Restorasi Hutan

Ketika manusia datang, hutan-hutan menjadi gundul. Ketika manusia-manusia itu pergi, maka pohon-pohon kembali tumbuh dan hutan pun menjadi asri kembali. Lain halnya dengan satwa, sebagai pollinator - satwa melalui kotorannya akan mengecambahkan biji-biji pohon yang dimakan menjadi pohon-pohon muda. Tidak hanya menumpuhkan pohon, satwa-satwa itu sekaligus berperan membantu polinasi (penyerbukan) dan penyebaran benih tanaman dalam sebuah ekosistem
.

Dengan logika semacam itu, maka menyelamatkan sebuah ekosistem dapat dilakukan dengan cara yang murah. Bayangkan jika tugas ini dilakukan oleh manusia, dari proses pengadaan benih, persemaian, perawatan bibit, ongkos distribusi sampai dengan penanaman pohon, plus pembuatan proposal proyek nursery dan kajian ilmiah (assessment) akan menghabiskan dana trilyunan rupiah untuk sebuah proyek restorasi hutan.

Pemerintah Indonesia mencanangkan pengelolaan kawasan hutan melalui skema restorasi ekosistem hutan seluas 3,3 juta hektar. Ada empat strategi besar dalam konsep restorasi ekosistem hutan tersebut: Pertama, memilih tanaman yang mudah dan cepat tumbuh pada lahan kritis, memiliki struktur tajuk yang baik sebagai penahan air hujan dan mengembalikan unsur hara tanah yang sudah ktitis.

Strategi kedua, setelah terealisasi melakukan penanaman tanaman asli pada kawasan yang direstorasi. Artinya, tanaman asli pada kawasan yang direstorasi ditanam kembali dan itu akan lebih mudah sebab kondisi lahan sudah tidak kritis lagi maka tingkat keberhasilan tumbuhnya tanaman asli cenderung berhasil.

Strategi ketiga, setelah tanaman asli tumbuh maka harus membiarkan wilayah restorasi ekosistem hutan tidak diganggu apa lagi ditebang agar proses regenerasi alami dapat berlangsung normal sehingga nantinya memiliki keragaman hayati dan tutupan vegetasi baik.

Strategi keempat, membantu regenerasi alami tanaman asli dengan cara memotong jenis tumbuhan pengganggu tertentu agar jenis-jenis pohon penting dapat tumbuh dengan baik. Melakukan penanaman dengan pengayaan jenis tanaman tertentu yang telah hilang, jenis tanaman atau pohon tertentu yang telah hilang harus ditanam termasuk mendatangkan satwa (hewan) yang selama ini ada di kawasan yang direstorasi sehingga tercipta habitat yang lebih beragam.

Keempat strategi diatas tentu saja memerlukan biaya yang sangat mahal dan komitmen yang tinggi.

Restorasi ekosistem hutan sejatinya menguntungkan semua pihak. Tetapi, jika pelaksanaan dari restorasi ekosistem hutan tidak sebagaimana yang dimaksud dari restorasi ekosistem hutan itu sendiri maka proyek semacam itu hanya akan menguntungkan pihak-pihak tertentu saja dan dapat dikatakan bukan restorasi ekosistem hutan yang sesungguhnya, melainkan bisnis penghijauan semata.

Andai saja satwa-satwa seperti burung dan kera dapat merancang proposal proyek... Mungkin langkah pertama yang akan dilakukan satwa-satwa itu adalah melarang manusia memburu mereka dan menutup semua kebun binatang, menyita semua satwa yang ada disana untuk dikembalikan ke habitatnya. Lalu membangun dunia kerja yang ramah lingkungan bagi jutaan makhluk berbangsa manusia di negeri ini. Selanjutnya, membangun kebijakan dan memastikan aturan yang memiliki kekuatan hukum dalam pengelolaan wilayah hutan yang berkelanjutan dan bertanggung jawab, serta sesegera mungkin memenjarakan gerombolan para pembual yang selalu mengambil untung dari proyek-proyek restorasi hutan itu.
|Afrizal Akmal, 2011|.



0 komentar:

Posting Komentar