Merindukan Revolusi Kreatif

Lima belas tahun yang lalu, tepatnya di tahun 1998. Sebuah arus besar gerakan masyarakat dan mahasiswa meruntuhkan tirani Orde Baru di tengah krisis ekonomi yang terus memburuk. Ada kengerian dan amuk massa yang tidak rapi, meluas di seluruh daerah. Tentu saja banyak aktivis mahasiswa dan organisasi terlibat dalam berbagai demonstrasi yang tak jarang berubah menjadi aksi kekerasan.

Setelah tahun-tahun pergolakan emosi itu, ada kengerian lain di balik imperium baru ini yang tidak dibeberkan. Pengalaman reformasi yang sebenarnya jauh dari apa yang diimpikan. Reformasi ternyata tidak sepenuhnya utuh dan memberikan kemajuan, tidak menegakkan keadilan dan kemakmuran, tetapi justru melahirkan ketidakadilan baru. Reformasi menyingkirkan seorang tiran dan menghadirkan ribuan tiran sebagai penggantinya.

Dengan slogan kemajuan dan keadilan sosial, beberapa kelompok sosial telah berhasil mencuri simpati rakyat. Hanya sedikit orang yang benar-benar tulus dengan cita-citanya, selebihnya adalah mayoritas penipu. Maka pada titik ini, gerakan sosial tidak boleh hanya dilihat dari maksud, deklarasi ideologi dan janji-janji, tetapi dari kinerja mereka yang sebenarnya.

William Blake benar ketika menulis syair di abad ke-16, “Tangan pembalasan dendam menemukan pembaringan, tempat sang ungu kabur. Tangan besi menghancurkan kepala sang tiran, dan menjadi sang tiran baru, menggantikannya.”

Banyak aktivis sosial awalnya adalah orang-orang baik yang ingin menolong orang lain. Akan tetapi ketika mereka sendiri sudah berada di tampuk kekuasaan dan kewenangan, mereka berubah menjadi tiran yang baru. Di sini kita perlu berhati-hati. Hal pertama yang mesti dilakukan dalam aksi sosial sesungguhnya adalah melatih diri kita sendiri dengan benar-banar baik, dalam sikap yang indah. Dimana orang-orang boleh menindas kita, melukai kita, atau bahkan membunuh kita. Namun kita tidak perlu melayani pemikiran balas dendam.

Maka yang dirindukan di masa depan adalah revolusi kreatif yang dijelmakan dalam tindakan kolektif tanpa amuk massa. Revolusi sebagai transformasi masyarakat yang fundamental, keluasan dan kedalaman perubahan yang meliputi semua bidang kehidupan; ilmu - politik - ekonomi - sosial budaya, bukan sekedar perubahan politik atau ekonomi saja. Kalau pun revolusi selama ini dipahami penuh dengan kekerasan, saya ingin mengajukan keberatan.

Revolusi adalah perubahan domestik yang cepat dan fundamental yang bisa dilakukan tanpa kekerasan berdasarkan bukti-bukti sejarah. Lihatlah Gandhisme di India dan gerakan yang mendorong jatuhnya komunisme di sebagian negara Eropa Timur. Sayangnya banyak pengamat tidak menyebutkan gerakan mereka sebagai gerakan revolusi.


3 komentar:

  1. "Merindukan Revolusi Kreatif" adalah refleksi yang mendiskusikan hal benar yang muncul diamana-mana di dunia. Kebetulan saya berasal dari sebuah kota yang pernah memulaikan revolusi yang dicetuskan dari masyarakat biasa. (Revolusi tanpa kekerasan) Saya sendiri adalah sebagian revolusi tersebut. Waktu itu masalah yang ditampilkan diatas nampak juga, akan tetapi ada juga masalah lain yang lebih kuat. Yaitu masalah bahwa orang-orang (masyarakat) pada umumnya terutama ingin memenuhi keinginan material, konsumsi dan kemewahan. Pemikiran mereka semuanya sangat dipengaruhi oleh kebutuhan materialnya. Sayangnya, banyak orang tidak kesederhanaan.

    BalasHapus
  2. Ya. Terima kasih telah berbagi pengalaman dalam komentar ini. Sangat bermanfaat...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya sama-sama. Jangan kita lupa ada rencana untuk mendalam persoalan ini. Salam

      Hapus