Tragis Di Nanggroe

Suatu sore yang indah, di tempat yang agak tinggi dan di antara tebing. Panorama dengan latar sawah dan bukit barisan tampak sederhana. Sinar matahari merah tepat dicelah daun aren, menantang tentang apa yang akan saya tulis sesaat sebelum ia benar-benar menghilang di ufuk barat. Tidak jauh dari sebuah Taman Nasional. Bagian dari suatu biosfer. Namun saya khawatir akan salah menangkap pesannya.
 
Mungkin seorang environmentalist benar ketika konservasi diartikan sebagai cara bijaksana mengelola biosfer bagi keperluan manusia, yang menghasilkan manfaat secara berkelanjutan bagi generasi kini dan menetapkan potensi untuk memenuhi kebutuhan dan aspirasi generasi di masa depan. Environmentalist menghendaki adanya kearifan terhadap pemanfaatan sumber daya alam dalam rangka mengembangkan keuntungan ekonomi, dengan prinsip-prinsip kelestarian menuju satu-satunya jalan mencapai pembangunan berkelanjutan. Sesuatu yang kerap ditentang oleh para eksploiter.

Banyak yang masih berpendapat bahwa konservasi justru menghambat pembangunan, melarang kegitan pemanfaatan. Kekeliruan cara pandang seperti ini disebabkan oleh terbatasnya komunikasi, baik melalui sosialisasi, interpretasi ataupun terbatasnya pendidikan lingkungan dan gagalnya pemerintah dalam memberi contoh-contoh praktis yang mudah dipahami masyarakat. Ironisnya, banyak juga dari pejabat pemerintah yang ternyata masih belum memiliki pengetahuan yang cukup tentang hal ini.

Di banyak tempat, orang seringkali memberi gambaran keliru bahwa konservasi tidak berpihak kepada masyarakat miskin dan menghambat lapangan pekerjaan mereka. Banyak pengalaman menunjukkan bahwa kegiatan konservasi ternyata sering keliru dalam penerapan dan mendapat perlawanan masyarakat sekitarnya, tersinggung dan merasa dirugikan, dibatasi dengan berbagai aturan yang menutup akses terhadap sumber daya alam setempat.

Di sinilah celahnya, perkara dari tindakan yang tidak utuh. Realitas yang membelok, kehilangan substansi. Pada titik ini, konservasi dianggap kadaluarsa dan kaum environmentalist menjadi sekedar bayang-bayang. Sebab ada kekuatan feodal yang selalu mengatakan “akulah Aceh, bukan kalian”. Jangan menggugat.

Mungkin karena di sana, di sudut lain sedang ada tamu asing yang sensitif, sedang makan malam bersama musang berjangggut. Meningkahi irama dengan nada yang lain. Dalam komunikasinya kira-kira begini: “Kalian harus bikin suatu kajian secara terperinci apa yang disenangi para investor asing, atur regulasinya sesuai dengan keinginan mereka”.

Apa yang tragis di Nanggroe? Adalah ketidakpedulian kepada sejarah imperium kapital di masa lalu. Kehilangan kepekaan terhadap tragedi klimaks yang pernah berdarah-darah.


0 komentar:

Posting Komentar