Si Petani Bijak dan Nasehatnya

Alkisah di sebuah negeri, saya bermaksud menawarkan setumpuk proposal dari segudang himpunan kebijakan dan analisis jitu dari masalah-masalah yang saya temui kepada Tuan Paduka. Menceritakan kembali siapakah Tuan Paduka itu akan sangat tidak enak, sebab Tuan Paduka di negeri itu telah memutuskan boleh menumpahkan darah rakyat demi menyelamatkan nyawanya.

Ketika satu proposal telah diterima, saya menawarkan satu tumpukan proposal lagi, begitu seterusnya. Saya merasa bahagia telah menemukan pemecahan masalah yang menakjubkan. Saya diundang kemana-mana, menjadi bahan pembicaraan di dalam istana, disiarkan di televisi dan dimuat di koran-koran.

Suatu hari di pertengahan jalan, saya berjumpa dengan seorang petani yang kelihatannya miskin. Ia kurus dan hanya bersandal jepit. Ketika duduk beristirahat bersama, saya menemukan bahwa petani yang miskin itu ternyata sangat bijak, mengetahui banyak hal dengan gagasan dan ide-ide yang besar. Sekali lagi, saya tidak dapat menyembunyikan kekaguman terhadap kecerdasannya.

Si petani menanyakan apa yang saya bawa dalam sebuah tas besar.  Saya jawab, “setumpuk proposal dan himpunan kebijakan palsu”. Si petani bijak itu tertawa. Ia mengejek saya yang menghabiskan usia hanya untuk menganalisa masalah-masalah besar tetapi tidak satu pun benar-benar memberikan penyelesaian. Dia menuduh saya berbicara besar dan hanya bertindak sia-sia, “kamu sama tololnya dengan Tuan Paduka yang mempercayai himpunan kebijakan palsu yang kamu tawarkan”.

Saya ingin pergi saja dan menjauh. Tetapi Si petani bijak menambahkan nasehatnya, “sebuah kebijakan yang engkau lahirkan dari kepala insani tidak lebih dari sebuah khayalan palsu. Hanya menambah derita. Sebab kebijakan seperti itu tidak mendapat berkah yang mengalir dari cahaya kemuliaan Ilahi. Kamu suka menyembunyikan hati dalam kecerdikan dan siasat permainan bahasa. Jauh dari pengetahuan tentang Dia Yang Maha Bijaksana. Pengetahuan kamu tentang dunia hanya memberikan dugaan-dugaan dan keraguan. Maka berjuanglah untuk melepaskan kebijakan palsu dari kepalamu jika ingin bencana dan derita benar-benar menghilang dari hidupmu.”

“Dan bagi Tuan Paduka itu, Ia harus disembuhkan jiwanya dengan sentuhan suara anak muda yang bersih. Bukan dengan segudang himpunan kebijakan palsu. Dengarkanlah suara anak muda yang berjuang demi masa depan bumi yang ramah, bukan mencari keselamatan dengan menghancurkannya.”

Petani bijak itu adalah sosok imajiner dalam cerita ini. Saya tersinggung dan malu dengan sosok petani dalam karangan saya sendiri.



Seulawah Dalam Nalar Instan

Melintasi pegunungan Seulawah. Agaknya saya harus menanggung beban moral, tekanan, mungkin juga kecemasan. Pohon-pohon pinus kini hampir semuanya diganti ketela dan jagung, lembahnya mengering. Landskap yang telah berubah, bukan saja bentuk – Tetapi juga fungsinya. Kemurnian telah begitu cepat menghilang, diganti oleh rasa curiga. Ada sangkaan bahwa mereka yang seharusnya menjadi penjaga ternyata juga pencuri. Pagar makan tanaman.

Tapi inilah corak sebuah bangsa yang sedang didera keserakahan dalam memperoleh penghasilan.  Konservasi seringkali dibenturkan dengan kepentingan kesejahteraan, tanpa mau dimengerti lebih dalam apa makna dari konservasi itu sendiri. Dengan alasan itu, pelestariannya diabaikan. Padahal koservasi bukan hanya bermakna perlindungan dan pengawetan, tetapi juga mengandung aspek pemanfaatan secara berkelanjutan. Inilah yang tidak sepenuhnya dimengerti.

Selintas, orang-orang di sana dikesankan sebagai kaum primitif. Tapi kesan itu keliru, sebab pada kenyataannya para pekerja di ladang-ladang liar itu didatangkan dengan kenderaan-kenderaan pribadi. Bahkan ada yang mengendarai mobil “plat merah”. Persisnya, mereka dan pejabat sama-sama akrab.

Mereka beragama, tetapi theologi bukanlah sesuatu yang mereka aplikasikan. Mereka larut dalam rasionalisasi untung rugi jangka pendek, dalam nalar yang instan. Persahabatan dengan alam sudah tidak lagi asyik.

Tapi mereka tak berdiri sendiri. Ia hadir dari kehidupan yang dibangun para imperium yang sedang berkuasa. Arah yang tak terarah, pembangunan instan tanpa tujuan. Yang ada hanya abstrak yang dikondisikan. Satu bagian dari lembah Seulawah itu, berdiri pagar milik Tuan serdadu.

Dan ketika pohon-pohon pinus itu ditebas terus-menerus ; yang primitif, pejabat dan Tuan serdadu - Mereka semua tak ada bedanya. Semua rakus.