Sepinya Kampung

Ada gejala yang terus berkembang dalam masyarakat kita, terutama dikalangan sarjana yang baru lulus dari perguruan tinggi dan baru memulai untuk masuk kedalam ujian kehidupan yang sesungguhnya setelah berhasil lulus dari ujian akademik, yaitu sebuah gejala yang cenderung mencitrakan realitas kehidupan kota ketimbang kehidupan kampung


Kota seringkali dipandang mewakili budaya yang tinggi dimana pemikiran-pemikiran baru muncul, penuh dengan kemajuan ekonomi dan modernitas. Sedangkan kampung sering dipandang sebagai simbul kemencretan ekonomi, keterbelakangan dalam pemikiran dan penuh dengan gaya hidup tradisional. Sehingga keluar istilah “kampungan”.

Realitas ini menjadikan kota cenderung mendominasi kampung, yang pada akhirnya secara kultural budaya kota pun kemudian mendominasi budaya kampung. Jangan heran jika kemudian mainstream masyarakat kita lebih condong kepada ilusi budaya kota ketimbang budaya kampung. Lebih tegas lagi bisa kita sebut bahwa kampung telah menerima “penjajahan persepsi” dari orang-orang kota yang menggambarkan kehidupan kampung menurut persepsi orang kota. Lalu muncullah idealisasi kota dimata orang kampung.


Disadari atau tidak, semakin lama kampung semakin tidak berdaya menghadapi arus dominasi kota. Ini menyerupai sebuah penindasan, baik dibidang budaya secara umum, maupun dibidang ekonomi secara khusus. Secara politik, kampung berada dalam situasi terdominasi oleh agen elit kekuasaan dari kota. Kebijakan-kebijakan pemerintahan sering ditentukan oleh penduduk kota, bukan ditentukan oleh penduduk kampung.


Ketergantungan kampung terhadap kota terus menguat sebagai implikasi kultural dari gejala dominasi kota bagi orang kampung. Dengan demikian, maka desentralisasi semakin sulit dicapai. Kampung menjadi sepi, sebab generasinya telah pergi ke kota.  
[Afrizal Akmal, 2011].

0 komentar:

Posting Komentar