Aceh dan Mall

Siang yang panas ternyata tidak menyurutkan niat Jamilah dan tiga orang anaknya yang masih kecil untuk berbelanja pada kemewahan. Meski kondisi perekonomian mereka tidak menentu, tetapi warga Gampong kami itu tetap saja memanksakan diri membelanjakan uangnya kepada simbolisme kedigdayaan kapitalisme itu. Mall.

Pasar besar atau pasar modern, apa pun namanya yang menyerupai sebuah sangkar beton dengan suhu yang diatur tempat beranak-pinaknya konsumerisme dan gaya hidup serba instan dari masyarakat maju telah menjangkiti Jamilah. Bagai virus budaya konsumtif yang terus mengakar kuat dalam dirinya. Bahkan seringkali mereka membeli barang-barang yang sebenarnya tidak mereka butuhkan. Seperti mantra.

Dan ketika itu di Aceh, ruang publik dengan segenap kepentingan ekonomi telah menjadi tempat menatap sekaligus ditatap. Dengan gaya pakaian, gaya berjalan dan gaya hidup yang menjadi ciri masing-masing masyarakat yang sedang gadung dengan perayaan, jauh dari konseptual. Ruang publik bukan lagi dianggap sebagai arena pembentukan keadaban publik, tetapi sekadar ranah komersial.

Para penanggungjawab pengelola kota ini sering terjatuh dalam pengingkaran makna ruang publik yang sesungguhnya, menyingkirkan sifat dasar manusia sebagai makhluk sosial itu sendiri, menjadi makhluk yang egosentris, hedonis, pragmatis, dan didominasi oleh pikiran kapital. Di sini boros itu benar, kemubaziran membawa hasil dan menandai gerak maju manusia.

Dimanakah tempat bagi pasar tradisional? Ia berada dalam ketidakpastian di tengah invasi pasar modern. Bahkan di lorong-lorong yang sempit, lapak-lapak dan gerobak siap diterkam, dihimpit pasar modern. Alasannya sederhana, kenyamanan dan kebersihan.

Kebutuhan masyarakat dengan gaya hidup modern sangat mempengaruhi pertumbuhan mall dengan citra modern ketimbang pasar tradisional yang terkesan kumuh, becek dan tidak higienis. Namun ada hal lain yang lebih kuat yang bertanggungjawab merumuskan bentuk kota ini, yaitu kebijakan Pemerintah Daerah.

Secara teoritik, sistem ekonomi kita memang semakin liberal yang ditandai dengan deregulasi, privatisasi dan liberalisasi. Melalui penanaman modal yang semakin besar maka katanya peluang lapangan kerja, peningkatan kesejahteraan masyarakat dan juga peluang usaha menjadi semakin besar. Akan tetapi melalui deregulasi tersebut justru yang terjadi adalah semakin besarnya intervensi perusahaan yang dapat mendesak usaha ekonomi rakyat lapisan bawah.

Mungkin Tuan lupa bahwa ada nilai-nilai lain dalam pasar tradisional yang tidak akan ditemukan di pasar modern, yaitu kerekatan sosial. Terjadi proses saling menyapa walaupun hanya sesaat. Tidak seperti mall yang mendorong sikap individualistik.

Akhirnya, kota tanpa tempat bagi pasar tradisional akan menjadi kota tanpa nurani. Hanya ada jalan raya dan mall. Bagaikan perempuan dengan wangi buatan.



Deja Vu Hutan Kita

Kira-kira 15 tahun sejak ia dilupakan, reformasi sektor kehutanan hingga saat ini nyaris tanpa bentuk. Tak ada cerita sukses. Departemen Kehutanan juga tidak menunjukkan kemajuan dalam melaksanakan pembangunan kehutanan. Kritik kegagalan, kerusakan hutan yang terus

Merchandise

Pembaca sekalian,
Merchandise ini adalah bagian dari fundraising untuk mendukung inisiatif konservasi Hutan Wakaf di Aceh, disamping pengumpulan dana tunai.

Bisa kirim ke seluruh Indonesia.
Call/SMS/WhatsApp [+62] 813-6020-0711




Memperhatikan Hutan

Semakin lama kita memperhatikan, semakin banyak yang kita lihat. Dan yang disebut penyelidikan sesungguhnya adalah memperhatikan sesuatu, bukan dengan sekali melihat lalu menamainya seolah-olah kitalah yang paling mengetahui tentangnya. Namun bagaimana kita melihat sampai kita kehabisan nama mengenai hal itu. Saat itulah kita mulai melihat hal-hal baru yang menakjubkan.

Termasuk juga hutan, jadi apa sesungguhnya hutan itu? Apa kita tahu apa hutan itu? Jika kita tahu hutan itu apa, kita akan berhenti menyelidikinya. Tetapi semakin banyak kita memperhatikan, semakin banyak hal yang menarik dari apa sesungguhnya hutan itu. Sederhana namun mendalam.

Sebuah eksperimen besar untuk diselidiki. Tetapi kita seringkali berhenti ketika mendapatkan gagasan mengenai apakah hutan itu. Apakah hutan sesungguhnya? Saya sering melihat peneliti di hutan, mungkin berkali-kali. Bila mereka mengatakan benar-benar paham tentang hutan, itu artinya penelitian mereka berhenti dan hubungan mereka dengan hutan mati. Jadi hubungan mereka dengan hutan segera berakhir. Mereka tidak pernah lagi menemukan hal-hal baru yang lebih menakjubkan lagi.

Jadi jangan berhenti pada gagasan, lalu merasa seolah-olah sudah mengetahui banyak hal. Tetapi lihat dan perhatikan lagi. Hutan itu sangat rapuh, suatu saat akan lenyap. Itulah sebabnya kita harus merawat dan memperhatikannya. Mari fokus pada perenungan ini.

Di bawah penguasaan negara, hutan selalu rawan terhadap perubahan status dan fungsi, tidak tetap. Kapan saja bisa disewakan kepada Jakal. Itulah sebabnya kita perlu peduli. Di tangan rezim, ia menjadi sangat rentan.

Analitik ini membuka suatu cara untuk berhadapan dengan realitas bahwa kita tidk bisa membiarkan hutan terus dirusak dan dipermainkan oleh kepentingan sebuah rezim, lalu oleh rezim lainnya atas nama negara. Sebelum hutan benar-benar menghilang di abad ini.



Damai

Biasanya setiap kali bertemu dengan Si Petani Bijak, ia selalu mengejek atau menertawai saya. Tapi kali ini tidak seperti biasanya. Hari ini kelihatannya ia sangat ramah. Saya tahu ia mengetahui banyak hal yang saya lakukan. Ia juga tahu kalau pekerjaan saya sebenarnya hanya

Merindukan Revolusi Kreatif

Lima belas tahun yang lalu, tepatnya di tahun 1998. Sebuah arus besar gerakan masyarakat dan mahasiswa meruntuhkan tirani Orde Baru di tengah krisis ekonomi yang terus memburuk. Ada kengerian dan amuk massa yang tidak rapi, meluas di seluruh daerah. Tentu saja banyak aktivis mahasiswa dan organisasi terlibat dalam berbagai demonstrasi yang tak jarang berubah menjadi aksi kekerasan.

Setelah tahun-tahun pergolakan emosi itu, ada kengerian lain di balik imperium baru ini yang tidak dibeberkan. Pengalaman reformasi yang sebenarnya jauh dari apa yang diimpikan. Reformasi ternyata tidak sepenuhnya utuh dan memberikan kemajuan, tidak menegakkan keadilan dan kemakmuran, tetapi justru melahirkan ketidakadilan baru. Reformasi menyingkirkan seorang tiran dan menghadirkan ribuan tiran sebagai penggantinya.

Dengan slogan kemajuan dan keadilan sosial, beberapa kelompok sosial telah berhasil mencuri simpati rakyat. Hanya sedikit orang yang benar-benar tulus dengan cita-citanya, selebihnya adalah mayoritas penipu. Maka pada titik ini, gerakan sosial tidak boleh hanya dilihat dari maksud, deklarasi ideologi dan janji-janji, tetapi dari kinerja mereka yang sebenarnya.

William Blake benar ketika menulis syair di abad ke-16, “Tangan pembalasan dendam menemukan pembaringan, tempat sang ungu kabur. Tangan besi menghancurkan kepala sang tiran, dan menjadi sang tiran baru, menggantikannya.”

Banyak aktivis sosial awalnya adalah orang-orang baik yang ingin menolong orang lain. Akan tetapi ketika mereka sendiri sudah berada di tampuk kekuasaan dan kewenangan, mereka berubah menjadi tiran yang baru. Di sini kita perlu berhati-hati. Hal pertama yang mesti dilakukan dalam aksi sosial sesungguhnya adalah melatih diri kita sendiri dengan benar-banar baik, dalam sikap yang indah. Dimana orang-orang boleh menindas kita, melukai kita, atau bahkan membunuh kita. Namun kita tidak perlu melayani pemikiran balas dendam.

Maka yang dirindukan di masa depan adalah revolusi kreatif yang dijelmakan dalam tindakan kolektif tanpa amuk massa. Revolusi sebagai transformasi masyarakat yang fundamental, keluasan dan kedalaman perubahan yang meliputi semua bidang kehidupan; ilmu - politik - ekonomi - sosial budaya, bukan sekedar perubahan politik atau ekonomi saja. Kalau pun revolusi selama ini dipahami penuh dengan kekerasan, saya ingin mengajukan keberatan.

Revolusi adalah perubahan domestik yang cepat dan fundamental yang bisa dilakukan tanpa kekerasan berdasarkan bukti-bukti sejarah. Lihatlah Gandhisme di India dan gerakan yang mendorong jatuhnya komunisme di sebagian negara Eropa Timur. Sayangnya banyak pengamat tidak menyebutkan gerakan mereka sebagai gerakan revolusi.


Hutan Kita

Sudah seperti apa gerangan hutan kita?. Sebuah pertanyaan yang kerap memergoki saya. Ada yang terlupakan dan ada yang perlu diingat selama ratusan tahun. Khatulistiwa yang diapit benua Asia dan Australia menjadi arena perebutan antar imperialis sejagat. Bangsa-bangsa imperialis itu

Tata Ruang dan Catatan Sakit

Romantisme hutan sebagai zamrud khatulistiwa tampaknya terus memudar. Para pujangga mungkin sedang kehilangan syair tentang damai dan rimbunnya pohon-pohon. Hutan yang dahulu hijau kini berubah warna. Pertanda bahwa tegakan hutan yang dahulu lebat kini berkurang bahkan

Si Petani Bijak dan Nasehatnya

Alkisah di sebuah negeri, saya bermaksud menawarkan setumpuk proposal dari segudang himpunan kebijakan dan analisis jitu dari masalah-masalah yang saya temui kepada Tuan Paduka. Menceritakan kembali siapakah Tuan Paduka itu akan sangat tidak enak, sebab Tuan Paduka di negeri itu telah memutuskan boleh menumpahkan darah rakyat demi menyelamatkan nyawanya.

Ketika satu proposal telah diterima, saya menawarkan satu tumpukan proposal lagi, begitu seterusnya. Saya merasa bahagia telah menemukan pemecahan masalah yang menakjubkan. Saya diundang kemana-mana, menjadi bahan pembicaraan di dalam istana, disiarkan di televisi dan dimuat di koran-koran.

Suatu hari di pertengahan jalan, saya berjumpa dengan seorang petani yang kelihatannya miskin. Ia kurus dan hanya bersandal jepit. Ketika duduk beristirahat bersama, saya menemukan bahwa petani yang miskin itu ternyata sangat bijak, mengetahui banyak hal dengan gagasan dan ide-ide yang besar. Sekali lagi, saya tidak dapat menyembunyikan kekaguman terhadap kecerdasannya.

Si petani menanyakan apa yang saya bawa dalam sebuah tas besar.  Saya jawab, “setumpuk proposal dan himpunan kebijakan palsu”. Si petani bijak itu tertawa. Ia mengejek saya yang menghabiskan usia hanya untuk menganalisa masalah-masalah besar tetapi tidak satu pun benar-benar memberikan penyelesaian. Dia menuduh saya berbicara besar dan hanya bertindak sia-sia, “kamu sama tololnya dengan Tuan Paduka yang mempercayai himpunan kebijakan palsu yang kamu tawarkan”.

Saya ingin pergi saja dan menjauh. Tetapi Si petani bijak menambahkan nasehatnya, “sebuah kebijakan yang engkau lahirkan dari kepala insani tidak lebih dari sebuah khayalan palsu. Hanya menambah derita. Sebab kebijakan seperti itu tidak mendapat berkah yang mengalir dari cahaya kemuliaan Ilahi. Kamu suka menyembunyikan hati dalam kecerdikan dan siasat permainan bahasa. Jauh dari pengetahuan tentang Dia Yang Maha Bijaksana. Pengetahuan kamu tentang dunia hanya memberikan dugaan-dugaan dan keraguan. Maka berjuanglah untuk melepaskan kebijakan palsu dari kepalamu jika ingin bencana dan derita benar-benar menghilang dari hidupmu.”

“Dan bagi Tuan Paduka itu, Ia harus disembuhkan jiwanya dengan sentuhan suara anak muda yang bersih. Bukan dengan segudang himpunan kebijakan palsu. Dengarkanlah suara anak muda yang berjuang demi masa depan bumi yang ramah, bukan mencari keselamatan dengan menghancurkannya.”

Petani bijak itu adalah sosok imajiner dalam cerita ini. Saya tersinggung dan malu dengan sosok petani dalam karangan saya sendiri.



Seulawah Dalam Nalar Instan

Melintasi pegunungan Seulawah. Agaknya saya harus menanggung beban moral, tekanan, mungkin juga kecemasan. Pohon-pohon pinus kini hampir semuanya diganti ketela dan jagung, lembahnya mengering. Landskap yang telah berubah, bukan saja bentuk – Tetapi juga fungsinya. Kemurnian telah begitu cepat menghilang, diganti oleh rasa curiga. Ada sangkaan bahwa mereka yang seharusnya menjadi penjaga ternyata juga pencuri. Pagar makan tanaman.

Tapi inilah corak sebuah bangsa yang sedang didera keserakahan dalam memperoleh penghasilan.  Konservasi seringkali dibenturkan dengan kepentingan kesejahteraan, tanpa mau dimengerti lebih dalam apa makna dari konservasi itu sendiri. Dengan alasan itu, pelestariannya diabaikan. Padahal koservasi bukan hanya bermakna perlindungan dan pengawetan, tetapi juga mengandung aspek pemanfaatan secara berkelanjutan. Inilah yang tidak sepenuhnya dimengerti.

Selintas, orang-orang di sana dikesankan sebagai kaum primitif. Tapi kesan itu keliru, sebab pada kenyataannya para pekerja di ladang-ladang liar itu didatangkan dengan kenderaan-kenderaan pribadi. Bahkan ada yang mengendarai mobil “plat merah”. Persisnya, mereka dan pejabat sama-sama akrab.

Mereka beragama, tetapi theologi bukanlah sesuatu yang mereka aplikasikan. Mereka larut dalam rasionalisasi untung rugi jangka pendek, dalam nalar yang instan. Persahabatan dengan alam sudah tidak lagi asyik.

Tapi mereka tak berdiri sendiri. Ia hadir dari kehidupan yang dibangun para imperium yang sedang berkuasa. Arah yang tak terarah, pembangunan instan tanpa tujuan. Yang ada hanya abstrak yang dikondisikan. Satu bagian dari lembah Seulawah itu, berdiri pagar milik Tuan serdadu.

Dan ketika pohon-pohon pinus itu ditebas terus-menerus ; yang primitif, pejabat dan Tuan serdadu - Mereka semua tak ada bedanya. Semua rakus.



Empat Orang Itu

Kabut pekat mewakili pikiran, di hutan belantara. Suatu tempat bersahaja yang kini tidak lagi bebas dari sidik jari manusia. Debu yang melekat di daun pertanda kemarau. Burung malam dengan mata curiga bertengger di dahan. Bergerak, merawat bayi dengan wajah yang tak pernah mengeluh. Seekor elang terbang, memperhatikan apa yang terjadi pada air, udara dan pohon. Juga apa yang dapat terjadi selanjutnya.

Sebuah fragmen yang seharusnya membawa kesadaran semua orang untuk memperhatikan betapa menentukan apa yang kita lakukan. Apa yang akan terjadi terhadap belantara itu jika orang-orang tidak mengubah cara hidup dalam segi-segi tertentu.

Tetapi beberapa hari ini saya mendengar pemberitaan resmi, ada kabar lain bagi rimba di sana. Dua oknum pejabat pemerintah daerah Kabupaten Aceh Tenggara dan satu orang oknum anggota Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten Aceh Tenggara serta satu orang oknum anggota Dewan Perwakilan Rakyat Provinsi Aceh dilaporkan terlibat dalam tindakan pidana khusus perambahan kawasan hutan TNGL di wilayah Kabupaten Aceh Tenggara. Mungkin mereka sedang sial, dengan akal yang masih berfungsi.

Lebih persis lagi, sebenarnya empat orang itu adalah orang-orang yang memperoleh kedudukan sosial dengan cara-cara instan. Merambah kawasan hutan yang seharusnya mereka lindungi. Mereka melanggar Pasal 78 ayat (2) Jo. Pasal 50 ayat (3) huruf a dan b Undang-undang Nomor 41 tahun 1999 tentang Kehutanan. Menjadi tersangka dengan senyum bodoh di depan kamera.

Disini kita menemukan pelajaran. Kehidupan manusia dan kehidupan binatang. Dapatkah kita menemukan perbedaan antara keduanya setelah memperhatikan perangai mereka? Empat orang itu menciptakan masalah bagi rimba dan makhluk hidup lainnya. Mereka menghancurkan kedamaian dan menentang kasih sayang sepanjang waktu bagi burung malam di dahan, elang di udara dan ribuan species lainnya.

Mereka perlu diberi pelajaran…
Mungkin juga perlu diasingkan dengan cara yang mewah.

Dan setelah itu, mudah-mudahan hujan segera turun meski tak sesuai ramalan, membersihkan debu di daun. Menjadikan alam tetap memegang misteri dan kegaiban. Ketentraman yang sebagian manusia tidak memahaminya.


Tragis Di Nanggroe

Suatu sore yang indah, di tempat yang agak tinggi dan di antara tebing. Panorama dengan latar sawah dan bukit barisan tampak sederhana. Sinar matahari merah tepat dicelah daun aren, menantang tentang apa yang akan saya tulis sesaat sebelum ia benar-benar menghilang di ufuk barat.

Cagar Alam dan "Kepentingan Lain"

Barisan pohon pinus yang terbakar. Kumpulan vegetasi yang unik dan memberi pesan mengenai berbagai cerita kebengisan para pembalak. Tentang gemuruh pohon tumbang dan gergaji mesin yang tak pernah berhenti. Siamang dan Owa yang ketakutan. Kucing hutan, rusa dan trenggiling yang patuh pada kematian.

Berbuka

Di sebuah ruang terbuka, sore itu di taman yang belum rampung. Orang-orang ramai menunggu waktu berbuka puasa sambil bermain di taman. Burung-burung kecil berkicau lalu terbang. Seekor biawak bergegas melarikan diri. Mereka bergerak memberi peringatan kepada teman agar waspada. Penuh perhatian. Cinta yang mereka miliki, selalu melindungi teman-temannya yang lain.

Perempuan pengemis setengah baya duduk di tanah sambil mengipas bayi. Di sudut lain, sales perusahaan properti membagikan brosur tentang perumahan. Dan di seberang jalan, sebuah restoran sedang mempersiapkan menu berbuka. Orang-orang berdatangan dari jauh. Mereka adalah para eksekutif, politisi dan orang-orang yang ketiban aji mumpung. Berbuka puasa bukan lagi untuk mengingat orang yang lapar. Disini, bulan puasa adalah rangkaian pesta makan dari magrib ke magrib.

Menjelang pemilu, momentum puasa bisa menjadi arena yang tepat bagi para caleg untuk konsolidasi, semacam kampanye terselubung. Para caleg bisa berlomba melakukan pencitraan dengan memperlihatkan kesalehan, kekayaan dan status sosial kepada konstituennya.

Sekilas, semaraknya buka puasa di tempat-tempat mewah dapat menunjukkan bangkitnya kebudayaan dan ekonomi ummat Islam. Tapi apakah benar demikian? Jangan-jangan buka puasa bersama di restoran-restoran mewah dan hotel-hotel hanya sebagai upaya mengisi kekosongan eksistensi saja.

Setiap tahun di bulan puasa, teman saya yang berprofesi sebagai mubalig bercerita bahwa memberikan ceramah singkat pada acara buka puasa bersama adalah sebuah ukuran produktivitas, apalagi yang mengundang adalah partai politik atau korporasi besar. Sekali waktu dia diundang teman sebuah partai politik. Mereka yang terdiri dari politikus hebat mempresentasikan capaian elektabilitas partainya dengan sangat menarik, bahkan lebih menarik dari ceramah rohani teman saya ini.

Tapi saya menjadi teringat saat-saat berbuka di kampung halaman dulu. Buka puasa dengan iuran sesama. Ada juga inisiatif dari orang dermawan untuk mengundang anak-anak yatim dan miskin untuk berbuka bersama di rumahnya. Ada juga yang mendatangi rumah-rumah miskin dengan membawa makanan berbuka. Mereka yang dermawan itu berpuasa dan rasa laparnya mengingatkan mereka kepada yang sering lapar. Karenanya, di kampung kami dulu orang-orang miskin melihat orang kaya dengan rasa hormat. Tidak banyak kecemburuan sosial dan deprivasi ekonomi. Cinta, kesabaran, toleransi, kedamaian, kebajikan, kasih sayang, kebenaran, keadilan, kesadaran, dan integritas dulu menyatu dalam masyarakatnya.

Tetapi nasib memang berbeda. Sehingga kita bisa memahami perbedaan antara kearifan dan kebodohan. Dunia yang lalu dan dunia yang sekarang, kebenaran dan kebohongan, kebaikan dan kenaifan. Di komunitas warga tepian taman kota ini, kesenjangan sosial selalu saja diproduksi. Kesombongan, kecemburuan, kemarahan, ketidaksabaran dan egoisme berbaur dalam masyarakat yang sesak. Rumah-rumah besar adalah raksasa rakus perut-perut besar. Sementara orang-orang ramah berubah radikal karena keadaan. Mereka kecewa oleh reformasi yang telah mati.

Dan disini, rasa hormat telah habis. Bila Tuan sangat membutuhkannya, Tuan bisa membelinya di pasar sebanyak yang Tuan inginkan.



Misteri Qanun Kehutanan

Cerobong asap menyala siang dan malam, pipa-pipa penghisap kekayaan sumber daya alam memenuhi kolong bawah tanah bagian utara Aceh. Di sebelahnya, kaum proletar hidup dari makian. Sementara di parlemen, orang-orang telah menjadi corong penguasa. Tagihan perolehan pajak sebagian besar harus disetor ke pusat

Garuda Tenggeng

Kera-kera yang tak lagi liar, babi hutan memakan sisa kelapa muda dari sampah para pedagang yang tidak terurus. Berserak. Wisatawan setengah telanjang yang mengomel tentang bising sepeda motor yang melintas. Mereka saling bersentuhan, tapi dengan nasib dan mimpi yang terpisah. Hari itu mereka di tugu kilometer nol, dalam satu ruang dan waktu. 

Di ujung tugu itu burung garuda tenggeng diterpa angin barat Selat Malaka  dengan kaki mendongak ke langit. Lempengan logam kaku yang bisu. Tak berarti dan terasing. Selebihnya hanya pilar-pilar, juga vandalisme remaja tanggung di pohon.

Dan dalam benakku, berderet pertanyaan. Apakah si pandai besi yang mengukir logam mirip burung itu sepenuhnya mengerti maknanya. Apakah si penggagas lambang negara itu dulunya benar dan tidak keliru dalam mewariskan arti. Dan apakah ahli warisnya juga demikian. Bahkan burung itu tidak lengkap anatominya, hanya satu mata dan satu telinga di kepala yang menoleh ke kanan, tanpa bulu dada. Tidak jelas apakah ia jantan atau betina.

Tetapi peradaban terus bergerak menjauh dari titik nol, meski tanpa perhatian kita. Mungkin juga tanpa arti. Tetapi selalu ada makna. Seperti tertulis kontras di sebuah pos penjagaan tentara, tidak jauh dari tugu kilometer nol itu: “Lusa Aku Mati”. Saya tidak mengerti apakah kalimat semacam itu mengandung sesuatu yang penting. Setiap yang lewat hanya menoleh sebentar, sebab jika berlama-lama berarti “cari ribut”.

Tidak mudah mendefinisikan apa yang tampak janggal secara rasional. Sebab pasti ada sesuatu yang lain, yang bergerak cepat menelantarkan simbol-simbol. Sebab ia telah lama membosankan. Sebab ia telah lama angkuh terhadap yang hidup, tidak memberi harapan kecuali hayalan hampa. Sebelum akhirnya tenggeng di kilometer nol.


Telekisah Banjir dalam Al-Quran

Seorang lelaki tegap diejek sekerumunan orang, dari kaumnya sendiri, “Kamu terlalu banyak bicara, cobalah tunjukkan janjimu jika kau memang benar”. Lelaki itu bangkit dan berkata, “Tuhanlah yang akan menunjukkan itu kepadamu jika Ia mau, dan kalian tidak akan dapat mengelak”. Hampir saja ia prustasi dan ejekan kaumnya

TNGL, Konflik dan Red List

Gunung Leuser, dahulu masyarakat menggantungkan segala kehidupannya pada hutan, baik masyarakat yang tinggal di kawasan hutan maupun yang memanfaatkan hutan dalam mencukupkan kehidupannya. Jauh sebelum konsep Taman Nasional diperkenalkan. Kini tidak seramah dulu. Ada konflik struktural yang diekspresikan

Juni

5 Juni. Kali ini saya ingin memperingatinya sendirian, di hutan. Melihat dan memperhatikan lumut yang menggunung, setua peradaban. Dan di dalam masa itu, tentu saja waktu tidak seragam sifatnya. Dunia sebagaimana kita kenal adalah semenjak plastik belum digunakan. Pada masa itu, dunia dihuni dengan rasa cukup nyaman, tanpa revolusi industri.

Perubahan-perubahan besar terus bergerak, bahkan secara dramatis. Masyarakat dalam koloni masa kini merasa aman dengan ide ganjil, serba sintetik. Dan dalam kondisi ini, tanpa kita sadari dunia dapat binasa dalam satu detik saja. Lubang besar di lapisan ozon telah menganga di kutub Selatan dan hujan asam terus meningkat. Kita memakan lebih banyak makanan daripada yang sanggup kita tanam.

Di jalan setapak yang tiba-tiba runtuh, ketika saya berjalan menyusuri hutan yang telah berubah menjadi lahan sawit tampaknya tidak lagi cukup mengejutkan. Ada perubahan atomik. Pasir-pasir menyerah oleh tekanan kapitalisme yang bertubi-tubi hingga meremukkan grafitasi. Amblas.

Kita hampir saja terjebak oleh anggapan bahwa bumi begitu luas dalam ruang tanpa tepi. Akibatnya, jika terdapat kenaikan temperatur 10 derajat Celcius, kesan kita akan hal itu masih kurang besar dan tidak begitu mengesankan, sampai akhirnya kita terkejut bahwa kenaikan suhu yang demikian dapat membawa air laut lebih 100 meter di atas garis pasang.

Tanpa sadar kita telah jauh melangkahi ambang pintu perubahan, mungkin diujung berakhirnya alam. Pada titik ini, kita bisa melihat dengan gamblang, apa yang telah kita lakukan. Hutan-hutan hujan tropis sedang menghilang di abad ini dengan membawa species tumbuhan dan hewan, bukan dengan cara perlahan. Kita segera kehilangan sumber-sumber yang unik.

5 Juni di tahun 2013 adalah hari lingkungan hidup sedunia yang ke-41 sejak dicetuskan pada tahun 1972 di Stockholm. Tetapi tidak banyak yang bisa diharapkan, jika kita tidak berhenti dari omong kosong yang begitu banyak.

|Afrizal Akmal, 2013|.