Berbuka

Di sebuah ruang terbuka, sore itu di taman yang belum rampung. Orang-orang ramai menunggu waktu berbuka puasa sambil bermain di taman. Burung-burung kecil berkicau lalu terbang. Seekor biawak bergegas melarikan diri. Mereka bergerak memberi peringatan kepada teman agar waspada. Penuh perhatian. Cinta yang mereka miliki, selalu melindungi teman-temannya yang lain.

Perempuan pengemis setengah baya duduk di tanah sambil mengipas bayi. Di sudut lain, sales perusahaan properti membagikan brosur tentang perumahan. Dan di seberang jalan, sebuah restoran sedang mempersiapkan menu berbuka. Orang-orang berdatangan dari jauh. Mereka adalah para eksekutif, politisi dan orang-orang yang ketiban aji mumpung. Berbuka puasa bukan lagi untuk mengingat orang yang lapar. Disini, bulan puasa adalah rangkaian pesta makan dari magrib ke magrib.

Menjelang pemilu, momentum puasa bisa menjadi arena yang tepat bagi para caleg untuk konsolidasi, semacam kampanye terselubung. Para caleg bisa berlomba melakukan pencitraan dengan memperlihatkan kesalehan, kekayaan dan status sosial kepada konstituennya.

Sekilas, semaraknya buka puasa di tempat-tempat mewah dapat menunjukkan bangkitnya kebudayaan dan ekonomi ummat Islam. Tapi apakah benar demikian? Jangan-jangan buka puasa bersama di restoran-restoran mewah dan hotel-hotel hanya sebagai upaya mengisi kekosongan eksistensi saja.

Setiap tahun di bulan puasa, teman saya yang berprofesi sebagai mubalig bercerita bahwa memberikan ceramah singkat pada acara buka puasa bersama adalah sebuah ukuran produktivitas, apalagi yang mengundang adalah partai politik atau korporasi besar. Sekali waktu dia diundang teman sebuah partai politik. Mereka yang terdiri dari politikus hebat mempresentasikan capaian elektabilitas partainya dengan sangat menarik, bahkan lebih menarik dari ceramah rohani teman saya ini.

Tapi saya menjadi teringat saat-saat berbuka di kampung halaman dulu. Buka puasa dengan iuran sesama. Ada juga inisiatif dari orang dermawan untuk mengundang anak-anak yatim dan miskin untuk berbuka bersama di rumahnya. Ada juga yang mendatangi rumah-rumah miskin dengan membawa makanan berbuka. Mereka yang dermawan itu berpuasa dan rasa laparnya mengingatkan mereka kepada yang sering lapar. Karenanya, di kampung kami dulu orang-orang miskin melihat orang kaya dengan rasa hormat. Tidak banyak kecemburuan sosial dan deprivasi ekonomi. Cinta, kesabaran, toleransi, kedamaian, kebajikan, kasih sayang, kebenaran, keadilan, kesadaran, dan integritas dulu menyatu dalam masyarakatnya.

Tetapi nasib memang berbeda. Sehingga kita bisa memahami perbedaan antara kearifan dan kebodohan. Dunia yang lalu dan dunia yang sekarang, kebenaran dan kebohongan, kebaikan dan kenaifan. Di komunitas warga tepian taman kota ini, kesenjangan sosial selalu saja diproduksi. Kesombongan, kecemburuan, kemarahan, ketidaksabaran dan egoisme berbaur dalam masyarakat yang sesak. Rumah-rumah besar adalah raksasa rakus perut-perut besar. Sementara orang-orang ramah berubah radikal karena keadaan. Mereka kecewa oleh reformasi yang telah mati.

Dan disini, rasa hormat telah habis. Bila Tuan sangat membutuhkannya, Tuan bisa membelinya di pasar sebanyak yang Tuan inginkan.



0 komentar:

Posting Komentar