Garuda Tenggeng

Kera-kera yang tak lagi liar, babi hutan memakan sisa kelapa muda dari sampah para pedagang yang tidak terurus. Berserak. Wisatawan setengah telanjang yang mengomel tentang bising sepeda motor yang melintas. Mereka saling bersentuhan, tapi dengan nasib dan mimpi yang terpisah. Hari itu mereka di tugu kilometer nol, dalam satu ruang dan waktu. 

Di ujung tugu itu burung garuda tenggeng diterpa angin barat Selat Malaka  dengan kaki mendongak ke langit. Lempengan logam kaku yang bisu. Tak berarti dan terasing. Selebihnya hanya pilar-pilar, juga vandalisme remaja tanggung di pohon.

Dan dalam benakku, berderet pertanyaan. Apakah si pandai besi yang mengukir logam mirip burung itu sepenuhnya mengerti maknanya. Apakah si penggagas lambang negara itu dulunya benar dan tidak keliru dalam mewariskan arti. Dan apakah ahli warisnya juga demikian. Bahkan burung itu tidak lengkap anatominya, hanya satu mata dan satu telinga di kepala yang menoleh ke kanan, tanpa bulu dada. Tidak jelas apakah ia jantan atau betina.

Tetapi peradaban terus bergerak menjauh dari titik nol, meski tanpa perhatian kita. Mungkin juga tanpa arti. Tetapi selalu ada makna. Seperti tertulis kontras di sebuah pos penjagaan tentara, tidak jauh dari tugu kilometer nol itu: “Lusa Aku Mati”. Saya tidak mengerti apakah kalimat semacam itu mengandung sesuatu yang penting. Setiap yang lewat hanya menoleh sebentar, sebab jika berlama-lama berarti “cari ribut”.

Tidak mudah mendefinisikan apa yang tampak janggal secara rasional. Sebab pasti ada sesuatu yang lain, yang bergerak cepat menelantarkan simbol-simbol. Sebab ia telah lama membosankan. Sebab ia telah lama angkuh terhadap yang hidup, tidak memberi harapan kecuali hayalan hampa. Sebelum akhirnya tenggeng di kilometer nol.


0 komentar:

Posting Komentar