Schizophrenia


Mengapa perubahan sosial di negeri ini seperti terhambat dan tidak dapat diharapkan? Mengapa kerusakan hutan, pencurian kayu di hutan lindung yang melibatkan aparat penegak hukum, pencemaran lingkungan dan konflik pertambangan dengan masyarakat terus berlanjut? Apa yang sesungguhnya sedang terjadi?

Tirani Soeharto telah lama runtuh diterpa badai reformasi dan perang bersenjata di Aceh telah berakhir, tetapi sistem Ode Baru masih terus ada di dalam pikiran orang-orang, hantu-hantunya masih bergentayangan di bumi pertiwi.

Menarik untuk mengamati perilaku orang-orang di negeri ini; Orang-orang di negeri ini ternyata memiliki perilaku ganda dalam bekerja. Jika sedang bekerja untuk negara dan mengurusi rakyat, mereka tidak efisien dan sering bolos. Tetapi jika sedang bekerja untuk kepentingan mereka sendiri, rajinnya minta ampun.

Dikalangan pejabat publik, mereka sangat lamban dalam mengambil keputusan dan sangat gemar meleparkan tanggung jawab. Sebaliknya, jika pejabat yang bersangkutan mengurusi proyek pribadi, mereka mempunyai inisiatif, sampai-sampai sangat inovatif dan penuh tanggung jawab. Meskipun orang-orang seperti itu digaji oleh negara, tetapi sama sekali tidak merasa bertanggung jawab kepada negara.

Ditataran masyarakat umum, orang-orang juga tidak menghargai fasilitas-fasilitas umum. Telepon umum, lampu taman kota, tong sampah di pinggiran jalan dan kakus umum biasanya hanya bertahan satu bulan, orang-orang seakan-akan berusaha untuk menghancurkan milik umum. Tetapi sangat menjaga dan merawat dengan baik apa yang mereka miliki secara pribadi.

Seorang miskin yang mencuri mangga bisa saja mati dihakimi masa. Tetapi puluhan pajabat yang korupsi di instansi-instansi negara jarang dihakimi. Orang-orang yang mencuri milik pribadi dihajar babak belur, tetapi orang-orang yang mencuri milik negara tidak ada yang menghakimi. Saya tidak mengada-ngada, kasus seperti ini berlangsung pada masyarakat yang totaliter.

Orang-orang sering percaya kepada isu dan desas-desus dan cendrung tidak percaya kepada pemberitaan resmi. Ini mereka lakukan untuk menyesuaikan diri dengan realitas kekuasaan yang tidak mampu mereka hadapi secara akal sehat. Mungkin juga salah satunya diakibatkan oleh iklan-iklan yang menganjurkan masyarakat membayar pajak secara jujur, tetapi para petugas pajak malah menjadi pengemplang.

Ajakan-ajakan resmi semakin tidak dipercayai oleh masyarakat. Pejabat negara selalu dipersepsi sebagai penipu ulung, sebab apa yang dibicarakan selalu tidak cocok dengan apa yang dilakukan. Kalau pejabat negara berkata, “Mari kita menjaga hutan dan menyelamatkan lingkungan hidup!”, pastilah pejabat itu sedang hidup dengan boros dari uang suap yang diberikan penyodor izin HGU atau pemilik tambang bermasalah.

Perilaku lainnya adalah tindakan rekayasa dan ritualistik. Jika diberitahukan bahwa akan ada pejabat negara seperti presiden yang datang ke kampung. Dalam hitungan jam, kampung yang kumuh itu seketika diubah menjadi bersih. Balai pertemuan kampung dan pagar-pagar rumah penduduk kampung segera dicat, sehingga tampak seperti baru. Semua direkayasa sedemikian rupa sehingga terkesan makmur.

Saat moratorium logging diberlakukan di Aceh, semua kalangan menyaksikan pendeklarasiannya sambil memberi aplus tepuk tangan. Beberapa pemilik HPH juga turut hadir dalam pendeklarasian itu. Para penegak hukum berkomitmen untuk mendukung moratorium logging. LSM dan pemerhati lingkungan hidup lainnya tampak puas pada saat itu.

Apa yang terjadi kemudian? Setelah pendeklarasian itu selesai, mesin-mesin chainsow kembali menderu berlomba mengejar target sebelum datang tenggat waktu yang diberikan dalam instruksi gubernur tersebut. Para penegak hukum kembali tersandung penyeludupan kayu illegal. Pemerhati lingkungan hidup kembali berdemo dan mempertanyakan konsep instruksi moratorium itu.   

Berkaitan dengan itu semua, ada kepribadian yang terbelah semacam schizophrenia. Ada dua kepribadian yang tidak terhubung dalam otak orang-orang di negeri ini. Seseorang memiliki dua kepribadian yang berbeda dan berjalan sendiri-sendiri tanpa jembatan penghubung. Schizo artinya pecah atau terbelah, sedangkan phreno artinya otak. Jadi otaknya terpecah atau terbelah menjadi dua kepribadian.

Dalam Film drama A Beautiful Mind, karya Ron Howard dan Todd Hallowell, schizophrenia digambarkan sebagai penyakit psikologi yang gejala utamanya adalah delusi, alias mengalami halusinasi berlebihan sehingga kejadian khayal tampak seperti nyata. Inilah yang dialami oleh John Nash (Russel Crowe) yang selalu dihantui oleh teman-teman khayal yang hampir mengacaukan hidupnya.

Alkisah, sampai disini dulu, sebab saya juga takut dituduh schizophrenia. Silahkan menganalisa!

0 komentar:

Posting Komentar