Ambisi

68.594 Hektar Hutan Lindung untuk dilindungi, karena fungsi-fungsi ekologisnya, terutama menyangkut tata air dan kesuburan tanah, kini sedang diusulkan Pemerintahan Aceh dalam RTRWA untuk diubah menjadi Areal Penggunaan Lain (APL). 40.913 Hektar lainnya menjadi Hutan Produksi dan 18.547 Hektar lainnya
menjadi Hutan Produksi Terbatas.

Apa yang ingin saya katakan? Mungkin banyak hal – Sebuah Tata Ruang Wilayah tanpa tujuan, atau pembuatnya adalah sekelompok calo yang banyak maunya. Lebih jelasnya, sebuah pesanan dari korporasi. Sepertinya, warna-warni peta tutupan hutan ingin dicat putih semuanya. Putih di sini tidak berarti suci, tapi kurang ajar, menertawakan diri sendiri.

Seolah mereka ingin berkata, “Lihat kekuasaan kami yang gila-gilaan menghancurkan hutan yang mati-matian di bela oleh orang bodoh yang menamakan diri aktivis lingkungan. Lihat kami tidak malu untuk merendahkan diri sendiri agar bisa membayar tagihan hutang dari ongkos politik yang teramat mahal itu."

Ambisi. Hanya meletakkan hutan sebagai objek mati. Tapi bagi lembah di belantara sana, justru asumsi itulah yang harus ditolak. Setiap kali kekuasaan yang baru dilahirkan, selalu ada ancaman besar terhadap rimba Dipterocarpaceae. Dengan alasan yang berbeda-beda dari topeng yang itu-itu juga – Korporatokrasi. Dan itu terjadi di Nanggroe saat begitu seringnya bencana alam dengan segala tangis dan cerita tragis yang diakibatkannya.

Dan bagi rimba Dipterocarpaceae, di tahun 2050 nanti, beberapa puluh tahun setelah ini, kepunahannya menjadi beban hidup milyaran manusia. Dipterocarpaceae pernah ada, kemudian tiba-tiba lenyap dan terus menerus lenyap.

Lanskap memang terus berubah. Tetapi mengapa bukan dengan laku yang lebih ramah dan hangat?





2 komentar:

  1. Sudah begitu lama artikel ini , tapi sayangnya masih berlaku segalanya. Meskipun begini semoga semangat tidak berkurang.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih atas apresisasinya.
      Semoga kita tetap semangat.

      Salam Visioner...

      Hapus