Damai

Biasanya setiap kali bertemu dengan Si Petani Bijak, ia selalu mengejek atau menertawai saya. Tapi kali ini tidak seperti biasanya. Hari ini kelihatannya ia sangat ramah. Saya tahu ia mengetahui banyak hal yang saya lakukan. Ia juga tahu kalau pekerjaan saya sebenarnya hanya
 memprotes-protes saja, seringkali tak ada penyelesaian.

Si Petani Bijak mulai memberikan nasehat, “tidak apa-apa menggerutu atau memprotes, namun janganlah terlalu serius sampai terjebak di dalamnya. Dengan cara itu kamu bisa mendapatkan kedamaian. Kamu bisa berteriak di jalan, mengatakan apa yang kamu inginkan, namun jangan merusak suasana hati.”

Ia mulai mengajari saya akan hal ini. Saya mulai teringat seorang teman, seorang perempuan yang sangat baik. Ia tak mau makan. Bukan karena ia ingin diet, namun karena ia berpikir mogak makan adalah cara untuk mencapai tujuan. Ia melakukan protes kepada pemerintah dengan cara mogok makan. Tentu saja ia menderita, mirip sekali dengan penderita anoreksia.

Kadang orang terlalu ekstrim sehingga tujuan memprotes sebuah kezaliman berpindah menjadi kemarahan sejati yang meninggalkan kesan dan jejak buruk bagi diri sendiri. Butuh waktu lama untuk kembali menenangkan diri.

Saya tidak sengaja menaruh perhatian kepada dua orang tokoh yang kini diperbincangkan. Mereka masih saja berseteru satu sama lain tanpa ada tanda-tanda kapan akan berakhir. Saya ingin sekali untuk mengajak mereka tersenyum besar dan lebar. Menyebutkan namanya di sini sangat tidak enak. Itu sungguh mengungkapkan segalanya.

Tapi marilah kita tersenyum dengan begitu damai. Memang tidak mudah, tetapi marilah piawai dan bersungguh-sungguh untuk berdamai. Saya yakin kemarahan bukan bagian dari diri kita. Kemarahan bukan keterlibatan pribadi pada suatu peristiwa yang tidak bisa kita lepas dengan segera.

Kalaulah sudah sedemikian parah. Sudah tidak ingin berdamai dalam hati, minimal bisalah berakting rukun di tengah keramaian. Jangan bertengkar di pasar.



0 komentar:

Posting Komentar