Nek Ti

Di pinggir empang itu, dalam sebuah perjalanan saya menemukan Nek Ti. Siang itu panas, matahari tegak lurus. Awan putih tak bergerak, cahaya menembus atap rumah yang terbelah karena lapuk. Ia sebatang kara. Rumah gubuk yang ditempatinya didirikan di atas tanah warga Gampong yang berbaik hati, berlantai batu bata retak, dari sisa-sisa.


Nek Ti, perempuan tua dengan raut wajah menyimpan duka, berkulit sawo, memakai kaos dan sarung batik yang lusuh. Kesehariannya ia menjahit beberapa helai atap rumbia, merapikan letak batu bata di dapur pembuatan batu bata milik tetangganya. Dari pekerjaannya itu ia dapat makan.

Siang itu, saya lihat matanya berkaca dan duduk termangu memandang tamu yang tak biasanya. Ia mempersilahkan saya duduk di beranda. Entah kenapa ia bercerita tentang dua anak lelakinya yang ditembak mati sekaligus oleh serdadu di era DOM Aceh. Sebagai tamu, kepada perempuan tua ini saya mencoba untuk mendengar dengan hikmat.

Di gubuk ini ada yang tak bisa dijelaskan dengan kata. Keadilan tak pernah singgah disini, penderitaan tak sanggup dijelaskan saat bibir si renta bergetar ketika ia memanggil-manggil roh anak-anaknya. Sampai detik ini, ia meyakini anaknya bukan anggota GAM seperti yang dituduhkan. Suasana kembali hening.

Bagi Nek Ti, sejarah adalah jejak yang seram. Negeri ini kosong keadilan, terkecoh oleh damai yang di-stigma-kan. Sebuah konflik yang sudah dianggap berakhir oleh orang-orang di atas sana. Tetapi di sini masih berlangsung trauma dan hantu-hantu kebegisan serdadu masa silam.

Trauma Nek Ti adalah produk yang dibangun dari kesepakatan damai yang tidak utuh di antara dua pihak yang berperang, ada yang belum selesai. Dalam lingkaran itu, Nek Ti terkurung dan tidak menemukan kemenangan, apalagi kebenaran dan keadilan. Hantu-hantu serdadu akan selalu terasa hadir saat ia teringat peristiwa tragis dua anaknya.

Bagi yg pernah bertikai, kesia-siaan belum pernah diakui. Otonomi yang diagung-agungkan itu ternyata bukan atas tanah, melainkan atas partai. Nek Ti tertipu dan tragis, sebab tanpa persetujuannya pun Nanggroe telah digadaikan kepada berhala yang pernah dia benci.

Dan dalam setiap pemilu lokal, kekuasaan partai itu hampir menyerupai agama yang tidak boleh tidak diikuti. Kekerasan, pemujaaan dan fanatisme belum bisa ditamatkan. Di sini, perang diganti oleh kebengisan lain. Di rumah gubuk reot ini, seorang renta memanjatkan doa-doa sederhana.




0 komentar:

Posting Komentar