World Trade Restorasi

Tujuh tahun yang lalu, kayu-kayu Meranti dan Merbau yang berasal dari hutan Sumatera, Kalimantan dan Papua ditemukan di pasar kayu Cina, Afrika, Malaysia dan Singapura. Padahal Pemerintah Indonesia secara resmi telah melarang penebangan kayu jenis Meranti dan Merbau, karena kedua jenis kayu tersebut sudah terbilang langka.

Tidak tanggung-tanggung, sebanyak 98 juta meter kubik tumpukan kayu Meranti dan Merbau asal Indonesia itu ditemukan menumpuk di RRC, yang diperkirakan mampu menutupi kebutuhan industri negara itu hingga 15 tahun.

Di negara Tirai Bambu itu, memang pemerintahnya juga telah melarang penebangan hutan alam, namun Cina cerdik untuk segera menumpuk kayu ilegal dari Indonesia.

Malaysia yang menjadi negara tetangga dekat Indonesia juga memiliki peran dalam menampung kayu dari hasil praktek illegal logging di Indonesia. Namun, pemerintah Malaysia tidak bersedia dituding sebagai negara penampung kayu haram dengan alasan sederhana, yaitu sepanjang perusahaan kayu di Malaysia membayar pajak ke negaranya. Meskipun perusahaan kayu Malaysia membeli lewat cara curang, hal itu bukan menjadi urusan negaranya dan itu tidak bisa dikatakan perusahaan ilegal.

Indonesia memiliki puluhan juta hektar lahan rusak akibat praktek pengelolaan yang tidak lestari. Lebih separuh dari kayu-kayu hutan Indonesia telah raib ke luar negeri. Pencurinya adalah Pemerintah Indonesia sendiri lewat oknum pejabat negara yang gampang disuap. Sejumlah "cukong" kayu bisa bekerja sama dengan baik untuk saling meloloskan kayu-kayu ke luar negeri.

Dua hari yang lalu, dimulai dari 12 September 2011 - Environmental Leadership & Training Initiative, sebuah program gabungan antara Yale School of Forestry & Environmental Studies dan The Smithsonian Tropical Research Institute, yang bekerja sama dengan Institut Pertanian Bogor dan Tropenbos-Indonesia. Mensponsori konferensi yang membahas beberapa pendekatan teknologi restorasi yang lebih inovatif dan memungkinkan untuk dilakukan di Indonesia dan wilayah Asia-Pasifik, serta membahas lebih lanjut penerapannya di Indonesia setelah beberapa program restorasi hutan Indonesia sebelumnya dianggap gagal. Konferensi ini diadakan di Indonesia.

Sikap Indonesia mengundang Singapura dalam konferensi itu mengundang pertanyaaan yang menggelitik bagi saya, ditengah sikap dunia yang belum mengambil tindakan terhadap pasar internasional bagi negara penampung kayu ilegal dari Indonesia.

Sepuluh negara yang ikut dalam konferensi internasional restorasi hutan itu adalah USA, Philippines, Indonesia, Britain, Australia, Costa Rica, Germany, Nigeria, Sri Lanka, dan Singapore.

Sebagai rakyat, Saya tidak mengerti apakah Indonesia ingin belajar dari dari kelihaian dan keculasan Singapura berada di posisi 15 besar negara pengekspor sumber daya alam dengan rangking 14 versi World Trade Organization pada 2010 yang lalu? Predikat ini tentu prestisius bagi Singapura yang hanya menyisakan hutan alam seluas sekitar 3.043 hektar.

Dalam laporan bertajuk "World Trade Report 2010" itu nama Indonesia yang sisa hutan alamnya lebih luas dari Singapura ternyata sama sekali tidak tercantum. Ekspor kayu dicantumkan WTO sebagai salah satu komponen sumber daya alam dalam laporan itu.

Sponsor Utama ELTI (Environment Leadership Training Initiative) yang berpusat di Yale Amerika Serikat dan memiliki kantor di Singapura ini patut "dipantau" (saya tidak menggunakan kata "dicurigai") ditengah besarnya kebutuhan biaya restorasi hutan Indonesia.

Mega kolaboratif ELTI, Tropenbos Indonesia, Departemen Kehutanan dan IPB, memukau bayak orang karena mampu menghadirkan 300 individu dari 10 negara dalam Konferensi International Restorasi Hutan Untuk Masyarakat,di IPB Convention Center.

Lima belas tahun mendatang kita berharap akan terpukau melihat lebatnya hutan Indonesia dari mega proyek restorasi ini, asalkan dana proyek tidak ditilep dan dibawa kabur pejabat nakal ke Singapura. 

Hmmm.... Sebab restorasi hutan jangan cuma dagangan. Sebab rakyat di negeri ini juga sudah "lelah" diperdagangkan dalam "tema-tema" yang selalu membingkai nama mereka.


|Afrizal Akmal|.

0 komentar:

Posting Komentar