Blue Print Untuk Rakyat

Enam puluh satu tahun yang lalu di sebuah kota kecil San Cristobal, orang-orang yang muak dengan perilaku penguasa Mexico membangun sebuah perlawanan rakyat. Sebuah asosiasi revolusioner dibentuk untuk pemerintahan baru. Tetapi rezim Mexico mencap mereka sebagai bandit yang harus dihancurkan. Bagi elit pemberontak Cabanas yang kemudian menjadi legenda sebagai Subcommandante Marcos, “perjuangan bukan untuk kekuasaan.”

Berbeda dengan apa yang kita saksikan di negeri ini, para mantan aktivis mahasiswa dan mantan pejuang Aceh seakan sibuk mengkapling wilayah kekuasaan mereka ditengah banyaknya persoalan mendasar yang belum juga ada jalan keluarnya.

Ditengah kasak-kusuk soal Pilkada Aceh, ada persoalan penting rakyat yang tidak mendapat perhatian. Sebagai rakyat, yang kita butuhkan adalah “Kebutuhan Dasar” yang secara hirarki berupa: Kebutuhan dasar untuk kelangsungan hidup hayati, kebutuhan dasar untuk kelangsungan hidup manusiawi, dan kebutuhan dasar untuk memilih.

Kelangsungan hidup yang manusiawi dan derajat kebebasan memilih hanya mungkin terjadi jika kelangsungan hayati terpenuhi dan terjamin dengan baik. Itu sebabnya maka kebutuhan dasar untuk kelangsungan hidup hayati adalah yang paling utama diantara ketiga kebutuhan dasar.

Rakyat merindukan pemimpin yang berprilaku “altruisme”, yaitu pengorbanan diri untuk mempertahankan kelangsungan hidup sesama, tidak hanya untuk pribadinya. Jika mereka menjadi pemimpin, mereka bersedia untuk mengorbankan diri demi keselamatan rakyat.

Rakyat merindukan realitas, dimana terdapat pelayanan yang efektif agar kebutuhan dasar untuk kelangsungan hidup secara hayati dapat terpenuhi dengan baik dan merata. Antara lain ada keseriusan dari pemimpin untuk menjaga keselamatan jiwa rakyat, termasuk ketika terjadi konflik antara pemerintah dengan masyarakat, konflik antara perusahaan dengan masyarakat. Adanya pelayanan air minum yang bersih secara merata, kesehatan dan sanitasi, serta jaminan sosial kepada yang memerlukan.   

Perlindungan hukum yang adil merupakan kebutuhan dasar yang membuat rakyat dapat hidup secara manusiawi. Dengan demikian kesempatan untuk memiliki ideologi, berfilsafat, berilmu, berseni dan berbudaya merupakan kebutuhan dasar untuk hidup yang manusiawi. 

Kebutuhan pendidikan, pakaian, rumah dan energi sudah sangat awal dalam perkembangan kebudayaan manusia, tetapi kebutuhan dasar selanjutnya adalah lapangan pekerjaan. Sebab bagaimanapun juga, lapangan pekerjaan adalah unsur martabat seseorang.

Yang terakhir adalah kesempatan memilih. Faktor yang mempengaruhi kesempatan memilih antara lain adalah undang-undang dan peraturan pemerintah, sosial budaya dan ekonomi. Orang-orang miskin tidak memiliki kebebasan memilih fasilitas hidup yang lebih baik karena kemampuan ekonomi mereka yang rendah dibandingkan orang-orang kaya. Kenyataan ini membutuhkan perhatian yang lebih serius dari pemerintah.

Tiga kebutuhan dasar di atas haruslah menjadi “Blue Print” bagi pembangunan masa depan Aceh yang lebih baik. Sebagai rakyat kita berharap, siapapun calon pemimpin Aceh masa depan - haruslah memiliki blue print semacam ini.

0 komentar:

Posting Komentar