga dan menghubungi teman. Dalam waktu kurang dari satu tahun, niscaya proyek ini dapat terwujud.  Dan ketika kemauan mulai bergulir, semangat itu akan menyebar bagai virus dan menular pada lebih banyak orang. Apabila itu terjadi, banyak sekali orang yang memetik manfaat dari proyek sederhana ini.

Mengubah sisa-sisa menjadi pahala jariyah.