Sisi Lain

Kami memberikan ceramah, menjawab pertanyaan dan berbicara dengan orang-orang. Mereka adalah tokoh di daerahnya. Pada titik itu, saya hampir sampai pada suatu kesimpulan bahwa sebagian dari mereka dikebiri nasibnya oleh pengendali bisnis, juga oleh negara. Saya bukan menangkap gejala yang tersirat, laporan itu
sungguh terang benderang.

Ini hanya sebuah catatan sederhana dari observasi saya bersama rombongan. Mengunjungi hampir semua kabupaten kota di sebuah provinsi, tempat dimana terdapat data statistik yang rapi tapi realitasnya sangat buruk. Aceh.

Beberapa orang terjebak dalam lingkaran suap dan ancaman. Mereka buka suara, menunjukkan diri dan ingin keluar dari bayang-bayang gelap dengan cara membagi kisah masing-masing. Ketika para hadirin mengemukakan harapan yang berlebihan, tidak jarang kami harus mengingatkan kembali tentang tujuan kedatangan kami yang kerap disalah pahami. Kami bukan si bijak yang bisa menyelesaikan semua masalah itu.

Saya rasa ini adalah perjalanan yang menyenangkan. Bukan sekedar dukungan Transparancy International dengan finansial yang memadai, namun lebih karena rombongan kami terdiri dari tim yang cukup sederhana dan apa adanya. Jauh dari kesan mewah.

Saya mengamati beberapa kabupaten yang kami lalui. Ada sisa gambar kebijakan kolonial, juga sangat kentara pengaruh buruk orde otoriter terhadap Gampong, tempat orang-orang polos dilahirkan, melanjutkan hidup, membangun masa depan hingga akhir hayat. Sebuah poros tempat hidup berputar dan mengidentifikasi diri. Tampaknya kelembagaan Gampong memang telah lama rusak oleh beberapa pimpinan Gampong yang terpaksa menjadi pengikut dengan cara-cara menunjukkan pengabdian mereka kepada penguasa yang lebih tinggi. Euforia reformasi pernah berhembus tapi tak singgah, apalagi hadir.

Dua mobil Toyota membawa kami menelusuri jalan-jalan menanjak dan berliku. Pemandangan bukit barisan dan lembah-lembah dengan sungai-sungai deras menegaskan bahwa alam negeri ini sangat indah.

Tapi ada beban yang belum ditebus negara kepada rakyatnya setelah sekian lama Gampong digadaikan kepada tekanan pasar dan globalisasi. Tanggung jawab moral untuk menghidupkan kembali Gampong-gampong dan memperkuat kembali kelembagaannya. Tak cukup dengan sekedar Undang-undang baru.

Perjalanan membuat pelajaran yang saya pelajari di sekolah menjadi tidak begitu penting. Beberapa teman dalam rombongan selalu membuat rangkuman secara tertulis setelah kami selesai berceramah di setiap kabupaten yang kami singgahi.

Saat waktu senggang di Gayo Lues, kami menyempatkan diri untuk menikmati kopi di warung pinggir sungai. Di atas tebing yang tidak terlalu terjal penuh dengan anakan pinus. Di sebelahnya terdapat hamparan tegakan pohon pinus yang lebih luas. Sangat indah. Dari bukit-bukit pinus itu kami bisa melihat panorama yang menakjubkan. Landskap yang masih lupa mereka rumuskan seperti apa melestarikannya.

Di pinggiran jalan terdapat rumah kontrakan tempat seorang penyuluh kehutanan tinggal. Dari halaman rumah itu saya bisa melihat ke seberang jalan, sebuah sawmill kayu. Kelihatannya usaha semacam itu mendapat izin dari dinas terkait, sayangnya mereka juga mengolah kayu yang dipasok dari aktivitas penebangan liar. Barangkali sebagai penyuluh kehutanan, pemilik rumah kontrakan mencoba menyembunyikan rasa bersalah karena membiarkan aktivitas illegal semacam itu. Namun rasa bersalah itu pasti ada, karena jauh dari lubuk hati, dia merasa bertanggungjawab. Tapi tak berdaya.

Kami melanjutkan perjalanan.  Hari hampir gelap ketika hampir sampai di Kutacane. Di sisi kanan jalan, kami tak bisa menyembunyikan kekaguman akan pesona sungai alas. Sangat indah. Sayangnya sebuah stasiun penelitian Orangutan Sumatra tampak terbengkalai. Ketambe. Ada hasrat untuk singgah, tapi perjalanan harus segera dilanjutkan. Tebing-tebing yang terus tergerus adalah alat ukur betapa buruknya manajemen negara dalam mempraktekkan konservasi tanah dan air. Di sini, pembangunan belum sepenuhnya dirancang atas dasar pertimbangan yang aman bagi kelangsungan siklus hidrologi.


---

Banyak hal sederhana dari perjalanan ini. Tetapi banyak juga yang belum saya tuliskan disini. Tata ruang yang payah. Angkutan umum yang belum berubah sejak tahun 1990. Pasar malam dan odong-odong. Truk kingkong di perbatasan Aceh – Sumatra Utara. Aparat militer yang cari setoran dan petugas patroli hutan yang nongkrong di sana. Di Nagan Raya, 75% tanah dikuasai oleh perusahaan. Perencanaan pembangunan daerah seringkali berdasarkan keinginan, bukan berdasarkan kebutuhan.

Dan sambil menghaturkan rasa terima kasih kepada lembaga pemerintah yang telah turut hadir memberikan ceramah, saya juga ingin mengingatkan, mengapa mereka yang dikirim ke sana selalu tidak mampu menjawab pertanyaan rakyat?

Dan kepada Mukim-mukim di sana, jangan menunggu untuk dilibatkan. Tidak perlu tergoda dengan berbagai formulasi solusi yang sebenarnya hanya menjerumuskan diri kepada kesulitan besar oleh kakunya ketaatan kepada negara. Sebab saya percaya di sana, di Gampong-gampong. Ada nilai-nilai dan kearifan. Hanya masyarakat di sanalah yang mengetahui banyak jawaban menuju masa depan yang lebih ramah.

Tapaktuan adalah ujung dari misi kami. Siang itu kami berkemas dan pamit dengan beberapa teman. Pesisir Tapaktuan, berjejer pohon kelapa. Sudah tua sekali. Jika tidak ditanami dengan yang baru, mungkin akan menjadi komoditi langka di masa depan. Dalam perjalanan pulang saya merasa dimanjakan oleh bangunan-bangunan ruko jadul yang terbuat dari kayu. Masih Kokoh. Sayangnya sudah banyak yang tergerus zaman, dirobohkan oleh pemiliknya untuk diganti dengan bangunan baru yang menurut mereka lebih mewakili modernitas. Sebuah aset wisata, sekaligus kebudayaan yang gagal dipertahankan.




2 komentar:

  1. Nilai kearifan yang lama tersembunyi oleh berbagai kemewahan dan fatamorgana yang disajikan di layar kaca. Kebahagiaan bisa hadir dan ditemukan di mana saja, pada pengabdian sepenuh hati mereka yang mengabdi...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih telah berkunjung...
      Salam,

      Hapus