Ruengkhom


Saya dikejutkan oleh teriakan istri tetangga. Pasalnya ikan yang baru saja ia letakkan di atas meja di bawa lari oleh kucing jantan yang tiba-tiba muncul entah dari mana. Beberapa waktu yang lalu, Abdul Wahab berumur 40 tahun, warga Desa Lhok Bot, Kecamatan Setia Bakti, Aceh Jaya, kritis setelah kaki kiri, punggung, tangan, dan bahunya di terkam seekor buaya saat ia menjala ikan di sungai kampung itu.

Perilaku kedua binatang tersebut di dalam bahasa Aceh disebut "Ruengkhom", yang berarti “memangsa” atau merebut sesuatu dengan cara terang-terangan sambil menunggu kelengahan. Ikan di atas meja berhasil di rebut oleh seekor kucing dengan memanfaatkan kelengahan si istri tetangga.  Kelengahan Abdul Wahab saat menjala ikan menyebabkan dia menderita dimangsa buaya.

Dalam ruang hidup yang lain, kita sering menemukan realitas dimana sesuatu yang kita miliki dengan begitu mudah berpindah tangan atau direbut oleh pihak lain. Sebut saja persoalan perebutan sumber daya alam yang kita miliki, sering kali kehilangan disebabkan oleh kelengahan kita sendiri. Untuk yang ini predatornya bukan kucing jantan, bukan pulan buaya sungai. Lebih dari itu, kita sering kehilangan sumber daya alam kita sendiri karena di rebut oleh binatang kapital lewat pasar global yang mereka ciptakan. Kapitalisme multinasional, oleh Lenin disebut dengan imperialisme.

Dalam buku berjudul “Telikungan Kapitalisme Global Dalam Sejarah Kebangsaan Indonesia,” Hasyim Wahid menjelaskan secara gamblang bagaimana pengaruh dan intervensi kapitalisme global dengan berbagai kelicikan dan kecerdikannya telah mewarnai perjalanan bangsa dan negara Indonesia.

Dalam amatan saya, gambaran kontradiksi kapitalisme dengan lingkungan hidup semakin kontras ketika negara berkembang menerima mentah-mentah mekanisme yang diajukan oleh negara maju dalam soal dampak ekologi dari kegiatan-kegiatan industri mereka. Imperialisme berkedok ekologi memenangkan peran dalam sistem kapitalisme global, yang ditandai dengan terus berlangsungnya perampasan sumber daya alam oleh negara maju terhadap negara berkembang seperti Indonesia.

Carbon trade yang pada awalnya dimaksudkan untuk memberi nilai dan harga bagi jasa hutan hujan tropis, kini berubah menjadi inisiatif jahat dan siasat jitu para jakal carbon trade. Program Reducing Emission from Deforestation and Forest Degradation (REDD), program kerja sama antara UNDP, FAO, dan UNEP pada kenyataannya tidak menyentuh akar masalah untuk menghentikan laju perusakan hutan di Indonesia, khususnya Aceh sebagai salah satu kawasan tempat berlangsungnya uji coba REDD. Program lain yang hampir serupa adalah carbon offsets dan carbon tax.

Skema geopolitik kapitalisme yang mengendarai Protokol Kyoto tampaknya juga menyerupai belenggu bagi solusi krisis lingkungan hidup global. Protokol itu tidak lain hanyalah pengintegrasian logika pasar semata dengan capaian kompromi yang teramat lunak demi memajukan kepentingan utama kapitalis.

Sebagai rakyat, kita sering lengah hingga sumber daya alam kita menjadi lahan empuk yang siap dimangsa kapan saja mereka mau.


0 komentar:

Posting Komentar