Hari Air

“Dan Kami turunkan air dari langit 
dengan suatu ukuran; 
lalu Kami jadikan air itu menetap di bumi, 
dan Kami pasti berkuasa menghilangkannya” 
(Alquran, 23:18).

Seikat pesan telah dijinjing di Hari Air Sedunia kali ini, sebab selama 20 tahun itu ternyata manajemen air di negeri ini semakin buruk saja. Peringatan Hari Air Sedunia juga diperingati di Ibukota Jakarta, kota yang sungainya semakin pekat dan bau. Ratusan orang dari berbagai elemen berkumpul di Bundaran Hotel Indonesia. Melakukan aksi damai, memancing kesadaran dan kepedulian masyarakat untuk peduli dan melestarikan sumber daya air.

Kota Banda Aceh yang saya tempatii juga terus bergelut dengan problematika air, termasuk persoalan distribusi air minum yang tidak adil dan tidak merata. Tidak jelas apa regulasi yang berpihak kepada rakyat dibalik rutinitas peringatan itu? Bukankah persoalan air minum tidak hanya bergantung pada ketersediaan air baku atau penyaluran dari sumber air ke instalasi pengolahan saja? Yang tak kalah pentingnya adalah regulasi dan kinerja pengelola pelayanan air minum kepada warga. Tanpa kedua faktor itu, keberadaan sumber air baku yang berlimpah sekali pun tak akan bermanfaat banyak bagi rakyat yang lebih luas.

Mengajak orang untuk sekedar merenung-renung saja adalah basi. Menghayati arti pentingnya air sebagai sumber kehidupan, sama basinya. Tindakan bersama segera diperlukan untuk mendayagunakan, melestarikan, dan mengamankan sumber daya air yang merupakan milik hajat orang banyak.

Jika tidak ada tindakan nyata yang kita lakukan mulai dari sekarang, maka bagaimana menyediakan air bersih untuk rakyat, bagaimana membangun pertanian bagi ketersediaan pangan penduduk bumi yang jumlahnya meningkat dari 7 miliar menjadi 9 miliar jiwa di tahun 2050, belum lagi tantangan terhadap pemanasan global yang terus meningkat.

Air adalah elemen penting yang menjamin eksistensi kehidupan di bumi. Air memiliki nilai berdimensi ekonomi, politik, sosial dan budaya, sehingga menjadi komoditas yang diperebutkan, dan menjadi sumber konflik daerah maupun internasional.

Air yang dipandang sebagai barang ekonomi telah mendorong privatisasi, komersialisasi dan komodifikasi air. Konsep air sebagai barang ekonomi perlu ditolak dalam pengelolaan sungai, irigasi dan penyediaan layanan air bersih, sebab konsep air sebagai barang ekonomi semacam itu dalam prakteknya hanya akan mengedapankan kepentingan swasta, bukan kepentingan publik. Saya menduga, ekspansi sebuah negara di abad ini tidak saja didorong oleh kepentingan minyak, tetapi lebih jauh akan didorong oleh kepentingan sumber daya air.

Semoga memperingati Hari Air tidak hanya bersifat perayaan, tetapi dilanjutkan dengan tindakan...


0 komentar:

Posting Komentar