Hutan Kita

Sudah seperti apa gerangan hutan kita?. Sebuah pertanyaan yang kerap memergoki saya. Ada yang terlupakan dan ada yang perlu diingat selama ratusan tahun. Khatulistiwa yang diapit benua Asia dan Australia menjadi arena perebutan antar imperialis sejagat. Bangsa-bangsa imperialis itu rela meninggalkan tanah airnya untuk merampok sumber daya hutan kita demi kemajuan industri negeri mereka. 

Hutan menyimpan ingatan, bagai sebuah monumen penghalau erosi. Kerusakannya pertanda malapetaka. Namun lebih jauh, hutan menyimpan “fungsi sosial” – ada pemilik dan juragan, ada transaksi, hirarki Si Tuan dengan kaum yang terasing atau pribumi yang tak bebas. Hutan juga sebagai ruang hidup hewan dan tumbuhan. Sebuah habitat dari rantai makanan Si Kecil dan Si Besar.

Bagi rimbawan sejati, hutan adalah petualangan yang heroik. Kadang kala bisa tersesat dalam raba dan pikir. Modernitas dari berbagai sektor melalui pembangunan yang tak ramah membawa akibat sampingan yang tragis. Modernisasi menempatkan manusia dan hutan pada titik krisis.

Dan apa yang tersisa kini? Kemarau panjang dari menipisnya hutan menjadikan sawah-sawah tidak cukup terairi. Sumber-sumber air mengering seiring mengeringnya harapan para petani.

Hutan adalah kesenjangan bagi impian si pribumi. Kesenjangan antara konsep dan realitas. Resultante pembangunan sektor kehutanan kini justru menghasilkan beragam fakta yang jauh dari harapan, malpraktek dan konflik sosial di hampir semua kawasan, bahkan dimana undang-undang pelarangan penebangan hutan itu diberlakukan.

Inilah potret aktual sumber daya hutan kita saat ini. Konversi untuk berbagai kepentingan telah memusnahkan ekosistem. Akibatnya, iklim terus mengalami pergeseran dan mengancam keberlanjutan kehudupan.


0 komentar:

Posting Komentar