Gajah Sumatra, Nasib Mu Kini

Memasuki tahun 2013, izinkan saya menulis refleksi ini. Hari itu, di pertengahan tahun 2012 yang mendung tapi panas, ‘El’ seperti biasanya berjalan menyusuri home range yang sejak ratusan tahun yang lalu telah dirintis oleh buyut moyangnya. 'El' berusia 18 tahun dan sedang menyusui.

Peradaban Tuli

Hampir pada setiap sore hari di tahun 1980. Saya dan teman-teman kecil bermain berjalan mendaki bukit dari pintu belakang rumah. Di daerah yang jauh dari hiruk mesin, tempat ibu saya ditugaskan pertama kali untuk mengajar anak-anak di sebuah Sekolah Dasar berdinding kayu, berjendela kawat. Satu jam perjalanan dari

Rakyat Kalah dan Tragis

Setelah isi bumi dikeruk sejadi-jadinya, ladang minyak itu belum mampu juga memberikan kesejahteraan bagi manusia pribumi. Exxon Mobil, perusahaan milik Amerika Serikat di Aceh sejak 1975. Dulu Mobil Oil Indonesia Inc. Pribumi dikalahkan. Kolam-kolam penuh bangkai ikan. Bau busuk menyengat.

Belajar Pada Alam

Aini. Perempuan paruh baya. Ia menjadi saksi bahwa bahasa tumbuhan dan satwa adalah zikir. Sekian tahun setelah ia dianggap sakit jiwa oleh masyarakat sekitarnya karena berbicara dengan pohon dan satwa, kini menjadi manusia yang luar biasa. Kegilaannya dalam mengamalkan dan mencari kenyataan Asma’ ul

HPH, Ku Angkat Engkau Sebagai Pahlawan

Di masa lalu, para pemegang HPH telah melakukan segala yang diinginkannya, sebelum mereka diusir dan dicaci maki. Satu-satu, meninggalkan keganjilan. Kala itu seseorang yang baru ditepung tawari menjadi tokoh penting dalam menghentikan sementara izin Hak Pengusahaan Hutan. Sebuah instruksi

Ketambe

Tebing-tebing sungai yang tergerus. Barisan pohon yang tak lagi berpelukan. Batu sungai alas yang mungkin berumur ribuan tahun, kini seakan duduk melamun. Mungkin karena terinjak mesin hedonisme, mungkin tentang pesonanya yang tidak lagi mengagumkan. Rimba yang sudah kehilangan misteri.

Kayu Tak Bertuan

Dalam dongeng, butuh waktu lama bagi sang tokoh untuk menjadi pemenang. Tetapi di dunia nyata, juragan kayu illegal tidak perlu bersusah-susah dahulu untuk menang dalam cerita misteri yang mereka ciptakan. Di negeri ini, misteri “kayu tak bertuan” adalah sesuatu yang ajaib, lebih ajaib dari dongeng.

Vampir Ladia Galaska

“Vampir selalu bangkit lagi setelah ditikam sampai mati”.  Slavoj Zizek mengingatkan bahwa Marx menyamakan kekuasaan modal dengan vampir, dalam konteks kekinian Aceh salah satu persamaannya yang mencolok adalah si manis “Ladia Galaska”. Jaring kapitalisme yang membelah kedamaian rimba raya.

Bersedekah Pohon Di Bulan Ramadhan

Salah satu pintu yang dibukakan Allah untuk meraih keberuntungan di bulan Ramadhan adalah melalui sedekah. Islam menganjurkan umatnya untuk banyak bersedekah, terlebih-lebih dalam bulan Ramadhan.  Kedermawanan adalah salah satu sifat Allah SWT. Dan demikianlah sepatutnya akhlak seorang mukmin.

“Sesungguhnya Allah SWT itu Maha Memberi, Ia mencintai kedermawanan serta akhlak yang mulia, Ia membenci akhlak yang buruk.” (HR. Al Baihaqi, di shahihkan Al Albani dalam Shahihul Jami’, 1744).

Ada cara yang lebih inspiratif dalam bersedekah. Sedekah tidak melulu dengan uang atau makanan. Bagi yang hobby tanaman, kita bisa bersedekah dengan membagi-bagikan pohon kepada orang lain. Cara ini efektif berperan dalam menyumbang pengurangan dampak pemanasan global dan mendorong lebih banyak orang untuk menanam pohon di lingkungan mereka.

Beragam kelompok sasaran berpotensi dalam program sedekah pohon ini, seperti kelompok hobby, santri/pelajar, guru di pesantren dan sekolah-sekolah, mahasiswa, dosen di universitas-universitas dan eksekutif professional.

Bersedekah satu pohon saja di bulan Ramadhan, itu sama pahalanya dengan bersedekah 700 pohon di luar bulan Ramadhan, sebab orang yang bersedekah di bulan Ramadhan akan dilipatgandakan pahalanya 10 sampai 700 kali lipat.

Sesungguhnya Allah mencatat setiap amal kebaikan dan amal keburukan.” Kemudian Rasulullah menjelaskan: “Orang yang meniatkan sebuah kebaikan, namun tidak mengamalkannya, Allah mencatat baginya satu pahala kebaikan sempurna.  Orang yang meniatkan sebuah kebaikan, lalu mengamalkannya, Allah mencatat pahala baginya 10 sampai 700 kali lipat banyaknya.” (HR. Muslim).

Pesan Moral Fajri

Simpang Kisaran Meulaboh terbelalak oleh Fajri, ia menggelar aksi sendirian, membela sekian ratus orang yang terancam mata pencarian akibat sengketa lahan dengan perusahaan. Ia berontak dan tidak membisu. Dengan berpakaian hitam, Fajri tidur di jalan dan berorasi.

Ada Yang Hilang Di Nanggroe

Hari-hari di Nanggroe tampaknya masih dirasuki teka-teki. Berbicara jernih dan jujur masih dibayangi perasaan antara takut dan tidak. Tetapi tidak selalu mudah untuk selalu bersikap diam, sebab pada setiap masa akan ada kata-kata yang diberi harga atau diacuhkan. Setidaknya kita masih dapat berbicara dengan diri sendiri.

Sawit, Mitos Kesejahteraan

Di kebun sawit itu, Andira berjudi dengan masa depan. Sejumlah petani sawit di Kabupaten Nagan Raya bernasib sama. sejak dua pekan terakhir mereka mengeluh dengan merosotnya harga jual tandan buah segar (TBS) sawit milik mereka yang dibeli Pabrik Kelapa Sawit (PKS) di daerah itu.

Nek Ti

Di pinggir empang itu, dalam sebuah perjalanan saya menemukan Nek Ti. Siang itu panas, matahari tegak lurus. Awan putih tak bergerak, cahaya menembus atap rumah yang terbelah karena lapuk. Ia sebatang kara. Rumah gubuk yang ditempatinya didirikan di atas tanah warga Gampong yang berbaik hati, berlantai batu bata retak, dari sisa-sisa.


Nek Ti, perempuan tua dengan raut wajah menyimpan duka, berkulit sawo, memakai kaos dan sarung batik yang lusuh. Kesehariannya ia menjahit beberapa helai atap rumbia, merapikan letak batu bata di dapur pembuatan batu bata milik tetangganya. Dari pekerjaannya itu ia dapat makan.

Siang itu, saya lihat matanya berkaca dan duduk termangu memandang tamu yang tak biasanya. Ia mempersilahkan saya duduk di beranda. Entah kenapa ia bercerita tentang dua anak lelakinya yang ditembak mati sekaligus oleh serdadu di era DOM Aceh. Sebagai tamu, kepada perempuan tua ini saya mencoba untuk mendengar dengan hikmat.

Di gubuk ini ada yang tak bisa dijelaskan dengan kata. Keadilan tak pernah singgah disini, penderitaan tak sanggup dijelaskan saat bibir si renta bergetar ketika ia memanggil-manggil roh anak-anaknya. Sampai detik ini, ia meyakini anaknya bukan anggota GAM seperti yang dituduhkan. Suasana kembali hening.

Bagi Nek Ti, sejarah adalah jejak yang seram. Negeri ini kosong keadilan, terkecoh oleh damai yang di-stigma-kan. Sebuah konflik yang sudah dianggap berakhir oleh orang-orang di atas sana. Tetapi di sini masih berlangsung trauma dan hantu-hantu kebegisan serdadu masa silam.

Trauma Nek Ti adalah produk yang dibangun dari kesepakatan damai yang tidak utuh di antara dua pihak yang berperang, ada yang belum selesai. Dalam lingkaran itu, Nek Ti terkurung dan tidak menemukan kemenangan, apalagi kebenaran dan keadilan. Hantu-hantu serdadu akan selalu terasa hadir saat ia teringat peristiwa tragis dua anaknya.

Bagi yg pernah bertikai, kesia-siaan belum pernah diakui. Otonomi yang diagung-agungkan itu ternyata bukan atas tanah, melainkan atas partai. Nek Ti tertipu dan tragis, sebab tanpa persetujuannya pun Nanggroe telah digadaikan kepada berhala yang pernah dia benci.

Dan dalam setiap pemilu lokal, kekuasaan partai itu hampir menyerupai agama yang tidak boleh tidak diikuti. Kekerasan, pemujaaan dan fanatisme belum bisa ditamatkan. Di sini, perang diganti oleh kebengisan lain. Di rumah gubuk reot ini, seorang renta memanjatkan doa-doa sederhana.




Oto-Kritik Rimbawan Indonesia

Rimbawan seperti yang dikemukakan Suhendang (2002) di dalam Deklarasi Cangkuang 4 November 1999, adalah seseorang yang memiliki pendidikan kehutanan atau pengalaman dibidang kehutanan dan terikat oleh norma-norma. Beberapa norma yang disebutkan antara lain;

Beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, menempatkan hutan alam sebagai upaya dari mewujudkan martabat dan integritas bangsa ditengah bangsa-bangsa lain sepanjang zaman, menghargai dan melindungi nilai-nilai kemajemukan sumber daya hutan dan sosial budaya setempat, bersikap objektif dalam melaksanakan segala aspek kelestarian fungsi ekonomi, ekologi dan sosial hutan secara seimbang dimanapun dan kapanpun bekerja dan berdarma bakti, menguasai, meningkatkan, mengembangkan dan mengamalkan ilmu dan teknologi berwawasan lingkungan dan kemasyarakatan yang berkaitan dengan hutan dan kehutanan. Dan seterusnya, sampai 10 point yang disebut-sebut sebagai kode etik rimbawan Indonesia. (Baca: Kode Etik Rimbawan Indonesia). Tidak hanya itu, Rimbawan di lapangan juga diikat oleh 9 etika. (Baca: Etika Rimbawan Di Lapangan).

“Rimbawan” sebagaimana yang dibebankan dalam kode etik dan etika itu mungkin hanya pantas disebut ilusi, sebab tidak mudah menempatkan diri sebagai sesuatu yang utuh, ia hanya didesakkan oleh bahasa dan kamus eksklusif, dikondisikan oleh tata simbolik struktur sosial saja.

Berharap terlalu jauh pada sosok ideal Rimbawan mungkin perlu juga dikoreksi, agar Sang Rimbawan tidak merasa menjadi “Aku” dalam konteks bangunan keberhalaan yang dia bangun sendiri, baik berupa sistem maupun tradisi, sebab semua yang melekat pada diri Rimbawan itu masih merupakan persoalan. Dan dalam Kode Etik dan Etika itu, sesungguhnya mengandung kesangsian apakah Sang Rimbawan dapat menghasilkan karya yang mengagumkan. 

Saya ingin memberikan sedikit oto-kritik terhadap posisi Rimbawan Indonesia. Apa yang dicirikan sebagai Rimbawan Sejati yang mempunyai kompetensi, integritas dan independensi sesungguhnya belum tertanam dengan baik, masih dangkal, apalagi berbicara tentang kemandirian – masih jauh dari harapan.

Beberapa alasan yang dapat saya kemukakan dalam argumentasi ini diantaranya, seperti perusakan hutan yang diakibatkan oleh Rimbawan itu sendiri (saya tidak ingin menyebutnya oknum). Banyak kasus kerusakan hutan justru dipicu oleh kebijakan-kebijakan kehutanan yang keliru. Ini proyeksi dari posisi pengambil kebijakan yang tidak lain adalah Sang Rimbawan yang tidak bermoral Rimbawan, jauh dari kode etik, apalagi etika. Ini saya sebut sebagai degradasi moral dan mental Rimbawan.

Selanjutnya adalah soal pola pikir yang eksploitatif ketika berbicara tentang hutan. Pola pikir eksploitatif masih mengakar kuat dalam benak Rimbawan Indonesia. Yang terpikir adalah bagaimana memanfaatkan hutan untuk menghasilkan keuntungan sebesar-besarnya secara ekonomi.

Lalu berikutnya adalah soal keahlian Rimbawan pada tataran dia sebagai pengambil kebijakan. Sejauhmana Rimbawan itu telah memiliki keahlian dalam menganalisa persoalan hutan dan kehutanan? Menjadi beban yang perlu dipertanggungjawabkan.

Tiga hal di atas perlu segera dikoreksi, jika kita benar-benar ingin mengakui diri sebagai Rimbawan. Jika tidak, maka berapa pun banyaknya Rimbawan yang dilahirkan tidak akan memberi konstribusi apa-apa bagi perbaikan kehutanan, melainkan justru menambah beban bagi hutan itu sendiri. Perlu diingat bahwa di depan mata semakin jelas kecendrungan permasalahan Kehutanan yang harus dihadapi. Persoalan kerusakan hutan terkait jaringan lokal, regional dan global, penegakan hukum yang belum juga efektif, dan ada masyarakat sekitar hutan yang selalu menjadi korban kambing hitam.



REDD, Runtuhnya Kepercayaan

Sikap yang tak pernah disetujui oleh ideologi kapitalisme adalah sikap hormat terhadap norma-norma moral. Tidak berhenti disitu, kapitalisme juga mampu mempengaruhi banyak orang untuk mengabaikan semangat bermasyarakat, sambil mengumbar birahi kepentingan atas diri sendiri.

Sang Menteri di Rawa Itu

Saya dengar ada Menteri yang marah-marah. Sesuatu yang tampak sangar, namun sangsi dan nyaris percuma. “Mana izin Amdalnya untuk bikin kanal-kanal ini,” teriak Menteri. Seseorang menyahut dengan sumbringah, “Izin-izinnya sedang dalam proses Pak”.

Tak Ada Bordon Atau Alves

Ladang minyak, emas dan perburuan, menghancurkan kedamaian sebuah desa kecil di tengah rimba raya Ekuador. Seorang kakek tua dengan novel-novel cinta picisan di tangan yang didapatnya dari rumah bordil hilir sungai, pasrah ketika dirangsek peradapan yang menembus hutan mereka.

Di Bawah Demokrasi Yang Tragis

Saya awali catatan ini dari obrolan warung kopi. Saya menyebut diskusi kami sebenarnya proletariat, progresif mewakili kelas sosial yang ganjil, meski belum pantas menjadi kekuatan dalam sebuah gerakan revolusioner. Tetapi membebaskan negeri ini dari keadaan setengah feodal dan setengah kolonial

Sampah Visual dan Vandalisme Politik

Bukan lagi barang baru ketika kampanye politik berbentuk baliho memenuhi ruang publik. Monotisme pesan verbal-visual ditampilkan paritas oleh semua iklan politik lewat senyum narsis, gambar dirinya yang gagah, kental akan kesukuan, adat dan budaya atau nasionalisme sejati. Pada intinya, yang ingin disampaikan adalah

Mitos Dibalik Kenaikan Harga BBM

Sempurna sudah liberalisasi migas oleh asing. Kebijakan pemerintah menaikkan harga BBM adalah bagian dari paket liberalisaasi migas sektor hilir - setelah sebelumnya, liberalisasi itu sukses disektor hulu migas sejak masuknnya investor asing dalam mengeksplorasi migas di Indonesia. UU migas No.22 tahun 2001 adalah bukti keberhasilan kerja keras IMF, USAID, Bank Dunia, ADB dan kolaborasi kompradornya masa itu.

Baca saja Memorandum of Economic and Finansial Policies. Melalui Letter of Intent (LoI), Januari 2000, IMF memaksa Pemerintah Indonesia untuk liberalisasi migas. Di dalam LoI itu disebutkah: “pada sektor migas, Pemerintah berkomitmen mengganti UU yang ada dengan kerangka yang lebih modern, melakukan restrukturisasi dan reformasi di tubuh Pertamina, menjamin bahwa kebijakan fiskal dan berbagai regulasi untuk eksplorasi dan produksi tetap kompetitif secara internasional, membiarkan harga domestik mencerminkan harga internasional.”

Kini, Pemerintah Indonesia menyempunakan liberalisasi itu dan menaikkan harga BBM dengan seribu satu alasan. Alasan-alasan dibalik naiknya harga BBM itu sebenarnya hanyalah mitos yang tidak bisa dihitung dengan akal sehat manapun. Disebutkan bahwa APBN akan jebol karena harga minyak dunia naik. Padahal jika harga naik, pemasukan migas juga naik 37,94 triliun. Dengan asumsi ICP, USD 105 per barel dan kurs 9000, total pemasukan migas (RAPBN-P 2012) mencapai Rp 263,66 triliun.

Disebutkan juga alasan agar masyarakat tidak boros BBM. Ini adalah mitos, sebab menurut data konsumsi BBM Indonesia ternyata masih di bawah negara Afrika. Mitos lainnya disebutkan subsidi BBM dinikmati orang kaya, padahal faktanya 65 persen BBM subsidi dinikmati kalangan menengah bawah dan miskin. (Data Susenas, 2010).

Ada lagi mitos bahwa pengurangan subsidi BBM untuk menghemat APBN dan untuk kesehatan fiskal, padahal faktanya masih banyak alternative penghematan lain seperti pengurangan anggaran kunjungan yang mencapai 21 triliun, dan masih banyak lagi pos budget yang secara substasial tidak penting.

Sementara diwaktu yang sama, Pemerintah Indonesia sangat royal mensubsidi asing dengan menjual gas super murah ke negara China. Pemerintah Indonesia juga sangat ketagihan dan lunak terhadap royalti murah dari korporasi asing seperti Newmont, PT Freeport, Exxon dan lain-lain yang setiap detik begitu leluasa mengisap sumber daya alam milik rakyat Indonesia.


Tetarium

Saya rasa semua orang di Gampong tahu tentang tabiat orang-orang kota yang hidup boros. Mereka membaca koran dan menonton televisi bagaimana cara pejabat-pejabat itu memanipulasi anggaran. Hidup memang sudah kadung gawat. Meski tinggal di Gampong, sisa lahan sudah tidak mencukupi untuk digarap. Mereka juga tidak punya pekerjaan tetap meski sebenarnya setiap hari mereka bekerja. Kadang jadi buruh bangunan, kadang jadi buruh galian pasir di sungai, kadang melansir kayu di hutan. Semua pekerjaan dilakoni sesuai situasi dan permintaan.

Di Gampong mereka mendapat jatah raskin yang mutu berasnya ala kadar. Ada juga surat miskin untuk berobat gratis di Rumah Sakit walau seringkali harus menebus obat paten yang harganya selangit di luar Rumah Sakit.

Kondisi sosial memang kontras ketika berhadapan dengan realitas; bahwa pejabat harus ada sopirnya, harus ada ajudannya, harus tahu kapan perlu tersenyum dan bagaimana cara berjalan. Sementara ada elemen rakyat yang berada dalam kesendirian dan terus sendiri meraba-raba nasib, identitas dan eksistensinya.

Bagaimana menusia-manusia palsu itu sampai hati mengeluh soal ruang rapatnya yang harus direnovasi? Berbasa-basi dalam sikap feodal, berpidato memakai teks lengkap dengan staf khusus pembuat pidato, hobi memakai mobil mewah dan hobi malas menghadiri sidang untuk rakyat?

Banyak lagi yang perlu kita tanyakan. Tetapi malas untuk kita tanyakan disini. Kita punya kecendrungan untuk melihat situasi ini sebagai sesuatu yang memang hadir dan dihadirkan, bukan sebagai ide. Tetapi sebagai gambar hidup, strategi dan tetarium politik belaka. Lalu dalam sekejap kita mengabaikan keringat lelaki-lelaki perkasa dan perempuan paruh baya yang mencangkul di sawah, memanen padi dan memetik sayur.


Reformasi, Tuan Tanah dan Jakal

Ada rasa bosan ketika berdiskusi tentang apa yang terjadi di negeri ini. Apalagi tentang wacana yang meski genting tetapi tak tuntas-tuntas. Semua orang hanya mencoba menerangkan dalam bahasa dan sistem, mencoba mengartikulasi dan menggunakannya sebagai proses politik.

Sebut saja persoalan reformasi yang bayangan kehadirannya terlihat sebentar, lalu hilang lagi. “Hantu baik” itu menyadarkan kita bahwa negeri ini sebenarnya belum bersungguh-sungguh. Itu sebabnya kita selalu perlu risau melihat kenyataan bahwa diri kita terperangkap dalam gaya hidup dinasti korup, mewah dan boros.

Kita berada diantara orang-orang yang dengan yakin dan sangat pongah, memandang diri sebagai permata dari suara jelata. Kita juga pandai membuat undang-undang demi kepentingan “umum”. Padahal kita tak lebih adalah bagian dari persoalan-persoalan itu.

Kebanyakan kita bahkan tidak menyadari sedang berada dalam sebuah cerita lucu reformasi. Demokrasi disini belum mendatangkan keadilan. Banyak hal negatif dan traumatis yang belum dijawab oleh regulasi. Reformasi sedang sekarat. Dia pernah hadir disini sebentar saja, lalu lenyap dan terus lenyap. Atau mungkin juga kepergiannya tak pernah kita rasakan, sebab kita tidak mengganggapnya istimewa.

Reformasi yang dilakonkan hanya lintasan sejarah yang tak mampu mengalahkan tuan tanah. Negeri ini dikuasai orang-orang yang mahir berbisnis dan tak terikat dengan tangisan siapapun. Mereka menguasai tanah lengkap dengan sistem administrasinya. Pejabatnya menjadi kaya raya setelah tanah hutan dan rawa-rawa disewakan kepada para jakal.


Hari Air

“Dan Kami turunkan air dari langit 
dengan suatu ukuran; 
lalu Kami jadikan air itu menetap di bumi, 
dan Kami pasti berkuasa menghilangkannya” 
(Alquran, 23:18).

Lupa

Ada segudang jejak memilukan dan tangis dahsyat dibalik bongkahan kayu dan batu dari gunung pasca banjir tempo hari. Ditengah tamasya orang-orang hebat di lokasi banjir Tangse dan ditengah keriuhan pelancong yang sok bersimpati sambil berfoto, mereka tidak tahu apa

Modernitas Tanpa Rumus

Hari-hari penuh kerumitan bagi rakyat yang sedang meraba-raba merumuskan identitas dan kelas sosialnya jika dibandingkan dengan kelompok sosial lain yang gampang membeo dan menyederhanakan soal-soal. Tetangga saya yang wakil rakyat merasa kolot jika harus tinggal di lingkungan kaum susah, lalu membentuk kelompok sosial baru dengan cara membangun tempat tinggal baru sesama wakil rakyat.

Sejak saat itu, rakyat yang lebih kolot memecahkan persoalannya sendiri, sebab mengadukan kerumitan hidup kepada wakil rakyat biasanya sama buruk dengan kerumitan itu sendiri. Kesejahteraan begitu gampang dijanjikan, namun sulit disajikan. Tetapi rakyat selalu saja berbaik hati, sebab begitulah yang diajarkan.

Ada pendar kemewahan yang hanya bercahaya di sekeliling elit politik dan kekuasaan saja, namun redup dan gelap dalam realitas masyarakat yang sesunguhnya. Negeri ini adalah kepura-puraan yang diwakili oleh minoritas cacat dan kotor. 

Inilah aib di kota yang sedang kita tinggali. Dimana visual telah menjadi menu harian yang sesungguhnya tidak bisa kita cicipi. Baliho tentang si fulan yang jujur, atau tentang partai fulan yang merakyat adalah sesuatu yang hanya bisa kita lihat, tanpa mengenyangkan hati dan pikiran.

Yang ditawarkan adalah modernitas yang tak terumuskan. Lalu sebagian dari kita terjebak untuk beriman kepadanya. Mari kita hitung seberapa terasingnya kita dengan orang-orang yang kita wakilkan ketika ritual lima tahunan tiba. Bertahun-tahun kita hanya melihat kertas atau televisi tentang mereka yang membeo akan babak baru, kebangkitan baru dan entah apa lagi yang semuanya baru-baru.

Lewat modernitas yang telah diimankan, mereka telah merayakan gambar dan membangun kota sebagai tempat tinggal tujuh keturunan. Tetapi mereka juga memahat gunung, menebangi hutan dan menghabisi sungai tanpa ampun. Si tolol takjub terngaga ketika hasil hutan telah menjadi benda yang dipajang di toko-toko. Kapitalisme menjadi pemenang. Rakyat berada dalam pesona sihir yang menyesatkan, diwakili etalase tanpa misteri. Sebuah kesementaraan, sebab materi akan terus berganti atau diganti musim.


Kita Belum Beres

Apa lagi yang perlu ditulis tetang banjir. Bukankah banjir telah menjadi rutinitas hidup rakyat? Meski Orang-orang hebat diatas sana mempunyai ragam persepsi tentang banjir. Ada banjir bandang, banjir kiriman, dan entah apa lagi terma yang dipakai untuk menerjemahkannya.

Nasi Bungkus Itu

Berapa orang yang setuju jika aku katakan, “Yang kita butuhkan di abad ini bukan sekedar pabrik, jalan, mall dan gedung-gedung sekolah sinting. Tetapi pendidikan yang jujur dan ramah, serta moral yang tinggi. Mengapa orang-orang hebat di atas sana selalu berpikir untuk membangun tugu-tugu yang tidak bisa mengenyangkan rasa lapar si jelata.

Aku dengar dari teman. Koran-koran tidak lagi memuat seruan untuk berbicara jujur, sebagian halamannya telah dipenuhi iklan obat kuat dan kabar narsis pejabat kota. Aku agak panas mendengarnya. LSM dan akademisi juga sama saja, berbicara konsepsi… konsepsi. Memangnya nasib bisa berubah dengan konsepsi?

Apakah rakyat akan meletakkan seluruh masa depan di tangan manusia-manusia seperti itu? Manusia-manusia narsis itu kerap berpandangan borjuistis dan paling hebat sehingga mereka takut untuk jujur. Mengurangi tingkat kemiskinan dan kebodohan menjadi slogan-slogan yang kosong dan memuakkan.

Secara tidak sengaja aku melihat orang yang berpakaian seperti mubaliq membungkuk menyalami pejabat di Meuligoe. Gejala apa lagi ini? Sementara di halaman kantor Dewan Perwakilan Rakyat  yang terhormat, para pendemo menghalalkan minuman kemasan dan nasi bungkus yang datangnya entah dari mana. Sebagai rakyat, aku mulai tidak terkesan oleh mahasiswa yang idealis dan jujur, namun bisa ditawar dengan nasi bungkus.


Histeria Massa

“Tingkah laku kepada masyarakat sipil harus diatur dengan meletakkan rasa hormat yang tinggi kepada semua aturan dan tradisi masyarakat dengan tujuan untuk menunjukkan secara efektif, melalui perbuatan, akan keunggulan moralitas pejuang gerilya dibanding tentara penguasa”. (Che Guevara).

Saran dan Sinisme Pengelolaan Hutan

Ditengah kisruh rakyat dengan pemerintah dan perusahaan terkait lahan hutan dan perkebunan yang terus mencuat dewasa ini1, ada kebijakan yang perlu segera dilakukan. Pertama, Isu yang terkait dengan kolusi, korupsi dan nepotisme. Sebab bagimana pun juga korupsi atau suap telah menciptakan kondisi yang rumit, apalagi optimisme penyelesaian masalah-masalah korupsi terlihat semakin menurun. Penanganan kasus suap yang melibatkan sejumlah pemodal dengan pejabat pemerintah, terutama yang berhubungan dengan keberadaan hutan dan masyarakat di dalam dan sekitar hutan perlu segera dilakukan.

Kedua, Harus ada koordinasi yang benar-benar nyata dan transparan diantara departemen teknis dan antara perusahaan swasta dengan pemerintah dan seluruh stakeholder, termasuk masyarakat setempat.2

Ketiga, Pemerintah harus segera membuat mekanisme yang jelas untuk menyelesaikan pertikaian secara efektif diantara berbagai pihak dan menghargai hak tradisional masyarakat lokal. Birokrasi kehutanan juga perlu mengubah sikapnya menjadi lebih berkemauan menangani isu-isu yang sensitif ditengah masyarakat lokal.

Keempat, Diperlukan kekuasaan yang seimbang antara rakyat dengan pemerintah. Koneksi yang terlalu mesra antar pemodal dan pemerintah yang selama ini eksklusif dan tidak dapat ditawar harus diputus.

Harapan ada pada lembaga legeslatif dan yudikatif. Mereka harusnya bertanggung jawab terhadap masa depan negeri ini. Namun sinisme masih tertuju kepada mereka, sebab nampaknya upaya untuk mereformasi kedua lembaga itu telah gagal dan rakyat terjebak dalam jaring nihilisme pemerintahan yang payah.

|Afrizal Akmal, 2012|.

#
1. Hutan rawa gambut Tripa di Aceh, kasus Mesuji di Lampung, perampasan hutan adat di Riau, Bima, Kalimantan dan daerah lain yang ledakannya tinggal menunggu waktu.  
2. Agar tidak terjadi pengelolaan yang berpotensi menyebabkan degradasi hutan.

Antroposentris


Sejarah mengajari kita bahwa ada bangsa-bangsa yang mengalami kemasyuran, tetapi kemudian runtuh. Cina dan India di benua Asia, Mesir di Afrika, Yunani dan Romawi di Eropa dan Inka, Aztec dan Maya di Amerika, Sriwijaya, Majapahit dan Kerajaan Acheh di Indonesia. Pengkhianatan, korupsi, serta ketamakan yang memadamkan jiwa pionir adalah faktor penting runtuhnya kejayaan sebuah bangsa.

Good Local Governance?

Sudah menjadi barang lumrah, calon kepala daerah berkunjung ke gampong-gampong, mendengar keluhan rakyat dan mengucapkan terima kasih atas masukan mereka. Kegiatan-kegiatan seperti itu terus terjadi berulang-ulang setiap jelang pemilihan kepala daerah. Tetapi setelah itu bagai angin lalu, para pejabat yang terpilih kemudian berperilaku seolah-olah pertemuan semacam itu tidak pernah terjadi.

Lingkar Konflik SDA

Ketika pejabat-pejabat itu diyakini oleh semua orang dapat disuap dan ada keinginan dari pejabat itu sendiri untuk mendapat tambahan masukan bagi gaji mereka, kemungkinan adanya proses yang jujur yang berhubungan dengan tata guna lahan akan sulit tercapai.

Skeptis Kehutanan Aceh

Kegiatan kehutanan era rezim terdahulu yang hanya mengutamakan pemanenan kayu dan praktik-praktik silvikultur yang keliru telah menimbulkan kerusakan parah bagi hutan di Indonesia, termasuk di Aceh. Sentralisasi administrasi dan keuangan kehutanan telah menyebabkan rendahnya intensif dan kemampuan pengelolaan hutan di tingkat lokal.

Akuntansi Lingkungan

Sebelum menerima akibat yang lebih buruk untuk dipikul, akan lebih mudah dalam menjaga dan memelihara hutan sebelum habis. Desentralisasi mungkin memberi peluang untuk meningkatkan peran kabupaten secara nyata, mengurangi konflik atas lahan dan menghindari tata guna lahan yang tidak sesuai dengan kondisi lahan. Tetapi tekad kepala daerah kabupaten untuk mengembangkan perkebunan, terutama kelapa sawit sebagai penyumbang utama bagi pendapatan daerah sudah pasti akan mengkonversi lahan hutan.

Lestarikan Hutan, Perlu Kesadaran

Akuntabilitas yang tinggi dari kebijakan dan program pembangunan kehutanan perlu segera diupayakan secara konsisten dan non diskriminatif, sebab realitas selama ini menunjukkan bahwa penetapan kebijakan yang tertutup atau sengaja ditutup-tutupi dan tidak partisipatif hanya akan menguntungkan sekelompok orang  yang memiliki akses terhadap proses penetapan kebijakan, yang menyebabkan mayoritas masyarakat lainnya menjadi dirugikan dan terabaikan.