Ketambe

Tebing-tebing sungai yang tergerus. Barisan pohon yang tak lagi berpelukan. Batu sungai alas yang mungkin berumur ribuan tahun, kini seakan duduk melamun. Mungkin karena terinjak mesin hedonisme, mungkin tentang pesonanya yang tidak lagi mengagumkan. Rimba yang sudah kehilangan misteri.

Ketambe. Perahu kabel tahun 1970-an. Orangutan yang bersembunyi, bergantung di pohon ara. Hutan hujan tropis berbunga bangkai. Stasiun riset yang kini sepi dari peneliti. Para pecundang yang kini diberi tanggungjawab untuk mengelolanya ternyata tak ramah. Seorang tua bernama Herman D Rijksen yang merintis pusat penelitian untuk Orangutan Sumatra ini sejak 1971 mungkin telah dilupakan.

Ketambe. Laboratorium yang sudah ditinggalkan. Sebuah masa lalu. Ia seakan sebuah belantara ganjil, dalam sihir kuno, dulu terpisah dari kapitalisme, berwibawa dan ganas. Zaman keemasan telah tergulung milenium, dan masa lalu sering berakhir dengan kesunyian yang aneh.

Tetapi Rijksen benar saat dia menulis: “Ketika pohon terakhir telah ditebang, maka uang tidak ada lagi artinya”. Bukan karena dia semata-mata paham segala akibat yang akan terjadi dengan rusaknya hutan di Kawasan Ekosistem Leuser itu, mungkin lebih karena ia meyakini bahwa kematian yang disebab oleh bencana alam adalah sebuah keabadian yang ironis. Penuh luka, kepedihan dan kengerian.

Saya naik darah ketika membaca koran, ada tujuh orang berkebangsaan Vietnam terlibat aktivitas pencurian kayu di Ketambe Aceh Tenggara minggu lalu. Bagaimana mungkin orang asing berani merambah hutan jika tidak terlibat suap dengan petugas keamanan?

Dan tentang penangkapan mereka oleh polisi, menjadi berita baik. Tapi dalam kondisi penegakan hukum sekarang ini, peristiwa semacam ini hanya dibayang-bayangi oleh hantu yang sesekali menampakkan diri sebagai polisi baik. Tak pernah benar-benar jelas proses hukumnya. Hanya sebuah lingkaran yang berputar-putar dalam orbitnya. Tak tuntas-tuntas.



0 komentar:

Posting Komentar