Bersahabat Dengan Air

Kita seperti sedang membangun sebuah sistem yang mengasingkan hidup dari kehidupan, membuat pemisah antara kita dengan apa yang kita konsumsi. Kita sedang benar-benar menjadi kapitalis sejati. Lalu tanpa kita sadari sesuatu yang sangat kita butuhkan perlahan-lahan menghilang di abad ini.
Kita memang menemukan air minum ditoko-toko atau di pasar tepi jalan. Air semacam itu telah menjadi komoditas semata, yang dihadirkan dalam nilai tukar dan mudah dibeli. Bahkan dalam pesta minum sekalipun, sesuatu telah kita lupakan - yaitu pertalian manusia dengan apa yang hidup dan yang mati.

Setiap kali kita mengkonsumsi sesuatu, kita mungkin lupa bahwa sesuatu telah kita korbankan dan mungkin juga kita menganggapnya sebagai persediaan yang hanya dihitung jumlahnya.  Misalnya, manusia wajib minum air putih delapan gelas per hari. Kebutuhan air orang per hari untuk standar normal adalah antara 125 - 140 liter, yang digunakan untuk minum dan masak, mencuci peralatan masak, mandi, kakus, cuci pakaian dan cuci tangan.

Manusia telah rakus dan mengabaikan kehakikian air, lalu meletakkannya dalam kemasan tanpa ingat untuk sekedar berbisik dalam menyenangkannya sebelum kita "mencekiknya" dengan teknologi yang berjarak. Kita telah menjadi operator yang tak akan peduli terhadap air yang mengalir jernih di sungai-sungai dari hulu hutan yang ramah.

Ditengah krisis air jernih yang sedang melanda masyarakat dunia saat ini, agaknya penting untuk merekonstruksikan kembali akal sehat kita, bahwa kita perlu bersahabat dengan air lewat perilaku yang lebih ramah dengan air, mengkonservasinya dan tidak mencemarinya. Segala bentuk privatisasi pengelolaan air harus ditolak karena dapat mengkebiri hak rakyat untuk mendapatkan air bersih. Sebab setiap orang berhak untuk mendapatkan air yang cukup, layak dan sehat tanpa terkecuali.
|Afrizal Akmal, 2011|

0 komentar:

Posting Komentar