Seulawah Dalam Nalar Instan

Melintasi pegunungan Seulawah. Agaknya saya harus menanggung beban moral, tekanan, mungkin juga kecemasan. Pohon-pohon pinus kini hampir semuanya diganti ketela dan jagung, lembahnya mengering. Landskap yang telah berubah, bukan saja bentuk – Tetapi juga fungsinya. Kemurnian telah begitu cepat menghilang, diganti oleh rasa curiga. Ada sangkaan bahwa mereka yang seharusnya menjadi penjaga ternyata juga pencuri. Pagar makan tanaman.

Tapi inilah corak sebuah bangsa yang sedang didera keserakahan dalam memperoleh penghasilan.  Konservasi seringkali dibenturkan dengan kepentingan kesejahteraan, tanpa mau dimengerti lebih dalam apa makna dari konservasi itu sendiri. Dengan alasan itu, pelestariannya diabaikan. Padahal koservasi bukan hanya bermakna perlindungan dan pengawetan, tetapi juga mengandung aspek pemanfaatan secara berkelanjutan. Inilah yang tidak sepenuhnya dimengerti.

Selintas, orang-orang di sana dikesankan sebagai kaum primitif. Tapi kesan itu keliru, sebab pada kenyataannya para pekerja di ladang-ladang liar itu didatangkan dengan kenderaan-kenderaan pribadi. Bahkan ada yang mengendarai mobil “plat merah”. Persisnya, mereka dan pejabat sama-sama akrab.

Mereka beragama, tetapi theologi bukanlah sesuatu yang mereka aplikasikan. Mereka larut dalam rasionalisasi untung rugi jangka pendek, dalam nalar yang instan. Persahabatan dengan alam sudah tidak lagi asyik.

Tapi mereka tak berdiri sendiri. Ia hadir dari kehidupan yang dibangun para imperium yang sedang berkuasa. Arah yang tak terarah, pembangunan instan tanpa tujuan. Yang ada hanya abstrak yang dikondisikan. Satu bagian dari lembah Seulawah itu, berdiri pagar milik Tuan serdadu.

Dan ketika pohon-pohon pinus itu ditebas terus-menerus ; yang primitif, pejabat dan Tuan serdadu - Mereka semua tak ada bedanya. Semua rakus.



0 komentar:

Posting Komentar