Aceh dan Mall

Siang yang panas ternyata tidak menyurutkan niat Jamilah dan tiga orang anaknya yang masih kecil untuk berbelanja pada kemewahan. Meski kondisi perekonomian mereka tidak menentu, tetapi warga Gampong kami itu tetap saja memanksakan diri membelanjakan uangnya kepada simbolisme kedigdayaan kapitalisme itu. Mall.

Pasar besar atau pasar modern, apa pun namanya yang menyerupai sebuah sangkar beton dengan suhu yang diatur tempat beranak-pinaknya konsumerisme dan gaya hidup serba instan dari masyarakat maju telah menjangkiti Jamilah. Bagai virus budaya konsumtif yang terus mengakar kuat dalam dirinya. Bahkan seringkali mereka membeli barang-barang yang sebenarnya tidak mereka butuhkan. Seperti mantra.

Dan ketika itu di Aceh, ruang publik dengan segenap kepentingan ekonomi telah menjadi tempat menatap sekaligus ditatap. Dengan gaya pakaian, gaya berjalan dan gaya hidup yang menjadi ciri masing-masing masyarakat yang sedang gadung dengan perayaan, jauh dari konseptual. Ruang publik bukan lagi dianggap sebagai arena pembentukan keadaban publik, tetapi sekadar ranah komersial.

Para penanggungjawab pengelola kota ini sering terjatuh dalam pengingkaran makna ruang publik yang sesungguhnya, menyingkirkan sifat dasar manusia sebagai makhluk sosial itu sendiri, menjadi makhluk yang egosentris, hedonis, pragmatis, dan didominasi oleh pikiran kapital. Di sini boros itu benar, kemubaziran membawa hasil dan menandai gerak maju manusia.

Dimanakah tempat bagi pasar tradisional? Ia berada dalam ketidakpastian di tengah invasi pasar modern. Bahkan di lorong-lorong yang sempit, lapak-lapak dan gerobak siap diterkam, dihimpit pasar modern. Alasannya sederhana, kenyamanan dan kebersihan.

Kebutuhan masyarakat dengan gaya hidup modern sangat mempengaruhi pertumbuhan mall dengan citra modern ketimbang pasar tradisional yang terkesan kumuh, becek dan tidak higienis. Namun ada hal lain yang lebih kuat yang bertanggungjawab merumuskan bentuk kota ini, yaitu kebijakan Pemerintah Daerah.

Secara teoritik, sistem ekonomi kita memang semakin liberal yang ditandai dengan deregulasi, privatisasi dan liberalisasi. Melalui penanaman modal yang semakin besar maka katanya peluang lapangan kerja, peningkatan kesejahteraan masyarakat dan juga peluang usaha menjadi semakin besar. Akan tetapi melalui deregulasi tersebut justru yang terjadi adalah semakin besarnya intervensi perusahaan yang dapat mendesak usaha ekonomi rakyat lapisan bawah.

Mungkin Tuan lupa bahwa ada nilai-nilai lain dalam pasar tradisional yang tidak akan ditemukan di pasar modern, yaitu kerekatan sosial. Terjadi proses saling menyapa walaupun hanya sesaat. Tidak seperti mall yang mendorong sikap individualistik.

Akhirnya, kota tanpa tempat bagi pasar tradisional akan menjadi kota tanpa nurani. Hanya ada jalan raya dan mall. Bagaikan perempuan dengan wangi buatan.



Deja Vu Hutan Kita

Kira-kira 15 tahun sejak ia dilupakan, reformasi sektor kehutanan hingga saat ini nyaris tanpa bentuk. Tak ada cerita sukses. Departemen Kehutanan juga tidak menunjukkan kemajuan dalam melaksanakan pembangunan kehutanan. Kritik kegagalan, kerusakan hutan yang terus

Merchandise

Pembaca sekalian,
Merchandise ini adalah bagian dari fundraising untuk mendukung inisiatif konservasi Hutan Wakaf di Aceh, disamping pengumpulan dana tunai.

Bisa kirim ke seluruh Indonesia.
Call/SMS/WhatsApp [+62] 813-6020-0711




Memperhatikan Hutan

Semakin lama kita memperhatikan, semakin banyak yang kita lihat. Dan yang disebut penyelidikan sesungguhnya adalah memperhatikan sesuatu, bukan dengan sekali melihat lalu menamainya seolah-olah kitalah yang paling mengetahui tentangnya. Namun bagaimana kita melihat sampai kita kehabisan nama mengenai hal itu. Saat itulah kita mulai melihat hal-hal baru yang menakjubkan.

Termasuk juga hutan, jadi apa sesungguhnya hutan itu? Apa kita tahu apa hutan itu? Jika kita tahu hutan itu apa, kita akan berhenti menyelidikinya. Tetapi semakin banyak kita memperhatikan, semakin banyak hal yang menarik dari apa sesungguhnya hutan itu. Sederhana namun mendalam.

Sebuah eksperimen besar untuk diselidiki. Tetapi kita seringkali berhenti ketika mendapatkan gagasan mengenai apakah hutan itu. Apakah hutan sesungguhnya? Saya sering melihat peneliti di hutan, mungkin berkali-kali. Bila mereka mengatakan benar-benar paham tentang hutan, itu artinya penelitian mereka berhenti dan hubungan mereka dengan hutan mati. Jadi hubungan mereka dengan hutan segera berakhir. Mereka tidak pernah lagi menemukan hal-hal baru yang lebih menakjubkan lagi.

Jadi jangan berhenti pada gagasan, lalu merasa seolah-olah sudah mengetahui banyak hal. Tetapi lihat dan perhatikan lagi. Hutan itu sangat rapuh, suatu saat akan lenyap. Itulah sebabnya kita harus merawat dan memperhatikannya. Mari fokus pada perenungan ini.

Di bawah penguasaan negara, hutan selalu rawan terhadap perubahan status dan fungsi, tidak tetap. Kapan saja bisa disewakan kepada Jakal. Itulah sebabnya kita perlu peduli. Di tangan rezim, ia menjadi sangat rentan.

Analitik ini membuka suatu cara untuk berhadapan dengan realitas bahwa kita tidk bisa membiarkan hutan terus dirusak dan dipermainkan oleh kepentingan sebuah rezim, lalu oleh rezim lainnya atas nama negara. Sebelum hutan benar-benar menghilang di abad ini.