Garuda Tenggeng

Kera-kera yang tak lagi liar, babi hutan memakan sisa kelapa muda dari sampah para pedagang yang tidak terurus. Berserak. Wisatawan setengah telanjang yang mengomel tentang bising sepeda motor yang melintas. Mereka saling bersentuhan, tapi dengan nasib dan mimpi yang terpisah. Hari itu mereka di tugu kilometer nol, dalam satu ruang dan waktu. 

Di ujung tugu itu burung garuda tenggeng diterpa angin barat Selat Malaka  dengan kaki mendongak ke langit. Lempengan logam kaku yang bisu. Tak berarti dan terasing. Selebihnya hanya pilar-pilar, juga vandalisme remaja tanggung di pohon.

Dan dalam benakku, berderet pertanyaan. Apakah si pandai besi yang mengukir logam mirip burung itu sepenuhnya mengerti maknanya. Apakah si penggagas lambang negara itu dulunya benar dan tidak keliru dalam mewariskan arti. Dan apakah ahli warisnya juga demikian. Bahkan burung itu tidak lengkap anatominya, hanya satu mata dan satu telinga di kepala yang menoleh ke kanan, tanpa bulu dada. Tidak jelas apakah ia jantan atau betina.

Tetapi peradaban terus bergerak menjauh dari titik nol, meski tanpa perhatian kita. Mungkin juga tanpa arti. Tetapi selalu ada makna. Seperti tertulis kontras di sebuah pos penjagaan tentara, tidak jauh dari tugu kilometer nol itu: “Lusa Aku Mati”. Saya tidak mengerti apakah kalimat semacam itu mengandung sesuatu yang penting. Setiap yang lewat hanya menoleh sebentar, sebab jika berlama-lama berarti “cari ribut”.

Tidak mudah mendefinisikan apa yang tampak janggal secara rasional. Sebab pasti ada sesuatu yang lain, yang bergerak cepat menelantarkan simbol-simbol. Sebab ia telah lama membosankan. Sebab ia telah lama angkuh terhadap yang hidup, tidak memberi harapan kecuali hayalan hampa. Sebelum akhirnya tenggeng di kilometer nol.


Telekisah Banjir dalam Al-Quran

Seorang lelaki tegap diejek sekerumunan orang, dari kaumnya sendiri, “Kamu terlalu banyak bicara, cobalah tunjukkan janjimu jika kau memang benar”. Lelaki itu bangkit dan berkata, “Tuhanlah yang akan menunjukkan itu kepadamu jika Ia mau, dan kalian tidak akan dapat mengelak”. Hampir saja ia prustasi dan ejekan kaumnya

TNGL, Konflik dan Red List

Gunung Leuser, dahulu masyarakat menggantungkan segala kehidupannya pada hutan, baik masyarakat yang tinggal di kawasan hutan maupun yang memanfaatkan hutan dalam mencukupkan kehidupannya. Jauh sebelum konsep Taman Nasional diperkenalkan. Kini tidak seramah dulu. Ada konflik struktural yang diekspresikan

Juni

5 Juni. Kali ini saya ingin memperingatinya sendirian, di hutan. Melihat dan memperhatikan lumut yang menggunung, setua peradaban. Dan di dalam masa itu, tentu saja waktu tidak seragam sifatnya. Dunia sebagaimana kita kenal adalah semenjak plastik belum digunakan. Pada masa itu, dunia dihuni dengan rasa cukup nyaman, tanpa revolusi industri.

Perubahan-perubahan besar terus bergerak, bahkan secara dramatis. Masyarakat dalam koloni masa kini merasa aman dengan ide ganjil, serba sintetik. Dan dalam kondisi ini, tanpa kita sadari dunia dapat binasa dalam satu detik saja. Lubang besar di lapisan ozon telah menganga di kutub Selatan dan hujan asam terus meningkat. Kita memakan lebih banyak makanan daripada yang sanggup kita tanam.

Di jalan setapak yang tiba-tiba runtuh, ketika saya berjalan menyusuri hutan yang telah berubah menjadi lahan sawit tampaknya tidak lagi cukup mengejutkan. Ada perubahan atomik. Pasir-pasir menyerah oleh tekanan kapitalisme yang bertubi-tubi hingga meremukkan grafitasi. Amblas.

Kita hampir saja terjebak oleh anggapan bahwa bumi begitu luas dalam ruang tanpa tepi. Akibatnya, jika terdapat kenaikan temperatur 10 derajat Celcius, kesan kita akan hal itu masih kurang besar dan tidak begitu mengesankan, sampai akhirnya kita terkejut bahwa kenaikan suhu yang demikian dapat membawa air laut lebih 100 meter di atas garis pasang.

Tanpa sadar kita telah jauh melangkahi ambang pintu perubahan, mungkin diujung berakhirnya alam. Pada titik ini, kita bisa melihat dengan gamblang, apa yang telah kita lakukan. Hutan-hutan hujan tropis sedang menghilang di abad ini dengan membawa species tumbuhan dan hewan, bukan dengan cara perlahan. Kita segera kehilangan sumber-sumber yang unik.

5 Juni di tahun 2013 adalah hari lingkungan hidup sedunia yang ke-41 sejak dicetuskan pada tahun 1972 di Stockholm. Tetapi tidak banyak yang bisa diharapkan, jika kita tidak berhenti dari omong kosong yang begitu banyak.

|Afrizal Akmal, 2013|.