Berdamai Dengan Alam

Di kebun milik kami, pagi itu saya sendirian, merenung dalam kecemasan. Saya berniat membunuh kerumunan ulat yang sejak malam hari mengunyah daun-daun di pohon. Beberapa orang petani yang datang kemudian mendesak dan meyakinkan untuk menyemprot pestisida.

Tapi sesaat itu, sangsi pun datang, ketika saya merasa bisikan langit, “ Kamu bukan seorang yang keji.” Saya merasa ada yang tak patut bila membunuh. Apakah saya akan mengkhianati daur kehidupan dengan membantai sekelompok ulat yang lembut?

Memang tak jelas benar apa yang membuat saya cemas. Mungkin soal nilai-nilai, sebuah moral, atau hanya ketakutan pembalasan akan datangnya rombongan ulat-ulat lain yang lebih banyak. Dalam batas ini saya tidak ingin menganggap ulat sebagai hama, tetapi sebagai teman. Ini adalah bagian dari mekanisme keseimbangan alam.

Setelah ulat-ulat itu memakan habis daun-daun pohon milik kami, besok pagi saya berharap daun pohon akan tumbuh secara serentak dan lebih lebat. Saya menyakini secara alamiah, ada mekanisme pertahanan yang sudah berkembang di alam dari generasi ke generasi.

Tentu saja saya ingin pohon-pohon itu tumbuh subur, untuk itu segala cara diupayakan untuk mengoptimalkan hasilnya. Tak perlu sangsi, tak perlu nilai-nilai. Karena ingin untung, maka seorang petani seperti saya merasa panik ketika ulat-ulat itu memakan habis daun-daun di pohon yang kami tanam. Tetapi kekuasaan tidak boleh meringkus semuanya, saat bisikan kebaikan terhadap species lain masih bisa didengar. 

Memusnahkan semua ulat yang ada di pohon tidaklah bijaksana. Saya meyakini dimana ada ulat, biasanya akan mengundang burung-burung. Beberapa jenis semut juga bisa membantu .Predator alami inilah yang akan mengurai ulat-ulat di daun. 

Ada hal yang tidak boleh kita abaikan ketika menanam pohon, yaitu niat beribadah bahwa sebagian yang kita tanam adalah untuk makanan bagi berbagai species lain. Ulat di daun, burung dan semut adalah mata rantai kehidupan. Dengan logika semacam ini, maka Tuhan akan mendengar dan alam pun akan memahami untuk memberikan yang terbaik bagi keberhasilan si penanam pohon.

Dan bagi bangsa manusia, harusnya berhenti menjadi species dengan ambisi yang sangat besar yang menghancurkan specie-species lain. Dalam lakon ini, kekuasaan harus memiliki tujuan. Manusia tak boleh menjadi sosok species yang mengerikan dan mengikuti kekejian, penuh amarah, tak terikat dengan tangisan species lainnya.

Hidup tak tentram antara manusia dengan binatang adalah perkara yang harus kita akhiri. 



0 komentar:

Posting Komentar