Keruntuhan Ekologi Dibalik Fakta Kerakusan Kita

Aceh sedang berada pada situasi berbahaya yang dilandasi eksploitasi. Ketakutan masyarakatnya bukan lagi disebabkan oleh perang senjata, tetapi oleh bencana ekologis. Pencemaran, banjir dan tanah longsor terus menghantui
tanpa solusi nyata dan tindakan konkrit. 

Sebagian besar dari kita belum paham bagaimana seharusnya membenahi perilaku kita sendiri. Kita hanya berputar-putar dalam lingkaran masalah yang itu-itu saja, bencana alam menjadi rutinitas yang terus saja terulang.

Fakta pentingnya adalah kerakusan kita akan materialisme dan menerimanya sebagai sesuatu yang lumrah. Bukankah untuk menjaga kelangsungan hidup dan kehidupan, kita perlu mengubah sikap terhadap materialisme? Mengapa kita, istri dan anak-anak kita menjadi pribadi-pribadi yang maskulin dan boros berbelanja?

Sejak era rezim Orde Baru sampai sekarang, kebencian kaum terdidik terhadap para peladang berpindah terus dipupuk sedemikian rupa melalui seminar-seminar dan lembaga-lembaga pendidikan formal, hingga kebanyakan dari kita telah bersikap keliru dengan memperlakukan mereka sebagai kriminal. Sementara, ketika beberapa orang dari kaum peladang berpindah itu berkunjung ke kota, mereka terperanjat menyaksikan perilaku orang-orang terdidik merusak alam dengan bangunan jalan raya dan mall.

Harusnya kita memetik pelajaran, bahwa para peladang berpindah mungkin telah berburu satwa dan menebang pepohonan. Tetapi sebuah nilai kearifan mungkin mereka junjung ketika persediaan daging dan kayu telah mencukupi. Namun kaum terdidik di kota lupa untuk mewakili nilai-nilai kemanusian sejati.

Catatan ini adalah refleksi terhadap lingkungan hidup dan sekaligus apresiasi saya kepada Direktur Walhi Aceh TM. Zulfikar yang mengangkat tajuk bahwa Aceh sebenarnya telah berada dalam situasi darurat ekologi.

0 komentar:

Posting Komentar