Deja Vu Hutan Kita

Kira-kira 15 tahun sejak ia dilupakan, reformasi sektor kehutanan hingga saat ini nyaris tanpa bentuk. Tak ada cerita sukses. Departemen Kehutanan juga tidak menunjukkan kemajuan dalam melaksanakan pembangunan kehutanan. Kritik kegagalan, kerusakan hutan yang terus meluas dan ketidakberdayaan masyarakat sekitar hutan terus menyeruak.

Dan sejuta simposium mungkin telah diselenggarakan dalam masa itu. Bahwa sumberdaya hutan sebagai penyangga kehidupan hanya menarik dikatakan dan indah didengar, tetapi sangat nisbi dan nyaris dalam realitasnya. Mengapa? Saya tidak bisa menjawab dengan pas.

Ceramah-ceramah resmi dari pemerintah terkadang sangat membingungkan. Hampir di setiap seminar dan lokakarya kita mendengar slogan-slogan yang sama tentang pelestarian hutan, lengkap dengan program yang merakyat dengan nilai-nilai kearifan. Sebuah perasaan aneh ketika tema yang sama sebenarnya pernah dikemukakan jauh pada acara-acara yang sama sebelumnya. Semacam sensasi misterius yang membuat kita tidak merasa asing dengan ceramah semacam itu.

Maka simposium semacam itu sesungguhnya hanya buang-buang waktu. Persis seperti perkara serupa yang pernah dialami dalam salah satu kehidupan reinkarnasi sebelumnya di masa lampau. Ia tak punya makna. Tetapi bertahun-tahun mereka seperti membangun ilusi, mendoktrinkan kegamangan tanpa garis lurus.

Dan rakyat yang mendengarkan atau yang turut serta dalam simposium itu seperti menderita Déjà Vu kronis, menjadi korban dari slogan-slogan atau sederetan kata-kata manis yang kemudian mereka lupakan setelah seminar berakhir. Ketika mereka menghadiri simposium berikutnya, tiba-tiba mereka merasa familiar dengan slogan itu lagi. Atau seperti berada dalam suatu peristiwa ketika tiba-tiba merasa bahwa mereka sudah mengalaminya walaupun tidak dapat mengingat kapan terjadinya. Itulah Déjà Vu.

Sungguh kita tak bisa mengerti sepenuhnya. Begitu banyak perkara serupa dari masa ke masa. Tak tuntas-tuntas.

2 komentar:

  1. Ya sayang sekali masalah yang direfleksikan di artikel ini tunjukkan perilaku biasa manusia diseluruh dunia.
    Saya mau masukkan sebuah kutipan dari Johann Wolfgang Goethe. Beliau terkenal di dunia mungkin juga kenal di indonesia.
    "Der Worte sind genug gewechselt,
    Laßt mich auch endlich Taten sehn!
    Indes ihr Komplimente drechselt,
    Kann etwas Nützliches geschehn"
    (Faust 1, sebuah drama sandiwara dari Goethe, dari tahun 1890 kira-kira)
    Artinya dalam terjemahan saya:
    "Kata-kata yang cukup bertukar
    Mari saya akhirnya melihat perbuatan!
    Sementara itu pujian nya diukir
    Dapat sesuatu terjadi yang punya kefaedahan."

    Ya masalah ini memang bukan masalah baru. Tapi menyedihkan banget kalau hutan semakin rusak sementara diukir program-program dan slogan dalam suasana nyaman di meja rapat.... Semoga semangat kita tetap ada ... saya siap.

    BalasHapus
  2. Ya, begitulah.
    Harus ada aksi nyata, agar kehidupan berjalan wajar.

    BalasHapus