Cagar Alam dan "Kepentingan Lain"

Barisan pohon pinus yang terbakar. Kumpulan vegetasi yang unik dan memberi pesan mengenai berbagai cerita kebengisan para pembalak. Tentang gemuruh pohon tumbang dan gergaji mesin yang tak pernah berhenti. Siamang dan Owa yang ketakutan. Kucing hutan, rusa dan trenggiling yang patuh pada kematian.
Macan dahan, harimau dan gajah terjebak dalam fragmentasi yang semakin sempit. Terkurung atau pergi dan sesekali membalas. 

Proyek jalan kapital sejak 1991 yang dipertengkarkan itu telah membentang terlalu jauh ke dalam Cagar Alam Jantho. Memberi akses bagi ratusan pembalak liar untuk memungut pohon secara cuma-cuma. Becak-becak mesin mengantri di pinggiran jalan, memuat kayu dan mendistribusikannya ke kota tanpa perasaan gugup. Nyaman sekali. 

Cagar alam Jantho, 50 kilometer dari Banda Aceh. Suatu kawasan suaka alam karena keadaan alamnya mempunyai kekhasan tumbuhan, satwa, dan ekosistemnya yang perlu dilindungi perkembangannya secara alami. Tempat dimana semestinya kita berusaha mempelajari bagaimana mengatur kehidupan dan bisa hidup dalam kesatuan bersama semua makhluk hidup, yang menawarkan perdamaian dan ketentraman. Semestinya kita bisa mempelajari berbagai sifat yang baik dan keadilan yang sejati.

Dan di kota, mobil patroli kehutanan tampak gagah di parkiran Mall. Rimbawan picisan itu dipekerjakan tanpa ukuran keberhasilan. Merunyamkan kepercayaan kita. Apakah mereka mati? Mereka tidak benar-benar bergerak. Mari kita amati. Kita harus merenungkan hal ini. 

Kita keliru telah meyakini pemantauan Cagar Alam dan kawasan konservasi hanya dapat dilakukan oleh orang-orang dengan pendidikan dan gelar akademik yang tinggi. Bukankah yang memenuhi syarat untuk melakukan pekerjaan itu adalah pemangku kepentingan dalam masyarakat yang paling akrab dengan kondisi setempat? Sayangnya para pemangku kepentingan itu juga seringkali tidak berdaya ketika harus berhadapan dengan “kepentingan lain”. Atau jangan-jangan mereka juga telah turut serta menjadi bagian dari kepentingan lain itu.

Semakin tinggi keraguan – apakah mungkin secara aktif melindungi sumber daya alam dari kerusakan, di tengah korupsi yang meluas hingga ke relung penegakan hukum. Apalagi jika investasi dalam kegiatan penegakan hukum berbiaya tinggi.



0 komentar:

Posting Komentar